Jaring Cerdas dari "Negara Kiwi"

Senin, 16 April 2018, 00:10 WIB

Jaring

AGRONET – Selandia Baru telah menjadi langganan masuk sepuluh besar sebagai negara yang penduduknya paling berbahagia di dunia. Negara yang dikenal dengan burung kiwinya, pendapatan per kapita penduduknya sekitar sepuluh kali lebih besar dari Indonesia. Sekitar Rp 495 juta.

Salah satu ciri negara maju yang penduduknya telah mencapai taraf ”bahagia” adalah kejujuran dan bersahabat dengan lingkungan. Tidak heran jika Selandia Baru beberapa tahun belakangan serius mengembangkan jaring untuk menangkap ikan di laut.

Semua pihak dilibatkan, dari pemerintah, perguruan tinggi hingga kalangan bisnis. Semua merasa berkepentingan untuk mengembangkan jaring penangkap ikan yang selama ini dianggap masih bermasalah.

Dengan jaring yang sekarang biasa digunakan, jaring konvensional, ketika jaring sampai di atas kapal, jumlah ikan yang hidup hanya sekitar 20%. Artinya, sekitar 80% ikan mati ketika sampai di atas kapal. Ini disebabkan ikan saling tergencet di dalam jaring. Akibatnya, ketika sampai di pasar, kesegaran ikan telah berkurang.

Selain itu, dengan menggunakan jaring konvensional, ikan yang ukurannya kecil juga turut tertangkap. Padahal, ikan berukuran kecil ini belum waktunya ditangkap. Lebih celaka lagi jika ikan kecil ini juga turut mati ketika sampai di atas kapal.

Masalah lain, ikan jenis lain yang sebenarnya tidak menjadi sasaran turut terperangkap jaring. Ikan kecil dan ikan jenis lain yang telah mati ketika sampai di atas kapal, tidak mungkin dibuang kembali ke laut. Karena aturan memang melarang.

Setelah sekitar enam tahun melakukan penelitian dan pengembangan, serta menghabiskan biaya sekitar Rp 500 milyar, akhirnya Selandia Baru berhasil menciptakan sebuah jaring yang memiliki teknologi PSH (Precision Seafood Harvesting). Teknologi ini adalah teknologi perikanan baru yang disebut sebagai "masa depan penangkapan ikan berkelanjutan”. Teknologi ini sekaligus juga merupakan langkah revolusioner cara menangkap ikan.

Jika kita lihat jaring ini, sebenarnya tidak ada yang luar biasa. Jaring ini dibuat dari bahan PVC (Polyvinyl chloride), yaitu polimer termoplastik yang telah banyak dipakai di seluruh dunia. PVC umumnya dipakai sebagai bahan pembuatan pipa, atap, jendela, pintu, dan insulasi kabel. Bahan ini relatif murah, tahan lama, dan mudah dibentuk.

Perbedaan yang paling mencolok jika dibandingkan dengan jaring model konvensional, jaring berbahan PVC ini mempunyai lubang-lubang kecil yang disebut sebagai ”jendela”. Ikan-ikan berukuran kecil yang ikut tertangkap oleh jaring ini dapat keluar meloloskan diri lewat ”jendela”.

Selain itu, jaring berbahan PVC ini juga dapat ”menangkap” air. Ketika jaring ditarik ke atas kapal, jaring ini layaknya sebuah tabung besar yang di dalamnya terdapat air dan ikan. Sehingga ikan-ikan yang tertangkap masih dapat berenang di dalam jaring dalam kondisi sempurna. Dengan demikian tingkat kematian ikan dapat ditekan serendah mungkin. Keuntungan lain adalah ikan masih segar ketika dijual karena masih dalam keadaan hidup. Nilai produk pun menjadi lebih tinggi.

Dengan menggunakan jaring ini, tingkat kematian ikan di atas kapal tidak lebih dari 10%. Ikan-ikan kecil yang turut tertangkap dan tidak sempat meloloskan diri lewat ”jendela” dapat dikembalikan ke laut, karena masih hidup.

Demikian juga dengan ikan yang tidak ingin ditangkap dan hewan laut lain, seperti hiu dan ikan pari. Semuanya dikembalikan lagi ke laut dalam keadaan hidup. Sehingga, keseimbangan kehidupan bawah laut dapat lebih dijaga. Jaring ini jelas lahir dari sebuah ide yang cerdas, tindakan cerdas, dan memberikan hasil yang cerdas. Lainnya, jaring ini juga bukti perhatian serius pemerintah Selandia Baru untuk kepentingan negara dan rakyatnya. (555)

 

 

BERITA TERKAIT