Satelit Pencari Ikan, Bagai Mata di Langit

Minggu, 06 Mei 2018, 10:46 WIB

Pencitraan satelit pencari ikan di laut

AGRONET – Sudah sejak dulu nenek moyang kita terkenal sebagai pelaut yang ulung. Dengan perahu pinisi, mereka mengarungi samudra hingga ke ke benua lain. Mereka menempuh jarak lebih dari 10.000 km dengan mengandalkan alat navigasi yang masih sangat sederhana.

Sebagai pelaut, sudah barang tentu salah satu mata pencarian mereka adalah sebagai nelayan. Bisa jadi menangkap ikan di laut cukup mudah. Apalagi laut di wilayah Indonesia kaya akan berbagai jenis ikan. Namun masalahnya, bagaimana jika nelayan ingin menangkap ikan jenis tertentu. Bukan sebarang ikan.

Jaman dulu, nelayan belum menggunakan bahan bakar untuk penggerak perahu. Mereka masih menggunakan layar dengan mengandalkan tiupan angin. Sebagai petunjuk keberadaan ikan, bisa saja mereka mengandalkan tanda-tanda alam seperti halnya nelayan di Maladewa. Namun, saat ini cara seperti itu jelas tidak efisien.

Nelayan harus menjelajahi laut Indonesia seluas 3.273.810 km2 dengan bentangan 5.271 km, jarak Sabang ke Merauke. Jelas suatu pemborosan, bahan bakar dan waktu. Perkembangan teknologi telah memudahkan pekerjaan nelayan. Salah satunya adalah dengan bantuan satelit.

Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) misalnya. Satelit ini merupakan satelit meteorologi seri ke-3 milik Amerika Serikat yang mengorbit pada ketinggian 833 – 870 km. Satelit ini mampu mengindera suatu daerah dua kali dalam 24 jam.

Satelit NOAA dapat diandalkan untuk memperoleh informasi keadaan fisik laut dan atmosfer, karena dilengkapi dengan enam sensor utama. Salah satunya adalah AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer) sebagai sensor radiasi yang dapat digunakan untuk untuk memperkirakan cuaca harian dan membuat peta suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature Maps).

Satelit seperti NOAA ini bagai mata kedua bagi nelayan yang mencari ikan di laut. Satelit akan memantau kondisi laut tertentu. Umumnya data yang diperoleh dari satelit dalam bentuk warna yang bermacam-macam.

Setiap warna memberikan informasi seperti suhu laut, tingkat kejenihan air laut, dan konsentrasi klorofil. Di negara maju, para penangkap ikan untuk keperluan komersial tidak hanya mengandalkan data dari satu satelit. Beberapa hari sebelum berangkat melaut, mereka telah mengumpulkan data paling tidak dari enam satelit. Data-data ini kemudian diolah oleh tim ahli.

Data dari satelit yang diperoleh selama beberapa hari ini berguna untuk melihat kecenderungan perubahan kondisi laut. Karena, bukan tidak mungkin data yang diperoleh beberapa jam sebelumnya tidak akan sama dengan kondisi nyata di laut pada saat nelayan tiba di titik pemancingan. Kondisi air dapat berubah dalam hitungan jam. Jadi, dengan membaca data satelit, tim ahli akan membuat sebuah prediksi kondisi yang paling ideal untuk menangkap ikan.

Suhu air laut sangat menentukan keberadaan ikan tertentu. Misalnya, ikan tuna sirip biru, menyukai laut pada suhu 15,5 – 21 derajat Celcius. Tapi ikan marlin biru umumnya ada pada air dengan suhu 74 – 28 dejarat Celcius.
Di musim panas, air yang lebih dingin menampung lebih banyak oksigen dan ikan. Hujan badai juga membuat air menjadi lebih dingin. Sebaliknya, di musim dingin, air hangat adalah kuncinya.

Selain suhu air laut, kondisi kejernihan air juga berpengaruh. Air dengan tingkat konsentrasi klorofil yang tinggi, membuat air menjadi kurang jernih. Klorofil (zat hijau daun) ini terdapat pada jenis plankton tertentu. Seperti diketahui bahwa plankton merupakan makanan ikan.

Walaupun plankton adalah makanan ikan, namun ada ikan tertentu yang lebih menyukai air dengan kejernihan tertentu. Seperti ikan marlin yang lebih menyukai air bersih, air biru. Untuk ikan tuna, air juga harus jernih tapi tidak harus biru.

Selama airnya tidak ”berawan”, ikan tuna masih dapat ditemukan. Pada air biru dengan suhu antara 22 dan 27 derajat Celcius adalah yang terbaik untuk blue marlin. Namun pada air hijau yang jernih masih dimungkinkan ditemukan marlin biru.

Faktor cuaca juga harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi kondisi air laut. Kondisi angin, suhu udara, hujan, dan faktor cuaca lain, dapat mengubah kondisi air laut. Angin misalnya. Menurut salah seorang ahli, diperlukan waktu enam hingga dua belas jam agar angin memberikan efek pada kondisi air laut. Oleh sebab itu, data dari satelit cuaca juga diperlukan, untuk selanjutkan dipakai untuk melengkapi data kondisi air laut.

Contoh lain, di musim panas misalnya. Air laut menjadi lebih hangat. Ini membuat nelayan mencari angin lepas pantai yang dapat membawa air dingin ke permukaan dekat pantai. Hujan atau kekeringan di darat juga dapat berdampak pada air yang jauh di lepas pantai karena dapat mengubah sirkulasi atmosfer.

Secara umum, dari data kondisi air laut dan cuaca, ingin diketahui berapa lama kondisi air stabil di suatu daerah. Semakin lama kondisi yang menguntungkan bertahan di satu tempat, semakin baik untuk memancing. Kondisi air stabil ini dapat digambarkan secara sederhana sebagai air yang menetap lama di suatu area di laut. Air semacam ini berpotensi mengumpulkan ikan.

Sebenarnya, selain satelit terdapat pula alat pelacak ikan (fish finder). Alat ini menggunakan teknologi suara. Jadi, alat ini memancarkan gelombang suara di bawah permukaan laut dan kemudian pantulannya diterima dan selanjutnya dianalisa. Alat ini cukup membantu nelayan untuk mencari ikan. Namun, jarak pantauannya sangat sempit.

Untuk pencarian dalam jarak yang jauh, hingga saat ini data satelit tetap yang paling dapat diandalkan. Meskipun begitu, pengalaman nelayan mencari ikan di laut yang dilengkapi dengan data satelit, akan membuat pencarian ikan di laut lebih akurat dan efisien. (555)