Tanam Padi di Gurun Pasir

Minggu, 17 Juni 2018, 04:41 WIB

Tanam Padi di Gurun Pasir | Sumber Foto:polska-azja.pl

AGRONET – Para ilmuwan telah sejak lama berusaha mencari jalan keluar untuk menjawab tantangan krisis produksi pertanian. Pertambahan jumlah penduduk, dampak perubahan iklim, berkurangannya pasokan air tawar, dan berkurangnya lahan subur pertanian, adalah masalah terbesar dalam bidang pertanian.

Salah satu yang telah dilakukan adalah dengan membuat vertical indoor farming di perkotaan. Walaupun memiliki beberapa kelebihan seperti bebas hama dan kualitasnya lebih baik, namun biayanya sangat mahal.

Usaha lain juga telah dilakukan, seperti di beberapa negara Timur Tengah. Lewat proyek yang diberi nama Sahara Forest Project (Proyek Hutan Sahara), proyek ini bertujuan untuk menyediakan air tawar, makanan, dan energi terbarukan di daerah gurun yang panas dan kering.

Proyek ini menggunakan rumah kaca yang didinginkan oleh air laut dengan teknologi energi matahari. Air laut harus dipompa dengan  menggunakan energi matahari dan kemudian diubah menjadi air tawar untuk keperluan irigasi, setelah melalui proses desalinasi. Di dalam rumah kaca juga dihembuskan udara sejuk dan lembab untuk mengurangi penguapan tanaman.

Hasil Sahara Forest Project cukup menggembirakan. Tapi, lagi-lagi biayanya sangat mahal. Oleh sebab itu perlu diupayakan cara lain yang lebih efisien.

Belum lama ini tim ilmuwan dari Cina yang dipimpin oleh Yuan Lonping, ”Bapak Padi Hibrida” Cina, berhasil menanam dan memanen padi di gurun pasir. Usaha ini diawali dengan mengembangkan benih yang memungkinkan padi dapat tumbuh di air asin. Tepatnya, toleran terhadap garam.

Pada Januari lalu, tim ilmuwan Cina ini mencoba menanam lusinan jenis padi hibrida di petak-petak kecil di daerah gurun pasir, di pinggiran kota Dubai. Di tempat ini, air tawar begitu berharga, sehingga terlalu berharga jika hanya dipakai untuk mengairi tanaman padi yang memang membutuhkan banyak air.

Perlu diketahui iklim gurun di Dubai sangat keras untuk pertumbuhan padi. Suhu pada siang hari dapat melewati 50 derajat Celcius. Pada malam hari suhu dapat turun 30 derajat. Sementara kelembaban di bawah 20 persen. Artinya, udara di Dubai sangat kering. Belum lagi ancaman badai pasir. Selain itu, tanah gurun sangat sedikit mengandung bahan organik serta tidak dapat mempertahankan kelembaban tanah karena murni pasir dan tidak berstruktur granular. 

Setelah lima bulan masa pertumbuhan padi, tim ilmuwan Cina ini mengundang para ahli dari India, Mesir, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lain untuk melakukan evaluasi. Ternyata padi yang ditanam di padang pasir ini memberikan hasil yang lebih baik dari yang diperkirakan. Ada tiga jenis padi yang dapat memberikan hasil panen lebih dari 6 ton per hektar. Hasil ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata hasil panen padi di dunia yang menghasilkan 3 ton per hektar.

Keberhasilan ini membuat tim ilmuwan dari Cina berencana untuk melanjutkan percobaan dengan memperluas sawah di gurun pasir menjadi 100 hektar. Jika usaha ini memberikan hasil yang memuaskan, sawah di gurun pasir akan terus diperluas hingga 10 persen dari luas Uni Emirat Arab yang memiliki luas wilayah 83.600 km persegi.

Menurut kantor berita Cina Xinhua, proyek percobaan di Dubai ini merupakan kerja sama antara pusat riset padi Cina yang berbasis di Qingdao dan perusahaan milik Sheikh Saeed bin Ahmed al-Maktoum, anggota keluarga kerajaan Dubai. Jika proyek ini sukses, kedua pihak sepakat untuk mengembangkan padi toleran air asin ini ke seluruh jazirah Arab untuk mengantisipasi ancaman kekurangan pangan di masa depan.

Penelitan padi air asin ini sebenarnya diawali sejak 1970-an. Saat itu seorang ilmuwan bernama Chen Risheng secara tidak sengaja menemukan spesies padi liar yang tumbuh dekat sebuah hutan bakau di provinsi Guangdong.

Perlu diketahui bahwa Cina memiliki sekitar satu juta hektar tanah kosong -sekitar seluas Etiopia- yang tak dapat ditanami karena kandungan kadar garam dan keasamannya yang tinggi. Andaikata sepersepuluh saja dari luas tanah itu dapat ditanami padi, maka produksi beras Cina dapat naik hingga 20 persen atau sekitar 50 juta ton. Ini cukup untuk memberi makan 200 juta orang.

Setelah melewati penelitian selama empat dekade dan mengembangkan delapan spesies padi, hasil yang memuaskan juga belum dapat diperoleh. Baru tahun lalu tim ilmuwan ini berhasil mendapatkan hasil panen sampai 4,5 ton per hektar.

Pada musim gugur tahun lalu, hasil panen padi air asin yang ditanam di pantai dekat Qingdao telah dijual di pasaran Cina. Respon pasar menggembirakan. Mereka yang telah mencicipi beras ini merasa cukup puas dengan kualitas dan rasa nasi yang dihasilkan. Ingin coba ? (555)