Lebih Subur dengan Batu Apung

Minggu, 29 Juli 2018, 10:42 WIB

Batu apung | Sumber Foto:dreamstime.com

AGRONET – Musim kemarau selalu menimbulkan masalah bagi petani. Salah satunya adalah ketersediaan air untuk irigasi. Begitu banyak panen gagal karena tidak cukupnya air untuk mengairi lahan pertanian. Terutama di lahan yang memang kering.

Belum lama ini sebuah batu apung jenis khusus telah ditemukan di Jepang, negara yang tidak pernah lelah berinovasi. Batu apung jenis khusus ini dikembangkan di sebuah pabrik daur ulang di Hokuei, di prefektur Tottori, Jepang bagian barat.

Batu apung jenis khusus ini dibuat dari campuran botol kaca dan kulit kerang. Botol kaca dikumpulkan dari sampah rumah tangga. Paling tidak dalam sebulan dapat terkumpul 60 sampai 70 ton botol kaca.

Sepintas batu apung jenis mirip dengan batu apung yang sering kita jumpai. Namun, batu apung jenis khusus ini memiliki daya serap air yang tinggi. Jika sepotong batu apung jenis khusus ini kita celupkan ke dalam air, maka dalam sekejap batu apung ini akan segera menyerap banyak air. Batu apung ini memiliki banyak sekali pori-pori yang dapat menahan banyak air di dalamnya.

Menurut Michihiro Yamashita, Direktur Pelaksana Eksekutif perusahaan daur ulang ini, pori-pori pada batu apung jenis khusus ini sangat vital. Pori-pori tersebut untuk menahan air dan tempat bagi bakteri. Batu apung ini mempunyai bobot yang ringan karena memiliki banyak pori-pori.

Untuk dapat menghasilkan banyak pori-pori, digunakan kulit kerang. Memang, rahasia dari kemampuan penyerapan air yang tinggi ini terletak pada pemakaian kulit kerang sebagai salah satu materialnya. Kulit kerang diproses menjadi bubuk dan kemudian dicampur dengan botol kaca yang telah dihancurkan.

Campuran botol kaca dan kerang lalu dibakar pada suhu tinggi sehingga gas karbon dioksida lepas dari bubuk kulit kerang. Hasilnya adalah batu apung jenis khusus dengan pori-pori kecil yang jumlahnya sangat banyak.

Batu apung ini awalnya diproduksi sebagai bahan baku untuk konstruksi pembuatan jalan dengan memanfaatkan keringanan dan kekuatannya. Namun penjualannya tidak menggembirakan, jauh dari harapan. Persediaan di gudang terus menumpuk.

Tim R&D dari perusahaan ini kemudian menyodorkan gagasan untuk memanfaatkan batu apung jenis khusus ini di bidang pertanian. Tujuannya, memanfaatkan daya serap batu apung yang tinggi ini di lahan kering pertanian.

Pada tahun 2015 dilakukan eksperimen di Maroko, Afrika Utara bersama dengan badan kerjasama internasional jepang, JICA. Batu apung jenis khusus ini dibuat menjadi potong-potongan kecil dan dicampur dengan tanah berpasir. Hasilnya, batu apung banyak menyerap air hujan dan membantu meningkatkan kualitas penyerapan air tanah. Tomat dan tanaman sayuran lain yang ditanam, tumbuh dengan subur, dengan lebih sedikit pasokan air dibandingkan biasanya.

Pemakaian batu apung ternyata dapat memberikan hasil panen yang baik. ”Permintaan batu apung kami melonjak dari daerah yang mengalami kekurangan air. Daerah itu adalah kawasan miskin dan lahan kering di dunia. Saya berharap batu apung kami berguna di tempat-tempat tersebut,” ujar Yamashita.

Di prefektur Tottori terdapat pusat penelitian lahan kering Universitas Tottori. Letaknya dekat dengan bukit-bukit kecil pasir pantai yang disebut Tottori Sakyu. Bukit-bukit pasir ini adalah yang terbesar di Jepang dan merupakan tujuan wisata. Inisiatif penggunaan batu apung dimulai tempat ini pada tahun 2017, untuk sebuah percobaan peningkatan produksi gandum.

Para peneliti berharap masalah pangan pada lahan kering di seluruh dunia akan membaik secara signifikan dengan menggunakan batu apung. Khususnya untuk menanam sayuran dan gandum yang merupakan makanan pokok.

Prof Hisashi Tsujimoto, seorang peneliti Pusat Penelitian Lahan Kering (Arid Land Research Center) Universitas Tottori yang bekerja untuk proyek ini mengatakan, ”Misi utama kami adalah untuk meningkatkan tanaman itu sendiri. Namun ketika saya mendengar untuk pertama kali teknlogi yang menggunakan batu apung jenis khusus untuk menghemat air, ini benar-benar membuat mata saya terbuka”.

Pada percobaan itu Prof Tsujimoto menyiapkan 2 jenis tanah; campuran tanah dengan batu apung dan tanah tanpa batu apung. Ini untuk membandingkan perbedaan pertumbuhan gandum. Untuk kasus ini, tanaman gandum dengan sedikit pasokan air diperkirakan akan mengalami kekeringan.

Di akhir percobaan, gandum yang ditanam tanpa menggunakan batu apung, sebagian besar mati. Daun-daunnya menjadi coklat dan paku gandumnya menghitam. Jika menghasilkan biji-bijian, hasilnya sedikit saja.

Namun tanaman gandum yang ditanam pada media tanah yang dicampur batu apung, memberikan hasil yang memuaskan, Tanaman gandum menghasilkan biji-bijian yang cukup walaupun jumlah air dikurangi. Ini membuktikan penggunaan batu apung jenis khusus dapat membantu pertumbuhan gandum menjadi lebih baik, walaupun pasokan air berkurang sampai 30 persen.

Proyek penggunaan batu apung untuk menumbuhkan sayuran dan buah telah dimulai di 10 negara, di antaranya; Cina, India, dan Kenya. Sejak April 2018 metode ini telah dikenalkan di Peru, Amerika Selatan dan diharapkan dapat diperluas penerapannya ke negara lain. Pada tahun depan, percobaan budidaya gandum akan dilakukan di di Afrika.

Namun demikian, masih terdapat kendala untuk memperluas pemakaian batu apung jenis khusus ini, yaitu pada biaya yang cukup mahal. Jika batu apung jenis khusus ini dijual di luar Jepang, harganya 50 Yen atau sekitar 0,44 dolar Amerika per liter. Termasuk pengiriman dan biaya lainnya.

Sepintas tidak terlihat mahal. Namun kenyataan di lapangan, diperlukan jumlah batu apung yang banyak untuk dapat mencakup seluruh area lahan pertanian. Selain itu, batu apung yang ada saat ini masih efektif dipakai hingga 10 tahun ke depan. Bahkan dapat di perpanjang hingga 20 atau 30 tahun ke depan.

Prof Tsujimoto berharap batu apung yang dibuat di provinsi Tottori dapat memberikan panen yang berlimpah di pertanian lahan kering di seluruh dunia. ”Saya yakin ini akan menjadi teknologi inovatif yang sesungguhnya. Saya bermimpi tentang sebuah masa depan dimana lebih banyak pangan yang diproduksi dengan sedikit air,” ujar Tsujimoto. Sugoi ! Doumo Arigatou Gazaimasu .... (555)

 

 

 

 

 



 

BERITA TERKAIT