Teknologi Robotik di Pertanian Rumah Kaca

Senin, 05 November 2018, 14:05 WIB

Pemakaian teknologi robotik di pertanian rumah kaca lambat laun akan menggantikan peran manusia | Sumber Foto:Iron-Ox

AGRONET – Kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian sungguh mengkhawatirkan. Bagaimana tidak ? Masalah pertumbuhan penduduk yang meningkat signifikan, perubahan iklim dunia, meningkatnya lahan kering, dan berkurangnya pasokan air tawar hingga hari ini belum tuntas terselesaikan.

Salah satu solusi yang sampai hari ini terus dikerjakan dan dikembangkan adalah pertanian rumah kaca (vertical indoor farming). Cara ini sejak awal telah melibatkan banyak penggunaan teknologi. Walaupun demikian, pertanian rumah kaca masih memiliki masalah yang sama dengan pertanian konvensional. Persoalan tenaga kerja.

Pertanian rumah kaca diyakini dapat memberi banyak keuntungan sebagai sumber makanan bersih dan hijau, bebas hama, kekeringan, dan pengurangan penggunaan transportasi dan bahan bakar fosil. Kegiatan pertanian rumah kaca juga dapat dilakukan di dalam ruangan perkantoran.

Keunggulan lain, pertanian rumah kaca hampir tidak mengenal gagal panen karena cuaca, seperti hujan terus menerus atau kekeringan. Perubahan iklim yang tidak menentu, juga bukan ancaman. Bahkan, kualitas produk yang dihasilkan pertanian rumah kaca lebih unggul dari hasil pertanian biasa. Negara dengan teknologi pertanian yang maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, telah giat mengerjakan indoor farming dengan serius dan melibatkan teknologi modern.

Pertanian memang tidak dapat lepas dari campur tangan teknologi. Sebagai contoh, pada tahun 1790, 90 persen tenaga kerja di Amerika Serika adalah petani. Namun, pada tahun 2012, hanya 1,5 persen dari total tenaga kerja yang menjadi petani. Walaupun demikian, Amerika Serikat tetap dapat menyediakan makanan bagi seluruh penduduknya, yang saat itu berjumlah sekitar 313 juta jiwa. Ini adalah hasil pemakaian teknologi di bidang pertanian. Pemakaian teknologi di bidang pertanian telah membuat pertanian secara eksponensial lebih murah dan lebih produktif.

Saat ini sebuah revolusi di bidang pertanian siap untuk menjalani kehidupan yang sama sekali baru, berkat teknologi robotik. Di sebuah taman kantor di Silicon Valley, sebuah startup bernama Iron Ox sedang disiapkan memasuki pertanian rumah kaca, yang selama ini belum tersentuh otomatisasi. Teknologi robotik ini memang sengaja disiapkan untuk menjawab kurangnya tenaga kerja di pertanian rumah kaca.

Tidak seperti kebanyakan pertanian dalam ruangan yang menggunakan LED (Light Emitting Diode), Iron Ox masih tertarik untuk memanfaatkan energi matahari. ”Masalahnya, hingga hari ini biaya produksi di dalam rumah kaca masih sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan pertanian luar ruangan,” kata Brandon Alexander, CEO Iron Ox.

Untuk menangani pekerjaan di dalam rumah kaca, telah dirancang robot pintar dengan design khusus. Robot ini diharapkan dapat mengganti peran manusia untuk menangani pekerjaan pertanian dalam rumah kaca.

Baki-baki tempat tanaman tumbuh juga dirancang khusus sesuai dengan jenis tanaman. Sayuran dengan daun yang lebar pasti membutuhkan ruang horizontal yang lebih luas untuk berkembang. Robot akan mengerjakan pemindahan tanaman dari baki dengan jarak lubang yang berdekatan pada saat tanaman baru ditanam ke baki dengan jarak lubang yang lebih lebar dengan menggunakan alat pemegang khusus.

Robot dilengkapi dengan kamera stereo agar dapat melihat 3 dimensi. Melalui kamera ini, robot akan menganalisa setiap tanaman dan kemudian menentukan kapan harus dipindah ke baki dengan jarak lubang yang lebih lebar.
Tidak hanya itu. Robot juga dapat menentukan apakah cahaya dan udara yang masuk telah cukup, dengan cara melihat bintik-bintik coklat pada tepi daun. Perusahaan pengembang sistem iron Ox juga tengah mengerjakan algoritma pembelajaran mesin mah kaca sebelum terjadi penyebaran penyakit.

Robot akan mengerjakan semua pekerjaan manusia berulang-ulang tanpa mengenal rasa bosan. Hasilnya, robot akan dapat mengerjakan tugas-tugas ini lebih cepat, akurat, dan efisien dibandingkan manusia.

Iron Ox mengklaim sistem hidroponiknya menggunakan 90 persen lebih sedikit air dibandingkan pertanian luar ruang. Hal ini akan membuat pertanian tradisional luar ruang lambat laun akan ditinggalkan karena tidak efisien. Apalagi mengingat perubahan iklim global dan pasokan air tawar yang akan semakin terbatas.

Kehadiran robot di pertanian rumah kaca memang tidak dapat dihindari, karena kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian semakin nyata. ”Kenyataannya, tidak peduli negara apa, generasi yang lebih baru tidak bertani. Jadi ada kekurangan tenaga kerja yang signifikan,” jelas Alexander. Di Amerika Serikat saja, antara tahun 2002 dan 2014 telah terjadi kehilangan tenaga kerja petani purna waktu sebanyak 20%.

Solusinya, hanya dengan cara menyerahkan masa depan pasokan makanan kita ke mesin-mesin robot. Jangan kaget jika suatu waktu sayuran yang kita makan, ditanam dan dipanen oleh robot-robot pekerja. (555)

BERITA TERKAIT