Cara Pintar Memelihara Ikan di Laut

Selasa, 18 Desember 2018, 23:48 WIB

KJA Offshore Submersible adalah solusi untuk budidaya ikan di lepas pantai yang tahan terhadap badai dan ombak yang tinggi | Sumber Foto:aquatec.co.id

AGRONET – Memelihara ikan di habitat aslinya –danau, sungai, laut, dan waduk- telah lama dilakukan orang dengan menggunakan keramba. Awalnya orang menggunakan kayu sebagai kerangka keramba dan jaring atau kawat sebagai tempat memelihara ikan.

Namun, keramba dengan menggunakan kayu tidak tahan lama. Masa pemakaiannya hanya sekitar 3 sampai 5 tahun. Kayu menjadi lapuk karena selalu terendam air. Selain itu, pemakaian kayu juga dikhawatirkan akan membuat hutan semakin tergerus. Pemakaian styrofoam juga dihindari karena tidak ramah lingkungan.

Dibandingkan dengan sungai dan danau, memelihara ikan di laut dengan menggunakan keramba lebih sulit. Khususnya di laut yang memiliki ombak yang tinggi dan kadang sesekali muncul badai. Keramba dapat hancur berantakan dihantam ombak. Ikan di dalamnya akan lepas dan kerugian pasti terjadi.

Melihat kenyataan tersebut, dibuatlah keramba yang dapat mengatasi ombak tinggi dan badai. Apalagi melihat permintaan keramba untuk di laut semakin banyak. Salah satu perusahaan di Indonesia, Aquatec misalnya, telah memproduksi keramba tahan ombak dan badai dengan bahan dasar HDPE (High Density Poly Ethylene). Keramba yang populer dengan nama Keramba Jaring Apung (KJA) ini diklaim tahan lebih dari  15 tahun dan ramah terhadap lingkungan.

BERITA TERKAIT

KJA memang dirancang tahan menghadapi cuaca ekstrim di perairan lepas pantai. Khususnya ombak dengan ketinggian di atas 5 meter. Agar daya tahan KJA menghadapi ombak terjamin, bahan baku KJA harus menggunakan Poly Ethylene (PE) baru, bukan daur ulang. Kekuatan tarik PE baru jauh lebih baik dibandingkan PE daur ulang. Untuk membuat daya tahannya lebih optimal, ditambakan lagi anti UV (Ultra Violet).

KJA yang menggunakan PE baru, umumnya dapat dibedakan hanya dengan melihat warnanya. Biasanya KJA dengan PE baru menggunakan warna cerah seperti biru dan kuning.  Pemilihan warna cerah ini agar penyerapan panas akibat paparan sinar matahari dapat dikurangi. Hasilnya, keramba lebih sejuk dan nyaman untuk nelayan bekerja.

KJA tersedia dalam berbagai ukuran, dari diameter 10 meter hingga 60 meter. Bergantung pada kebutuhan. Khususnya jenis dan jumlah ikan yang akan dibudidayakan. Selain itu, pabrik telah membuat suatu mekanisme pengangkatan jaring untuk dibersihkan tanpa menggunakan crane. Pabrik sadar betul pekerjaan mengangkat dan membersihkan jaring adalah yang paling berat dalam merawat keramba.

Itu belum cukup. Karena keramba ditaruh dihabit asli ikan, maka KJA harus menjamin keamanan ikan di dalamnya dari ancaman predator alami. Oleh sebab itu KJA telah dilengkapi dengan jaring ganda yang dipasang dengan jarak tertentu untuk mengganggu penglihatan predator sekaligus keamanan lebih terjamin.

Pada aplikasinya di laut, ternyata para pengusaha budidaya ikan lebih memilih menggunakan KJA bundar dengan ukuran besar. Hal ini dapat dipahami karena semakin besar ukuran KJA bundar maka biayanya semakin efisien. Sebagai contoh, KJA dengan diameter 10 m dapat menghasilkan 9 ton ikan, namun KJA dengan diameter 20 m dapat menghasilkan 36 ton ikan.

Namun semakin besar ukuran KJA, dibutuhkan jangkar yang lebih besar. Biasanya dibutuhkan 4 jangkar. Tapi, pemakaian 4 jangkar membuat pemborosan. Pabrik melakukan inovasi dengan hanya menggunakan 1 jangkar untuk menambatkan KJA dengan memodifikasi rangka KJA menjadi bentuk segitiga.

Rangka segitiga ini berguna untuk meminimalisir efek dorongan arus air. KJA akan selalu menyesuaikan arah keramba menghadap arah arus. Pada posisi ini efek dorongan air paling minimum. Jangkar yang dipasang pada ujung rangka segitiga menggunakan teknologi khusus dan terhubung dengan pelampung yang berguna untuk meminimalisir pergerakan tali ketika keramba didorong oleh arus air laut.

Seiring dengan kebutuhan, KJA juga terus berkembang. Seperti diketahui badai sering terjadi di Asia Tenggara, khususnya di Vietnam, Filipina, dan Cina bagian selatan. Jika badai muncul, ketinggian ombak dapat di atas 10 m dan dapat menghancurkan KJA.

Lagi-lagi lahir inovasi baru. Untuk mengatasi badai semacam ini, dibuatlah KJA yang dapat ditenggelamkan. KJA semacam ini disebut dengan KJA Offshore Submersible dan khusus untuk budidaya ikan di daerah lepas pantai yang rawan badai.

KJA Offshore Submersible dapat ditenggelamkan hingga 10 sampai 20 meter di bawah permukaan air laut, sehingga mampu menghindari efek badai dan ombak ekstrim. Proses penenggelamannya pun hanya butuh waktu kurang dari 5 menit, tanpa perlu ditunggu. Sehingga penenggelaman beberapa KJA Offshore Submersible dapat dilakukan secara pararel.

Jika badai telah lewat, KJA Offshore Submersible dapat diapungkan lagi kurang dari 10 menit. Pekerjaan penenggelaman sederhana saja, cukup dengan membuka katup. Sedangkan pengapungan  KJA Offshore Submersible, dilakukan dengan menggunakan kompresor.

KJA Offshore Submersible juga dirancang untuk memudahkan pekerjaan memanen ikan atau membersihkan jaring. Caranya dengan mengapungkan rangka bawah KJA Offshore Submersible. Jaring jaring keramba akan naik ke permukaan. KJA Offshore Submersible telah diujicoba di daerah Cina Selatan dengan ketinggian ombak di atas 10 meter.

Saat ini tersedia berbagai bentuk KJA. Ada KJA segi empat, oktagonal, bundar multisection, offshore heavy duty, jangkar tunggal, dan jenis lainnya. Jadi, sekarang apapun jenis ikannya -kerapu bebek, kerapu macan, kakap putih, kakap merah, bawal bintang, cobia atau ikan hias seperti Nemo ocelaris, Nemo percula, Blue devil, kuda laut, dan teripang- telah aman dibudidayakan dihabitat aslinya dengan menggunakan KJA. (555)

BERITA TERKAIT