Agrowisata Aren, Desa Kekait Lombok Barat

Minggu, 23 Juni 2019, 22:15 WIB

Agrowisata Desa Kekait Lombok Barat | Sumber Foto:lomboknews

AGRONET – Gempa bumi tidak membuat masyarakat Lombok terpuruk. Mereka segera bangkit membangun daerahnya. Contohnya seperti yang terjadi di Kecamatan Gunungsari, Desa Kekait, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat di sana mengembangkan agrowisata gula aren.

Potensi gula aren di Kabupaten Lombok Barat memang patut dicungi jempol. Pada tahun 2016, sekitar 2.058 pengrajin gula aren di Kabupaten Lombok Barat menghasilkan 1.400 ton gula aren.

Selama ini pengrajin di Kabupaten Lombok Barat hanya memanfaatkan air pohon aren (atau enau) untuk dijadikan bahan baku gula merah dan gula semut. Sebagian ada yang menjual air nira sebagai minuman segar. Dari pohon aren yang tersebar di Kecamatan Gunungsari, Batulayar, Narmada, dan Lingsar, dan dalam satu hari dapat dihasilkan air nira sebanyak 10.000 liter.

Gula aren diperoleh dengan cara menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar. Tandan ini sebelumnya dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Kemudian tandan dipotong dan ujungnya digantung. Cairan yang menetes ditampung. Cairan manis yang diperoleh ini biasanya disebut nira (legen atau saguer). Warnanya agak keruh.

Jika air nira ini dimasak hingga mengental, akan menjadi gula cair. Namun jika ke dalam gula cair ini ditambahkan bahan pengeras, maka gula akan membeku menjadi bongkahan gula aren. Untuk membuat menjadi gula semut (gula aren kristal), ke dalam air nira ditambahkan minyak kelapa.

Pengembangan agrowisata aren di desa Kekait ini salah satunya ditujukan untuk mengoptimalkan potensi pohon aren sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani phon aren. Para pengunjung agrowisata ini dapat melihat langsung panen air nira dan proses pembuatannya menjadi gula merah dan gula semut. Pengunjung agrowisata dapat melihat kegiatan pembuatan gula aren dan gula semut langsung di rumah-rumah penduduk.

Pengembangan agrowisata aren ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Kementerian memberikan dukungan dana sebesar Rp 1,4 milyar untuk pembangunan jalan sejauh 1.250 meter, kelengkapan fasilitas, gazebo untuk pengunjung, galeri penjualan, dan pembelian peralatan pengolahan air pohon aren.

Agrowisata aren Desa Kekait juga menjual aneka kulier khas daerah setempat, dan berbagai jenis buah. Karena di desa kekait ini juga banyak tumbuh pohon buah seperti durian, nangka, langsat, kepundung, melinjo dan lain-lain.

Jadi, pengunjung agrowisata dapat menyaksikan langsung pembuatan gula aren dan gula semut dari proses penyadapan hingga produk jadi, sekaligus dapat menikmati keindahan alam perbukitan Desa Kekait. Bagi mereka yang hobi menjelajahi alam dengan menggunakan sepeda, silakan mencoba trek di pinggir sungai hingga tiba di air terjun Tibo yang memiliki ketinggian 10 meter. (555)