Kerbau belang. Harganya Selangit

Kamis, 14 Pebruari 2019, 01:12 WIB

Kerbau belang di Tana Toraja | Sumber Foto:seribuji.blogspot.com

AGRONET – Bisa jadi kerbau yang satu ini paling terkenal di Indonesia. Namanya Kyai Slamet, milik keraton Kasunanan Surakarta. Keistimewaannya, selain warna putih (bule), setiap tahun baru Hijriah atau bagi masyarakat Jawa dikenal dengan malam 1 Syura, Kyai Slamet menjadi cucuk lampah (pembuka jalan) kirab. Kabarnya, keraton Kasunanan Surakarta memiliki 17 ekor kebo bule.

Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kerbau bule juga mendapat tempat istimewa. Hanya saja, kerbau yang biasa disebut dengan ”saleko” lebih unik. Kerbau ini memiliki tanduk berwarna kuning gading, lingkaran putih di bola matanya, dan kulitnya berwarna putih dan hitam dengan pola tertentu (belang).

Masyarakat Toraja memberi nama kerbau belang berdasarkan corak warna kulitnya. Ada kerbau saleko, lotong boko, bonga, dan toddi’. Kerbau bonga terdiri dari tenge’, ulu, tappi, dan sorri. Dari sekian banyak jenis kerbau belang, kerbau saleko adalah jenis yang memiliki belang paling cantik. Kerbau saleko memiliki corak belang putih kemerahan merata di seluruh tubuhnya. Sudah barang tentu harganya paling tinggi.

Kerbau saleko menduduki tempat tertinggi dalam adat istiadat Toraja, namun sangat sangat langka. Tidak mudah mendapatkan seekor saleko. Seekor saleko jantan yang dikawinkan dengan saleko betina belum tentu melahirkan seekor anak saleko. Saleko bahkan bisa diperoleh dari perkawinan sepasang kerbau biasa. Seekor saleko dengan kondisi istimewa, harganya dapat mencapai Rp 1milyar.

BERITA TERKAIT

Pada upacara Rambu Solo’ (pemakaman) berskala besar, harus dipotong setidaknya seekor kerbau jantan jenis saleko. Bisa juga ditambah jenis bonga, lotong boko, dan toddi’.  Umur kerbau biasanya di atas 5 tahun.

Kerbau saleko yang dianggap bagus adalah yang memiliki warna kulit putih lebih dominan dibandingkan warna hitam. Warna iris mata juga putih. Warna hitam pada bagian punggung kerbau yang dominan warna putih biasanya membentuk pola tertentu. Makin banyak warna hitam di permukaan kulit, maka makin rendah kualitas dan harga kerbau Saleko.

Selain warna kulit, bentuk tanduk kerbau saleko juga berpengaruh. Tanduk yang bagus adalah yang panjang, pipih, berwarna putih dan dibagian ujungnya sedikit bengkok ke atas. Mengingat semakin sulit mendapatkan kerbau saleko, Inagro yang terletak di daerah Bogor melakukan konservasi kerbau Toraja ini. Kabarnya Inagro memiliki 3 ekor kerbau saleko.

Selain saleko, di Tana Toraja juga dikenal kerbau jenis lain yang harga sangat mahal. Kerbau ”balian” misalnya. Kerbau ini memiliki tanduk yang lebar. Atau kerbau ”sokko” dengan tanduk yang mengarah ke bawah. Lain lagi dengan kerbau ”taken langi” yang memiliki ciri satu tanduk mengarah ke atas dan satu tanduk mengarah ke bawah. Ada juga kerbau yang tidak memiliki tanduk sama sekali. Kerbau-kerbau jenis ini memiliki peranan penting dalam upacara adat di Tana Toraja.

Di luar Tana Toraja, seperti Banten misalnya, kabranya masih terdapat kerbau albino yang dianggap keramat. Kerbau yang disebut kebo dugul ini mempunyai sepasang tanduk menggantung. Jika tanduk kerbau ini sampai melingkar ke bawah dan kedua ujungnya bertemu di bagian bawah leher, maka disebut dengan kebo dungkul kalung. Sedangkan di Pulau Madura, terdapat kerbau yang kulitnya berwarna kecoklatan. Namun masyarakat setempat menyebutnya dengan kerbau merah.

Kerbau ternyata tidak selamanya berada di tengah sawah membajak tanah. Ada kalanya kerbau mendapat tempat istimewa di tengah masyarakat, seperti Kyai Slamet di Surakarta. (555)

BERITA TERKAIT