Lebah Raksasa Wallace Ditemukan Kembali

Senin, 04 Maret 2019, 15:06 WIB

Setelah 38 tahun menghilang, lebah raksasa Wallace ditemukan kembali Januari lalu. | Sumber Foto:Flickr

AGRONET – Setelah sekitar 38 tahun hilang dari alam sejumlah pulau di Maluku Utara, pada Januari lalu lebah raksasa Wallace berhasil ditemukan kembali. Hewan ini pertama kali ditemukan oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada 1859.

Wallace kemudian menyerahkan lebah raksasa ini kepada temannya seorang ahli serangga, Frederick Smith. Setelah diteliti, Smith menyatakan serangga ini sebagai spesies baru dan diberi nama Megachile Pluto yang pengumumannya dilakukan pada tahun 1861.

Megachile Pluto yang disebut juga dengan Wallace’s Giant Bee, jika dibandingkan dengan lebah madu memang terlihat sangat besar. Ukuran tubuh yang betina sekitar ibu jari orang dewasa, sekitar 3,8 cm. Atau sekitar empat kali lebih besar dari lebah madu. Bentang sayapnya sekitar 6 centimeter. Sedangkan lebah jantan hanya sekitar 2,3 cm saja. Dengan ciri morfologi seperti ini, Megachile Pluto pantas dijuluki sebagai lebah terbesar di dunia.

Sebelumnya, Megachile Pluto pernah dijumpai beberapa kali, yaitu pada tahun 1863, 1951, 1953, dan 1981. Snamun, sejak penemuan terakhir pada 1981 di Maluku Utara, Megachile Pluto tidak pernah lagi ditemukan di habitat aslinya. Pada 1983, para ahli serangga dari organisasi internasional menduga lebah ini telah punah. Tapi Adam Catton Messer dari Cornel University, Amerika Serikat meyakini jika lebah raksasa ini belum punah. Hanya sulit ditemukan.

BERITA TERKAIT

Megachile Pluto yang memiliki rahang bawah (mandibula) sangat besar akhirnya berhasil ditemukan oleh Clay Bolt, fotografer yang telah banyak mengabadikan satwa dan alam bersama Eli Wyman, ahli lebah dari Universitas Princeton di sebuah pulau di Maluku Utara yang jarang dikunjungi orang. Temuan Bolt ini telah dipublikasikan oleh organisasi pelestarian lingkungan Global Wildlife Conservation (GWC).

Megachile Pluto adalah salah satu dari 456 jenis lebah yang telah berhasil ditemukan di Indonesia. Sedangkan Megachile Pluto hanya ditemukan di sejumlah pulau di Maluku Utara, yaitu di Pulau Bacan, Halmahera dan Tidore.
Perilaku Megachile Pluto berbeda dengan lebah lainnya. Lebah betina Megachile Pluto menggunakan resin dari tanaman seperti Anisoptera thurifera untuk membuat sarang di dalam sarang rayap Microcerotermes amboinensis.

Bolt ingin agar Megachile Pluto dapat sebagai simbol perlindungan lingkungan Maluku Utara. Apalagi mengingat Megachile Pluto telah masuk kategori rentan dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak 2014.

Namun, ancaman selalu ada. Khususnya dari pemburu liar. Apalagi kabarnya Megachile Pluto memiliki harga jual yang tinggi. Tahun lalu, Megachile Pluto pernah ditawarkan dengan harga mendekati 40.000 dolar AS atau setara dengan Rp 560 juta.

Semoga saja, penemuan Megachile Pluto dapat memberi harapan baru bagi kelestarian hayati, khususnya di Indonesia. (555)

BERITA TERKAIT