Asterix, Obelix, dan Idefix ada di Sulawesi

Rabu, 20 Maret 2019, 22:44 WIB

Trigonopterus asterix (kiri), Trigonopterus obelix (tengah), dan Trigonopterus yoda (kanan) | Sumber Foto:Alexander Riedel

AGRONET – Siapa yang tidak tahu Asterix, Obelix dan Idefix ? Mereka adalah karakter fiksi dalam komik Prancis karya René Goscinny dan Albert Uderzo. Asterix, si tokoh utama, hidup di sebuah desa rekaan di tepi pantai Armorik . Dahulu adalah daerah Gallia kuno.

Lalu mengapa sekarang mereka ada di Sulawesi, Indonesia ? Sesungguhnya Asetrix , Obelix, dan Idefix tidak pindah dari Gallia ke Sulawesi. Namun, mereka adalah nama kumbang yang baru ditemukan di Sulawesi.

Sulawesi telah lama dikenal dengan fauna unik seperti babi rusa, anoa, dan tikus hidung babi. Sayangnya, keberadaan serangga-serangga berukuran kecil di hutan hujan tropis di Sulawesi masih belum banyak terungkap.

Publikasi terbaru hasil studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Natural History Karlsruhe, Jerman berhasil mendeskripsikan 103 jenis baru dari kumbang Trigonopterus di jurnal open access Zookeys. Salah satunya kumbang moncong (Coleoptera: Curculionidae), dari genus Trigonopterus yang baru ditemukan satu jenis di Sulawesi sejak 1885.

Di antara 103 kumbang Trigonopterus yang dideskripsikan tersebut, ada nama-nama jenis yang menggunakan nama karakter fiksi, seperti Asterix, Obelix, dan Idefix. Ada pula Yoda, tokoh dalam film ”Star Wars”. ”Penamaan jenis kumbang ini juga diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjasa di bidang biologi seperti penemu teori evolusi Charles Darwin  serta penemu struktur DNA, Francis Crick dan James Watson,” ujar peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Raden Pramesa Narakusumo.

BERITA TERKAIT

Lucunya, seperti halnya penggambaran dalam komik, tubuh kumbang Trigonopterus obelix lebih besar dan bundar dibandingkan Trigonopterus asterix. Sedangkan tubuh Trigonopterus yoda lebih kecil dari Trigonopterus asterix. Ada pula spesies kumbang yang diberi nama dengan mengambil nama dewa mitologi Yunani yaitu Trigonopterus artemis. Artemis adalah dewi berburu.

Empat nama ahli biologi terkenal juga disematkan pada spesies kumbang yang ditemukan di Sulawesi. Nama ahli teori evolusi, Charles Darwin diabadikan pada kumbang Trigonopterus darwini; kemudian ada Trigonopterus heberti yang diambil dari peneliti yang barcode DNA untuk identifikasi sebuah spesies, Paul DN Hebert. Nama dua penemu struktur DNA, Francis HC Crick dan James D. Watson juga diabadikan pada spesies kumbang Trigonopterus cricki dan Trigonopterus watsoni.

Deskripsi kumbang-kumbang Trigonopterus sendiri menggunakan pendekatan taksonomi modern yang dibantu dengan teknik DNA barcoding. Metode ini membantu para peneliti untuk menemukan dan mendeskripsikan jenis-jenis yang demikian banyak dalam waktu relatif cepat. ”Kumbang-kumbang ini memiliki kesamaan morfologi satu sama lain dan sukar dibedakan secara langsung,” jelas Pramesa.

Lebih lanjut Pramesa menjelaskan bahwa kumbang Trigonopterus kebanyakan hanya dapat ditemui di habitat hutan hujan tropis yang kondisinya masih baik dan dengan sebaran yang tidak begitu luas. ”Temuan kami menunjukkan bahwa, 79 dari 103 jenis Trigonopterus di Sulawesi hanya dapat ditemukan di satu lokasi saja, 15 di antaranya dapat dijumpai pada kawasan dalam radius di bawah 30 kilometer dan delapan jenis lainnya dalam radius di bawah 90 kilometer,” jelas Pramesa. Menurutnya, tingkat endemisitas kumbang ini menunjukkan pentingnya perlindungan dan konservasi kawasan hutan.

Namun menurut Pramesa, penemuan 103 jenis baru kumbang Trigonopterus ini belum menunjukkan gambaran lengkap dari keseluruhan kumbang Triginopterus di kawasan Wallace. ”Sulawesi memiliki kompleksitas geologi yang tinggi dan belum banyak mengungkap keberadaan fauna-fauna berukuran kecil seperti kumbang  Triginopterus,” ujarnya.

Seperti diketahui Sulawesi adalah bagian dari Wallacea, zona transisi bio-geografis antara Australia dan Asia. Artinya, wilayah ini memiliki fauna dari kedua wilayah tersebut. Para peneliti kini percaya bahwa Trigonopterus berasal dari Australia dan baru kemudian mencapai Sulawesi. Di sana Trigonopterus berkembang dengan baik.

Sebelum studi ini membuahkan hasil, Alexander Riedel, kurator Museum Natural History Karlsruhe menyatakan keheranannya. ”Kami telah menemukan ratusan spesies di pulau-pulau tetangga di Papua, Kalimantan, dan Jawa. Mengapa Sulawesi dengan habitatnya yang rimbun tetap menjadi ruang kosong?” tanya Riedel.

Studi ini jelas sangat sulit. Di hutan lebat Sulawesi, kumbang dengan ukuran 2-3 milimeter tidak mudah terlihat. Kesulitan lain adalah identifikasi kumbang-kumbang tersebut.

Riedel juga menjelaskan bahwa kolaborasi ini akan terus berlanjut.  ”Studi kumbang Trigonopterus membuahkan hasil yang sangat baik. Kolaborasi ini akan kami teruskan di masa depan,” ujarnya. Saat ini juga sedang disiapkan penelitian mengenai evolusi dari Trigonopterus Sulawesi.  (Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI/555)

BERITA TERKAIT