Tetap Produktif di Musim Kemarau

Rabu, 24 April 2019, 02:34 WIB

Varietas Inpago 9 adalah salah satu varietas padi yang toleran terhadap kekeringan. | Sumber Foto:litbang.pertanian.go.id

AGRONET – Musim hujan telah dipenghujung. Tidak lama lagi musim kemarau akan segera tiba. Seperti biasanya pada saat musim kemarau, air untuk irigasi selalu menjadi masalah utama.

Para ilmuwan telah sejak lama mencoba mencari solusi masalah ini. Dari sisi tanaman, khususnya padi, telah dikembangkan padi yang dapat ditanam di lahan super kering.  Seperti pada Sahara Forest Project (Proyek Hutan Sahara) yang dikerjakan di Dubai misalnya. Atau padi yang toleran terhadap air asin yang dikembangkan di Tiongkok.

Tidak hanya itu. Bendungan air diperbanyak, dan ukurannya pun semakin besar. Lahan pertanian juga dirancang sedemikian rupa sehingga pemakaian air lebih efisien, seperti Subak di Bali.

Namun, semua itu belum cukup. Efek pemanasan global, lahan kritis yang semakin luas, jumlah penduduk yang meningkat tajam, ditambah faktor iklim yang semakin tidak menentu membuat para ilmuwan juga harus semakin kreatif.

BERITA TERKAIT

Indonesia yang penduduknya hingga saat ini masih mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, harus berfikir keras bagaimana caranya agar kebutuhan pangan penduduknya tercukupi dari hasil dalam negeri.

Sebenarnya telah sejak lama para ilmuwan di Indonesia meneliti agar dapat diperoleh padi yang tahan terhadap cuaca kering, khususnya di musim kemarau. Sehingga kebutuhan pangan khususnya beras dapat terpenuhi. Apalagi telah sejak lama swasembada pangan telah dicanangkan sejak lama.

Pada era pemerintahan presiden Soeharto, swasembada beras pernah tercapai pada tahun 1984. Namun hanya sekali itu saja. Setelah itu Indonesia harus mengimpor beras lagi. Bahkan pada 1998, Indonesia harus mengimpor 6 juta ton beras. Walaupun begitu, Indonesia tidak pernah lelah untuk meraih swasembada pangan. Semua ikhtiar dilakukan. Salah satunya adalah dengan menghasilkan padi yang toleran kekeringan dan tahan hama.

Salah satu varietas padi yang toleran terhadap lahan kering adalah varietas Inpago 9. Varietas padi ini adalah varietas inbrida padi gogo yang dikhususkan untuk lahan kering. Padi gogo juga dapat ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain, seperti singkong dan jagung. Atau dengan tanaman tahunan seperti jati, kelapa dan karet.

Produktivitas varietas Inpago 9 cukup menjanjikan. Setiap kali panen dapat dihasilkan 8 hingga 9 ton per hektar. Hasil ini di atas rata-rata varietas padi gogo lainnya yang hanya memiliki produktivitas rata-rata di bawah 6-7 ton per hektar. Selain produktivitas yang tinggi, varietas Inpago 9 juga tahan terhadap penyakit blas yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi petani padi lahan kering.

Selain masalah varietas padi yang toleran terhadapa kekeringan, pemerintah juga mengedukasi petani agar menggunakan pupuk hayati atau pupuk berbasis mikroba non patogenik. Pupuk jenis ini berfungsi untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Untuk pengendalian hama yang mengganggu tanaman padi, petani disarankan menggunakan bioprotektor.

Sebenarnya, selain varietas Inpago 9, Indonesia menghasil cukup banyak varietas padi yang toleran terhadap laahan kering. Misalnya; Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, dan Inpago Lipigo 4. Ada juga varietas padi yang relatif toleran terhadap kekeringan pada padi sawah irigasi, seperti varietas Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20. Empat varietas juga tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB).

Untuk varietas padi gogo, selain Inpago 9, Indonesia juga memiliki varietas Inpago 4, Inpago, 5, Inpago 6, Inpago 8, dan Inpago Lipigo 4.  Namun, hasilnya tidak setinggi Inpago 9.

Tidak melulu soal lahan kering. Ilmuwan Indonesia juga memikirkan masalah yang ada pada musim penghujan, khususnya banjir. Oleh sebab itu Balitbangtan Kementerian Pertanian RI telah menghasilkan padi varietas Inpari 29 Rendaman, Inpari 30, Inpara 4, dan Inpara 5. Varietas padi ini tahan terhadap banjir untuk periode tertentu.

Kementerian Pertanian dengan semangat yang tetap tinggi terus berusaha mencapai target swasembada pangan.  Apalagi indeks ketahanan pangan Indonesia pada indeks ketahanan pangan global Global Food Security Index/GFSI terus meningkat. Pada tahun 2012, Indonesia mendapat skor 46,8 dan ada 2018, skor Indonesia naik menjadi 54,8 dari skor tertinggi 100. Nilai ini membuat Indonesia menduduki posisi 65 di dunia.

Jadi tIdak mustahil suatu saat swasembada pangan akan dapat tercapai kembali. Semangat ! (555)

BERITA TERKAIT