Beternak Sapi di atas Laut

Senin, 07 Januari 2019, 08:46 WIB

Peternakan sapi lepas pantai bertingkat tiga di pelabuhan Rotterdam Belanda dibuat agar lebih dekat dengan konsumen di kota. | Sumber Foto:Beladon

AGRONET – Jika bumi ini berumur panjang, diperkirakan pada tahun 2050 ada sekitar 9,8 milyar manusia yang harus mendapat pasokan makanan. Jumlah ini akan terus bertambah. Pada 2100 jumlahnya terus meningkat menjadi 11,2 milyar.

Pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang cepat ditambah dengan dampak perubahan iklim, dan meningkatnya lahan kering membuat para ilmuwan berusaha mencari solusi terbaik agar pasokan makanan tetap terjamin. Tidak melulu soal pertanian dan perikanan. Tapi juga peternakan.

Untuk negara dengan luas wilayah yang luas seperti Indonesia, pengadaan lahan peternakan bukan masalah. Namun, negara dengan luas wilayah yang kecil -apalagi yang penduduknya terbiasa mengonsumsi daging- pengadaan lahan peternakan menjadi masalah serius.

Negara Belanda misalnya. Luas wilayahnya hanya sekitar 42 ribu km persegi. Bahkan sebagian wilayahnya memiliki ketinggian di bawah permukaan laut. Pembukaan lahan peternakan baru sudah pasti bukan perkara mudah. Namun Peter van Wingerden, seorang insinyur di Beladon BV –sebuah perusahaan yang mengkhususkan mengerjakan pekerjaan konstruksi lepas pantai- mempunyai gagasan baru.

BERITA TERKAIT

Gagasan ini terinspirasi ketika ia berada di New York mengerjakan proyek perumahan terapung di sungai Hudson pada tahun 2012. Saat itu Badai Sandy menyerang, membanjiri jalan-jalan kota, dan melumpuhkan jaringan transportasi. Pengiriman makanan terhambat. Sulit menemukan produk segar di toko-toko. ”Melihat kehancuran yang disebabkan oleh Badai Sandy, saya melihat bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan makanan maka makanan harus diproduksi sedekat mungkin dengan konsumen," kata van Wingerden.

Pengalaman van Wingerden ini melahirkan ide menghasilkan makanan segar dengan cara membuat anjungan di atas air. Anjungan juga harus tahan terjangan angin topan. Awalnya ide ini terlihat aneh, lucu, bahkan tidak masuk akal. Namun tekad van Wingerden telah bulat. ”Dengan meningkatnya permintaan makanan sehat, urbanisasi yang tumbuh cepat, dan perubahan iklim, kita tidak bisa lagi mengandalkan sistem produksi makanan di masa lalu,” katanya.

Pada 2012 van Wingerden dan timnya mulai mengerjakan desain peternakan lepas pantai. Rotterdam Rotterdam, sebuah kota pelabuhan sekitar 50 mil barat daya Amsterdam, dipilih sebagai tempat mengawali proyek ini. Merekapun berbicara dengan Otoritas Pelabuhan di Rotterdam. Awalnya muncul keraguan. Peternakan di lepas pantai akan menimbulkan kebisingan, pencemaran, dan bau. Namun akhirnya Otoritas Pelabuhan di Rotterdam memberi izin Beladon BV untuk membuat prototipe.

Pembangunan peternakan lepas pantai ini tidak semata mendekatkan tempat peternakan dengan konsumen di kota karena sulitnya mencari lahan. Tetapi juga untuk mengurangi biaya ekspedisi dan polusi yang muncul karena pengiriman hasil peternakan ke toko. Apalagi mengingat jumlah penduduk yang tinggal di kota akan semakin banyak. Meningkat sekitar 55% pada 2050 dibandingkan saat ini. Sehingga pembangunan peternakan lepas pantai ini dapat membantu kota memproduksi lebih banyak makanannya sendiri secara berkelanjutan.

”Ini adalah langkah logis untuk menghasilkan makanan segar di atas air. Sebagian besar kota-kota besar terletak di delta sungai, dan mudah untuk menggunakan delta untuk produksi makanan,” ujar van Wingerden. Dia juga mengatakan bahwa konsep peternakan lepas pantai ini dapat diadopsi oleh kota-kota pelabuhan lainnya.

Peternakan hasil rancang bangun Beladon BV akan mengawali kegiatannya dengan memelihara 40 sapi Meuse-Rhine-Issel yang masing-masing memiliki bobot 800 kg. Sapi ini memang dikenal berumur panjang dan kesehatannya baik. Semua ini akan dipelihara di atas platform beton apung dekat mulut Sungai Meuse Baru.

Sapi-sapi akan ditempatkan di lantai dua dari anjungan yang memiliki tiga lantai.  Nantinya, peternakan ini harus dapat menghasilkan lebih dari 800 liter susu dan yoghurt per hari. Pekerjaan memerah susu akan dilakukan oleh robot. Begitu pula dengan kotoran sapi. Robot akan mengumpulkan kotoran untuk kemudian dijual sebagai pupuk dan pembangkit energi di lokasi.

Satu tingkat ke atas –lantai tiga- akan dibangun rumah kaca yang di dalamnya ditanam rumput, semanggi, dan tanaman lain untuk pakan sapi. Sedangkan di lantai satu –lantai paling bawah- digunakan untuk meletakkan mesin yang dibutuhkan untuk memproses dan mengemas susu dan yoghurt. Sebagai pembangkit energi, peternakan ini menggunakan pula panel surya.

Sebenarnya ada kekhawatiran lain, yaitu sapi-sapi akan mabuk laut di atas platform terapung. ”Kami bertanya kepada dokter hewan di Utrecht apakah sapi akan mendapatkan mabuk laut dan mereka mengatakan tidak. Jadi, sapi-sapi itu akan sangat nyaman," kata van Wingerden.

Tetapi tidak semua orang sepakat dengan peternakan lepas pantai ini. Salah satunya adalah Weslynne Ashton, seorang profesor manajemen lingkungan di Illinois Institute of Technology, Chicago. Dia mengatakan peternakan semacam ini mungkin akan mencemari air. Namun ia menambahkan, ”Kami membutuhkan banyak percobaan untuk mencari cara-cara cerdas memberi makan populasi perkotaan yang tumbuh secara berkelanjutan.

Jika semua berjalan lancar, pembangunan peternakan lepas pantai pertama di dunia ini dijadwalkan selesai akhir tahun lalu. Bukan tidak mungkin, jika sukses dan memberi banyak manfaat, akan banyak berdiri peternakan lepas pantai baru di negara lain. (555)




BERITA TERKAIT