eFishery, Cara Pintar Memberi Pakan Ikan

Selasa, 29 Januari 2019, 23:40 WIB

Pemakaian eFishery membuat pemberian pakan ikan menjadi lebih efisien | Sumber Foto:eFishery

AGRONET – Memberi makan ikan sepintas tampak sederhana. Cukup ambil pakan ikan dan tebarkan ke kolam. Ikan akan segera melahap pakan yang ada dihadapannya.

Namun ternyata hal yang kelihatan sepele ini menimbulkan cukup banyak masalah. Bagaimana jika jumlah kolam cukup banyak ? Petugas pemberi pakan harus berjalan  ke seluruh kolam dan sesekali berhenti untuk menebarkan pakan ikan ke setiap kolam. Belum lagi jika jumlah dan usia ikan tidak sama antara satu kolam dengan kolam lainnya.

Jika pakan yang diberikan kurang, maka akibatnya pertumbuhan ikan menjadi tidak optimal. Namun jika jumlah pakan yang diberikan terlalu banyak atau pakan diberikan saat ikan belum mempunyai hasrat untuk makan, pasti akan terdapat pakan yang tidak habis dimakan ikan. Sisa pakan ini akan menjadi residu di dalam air kolam. Akibatnya, akan timbul gas nitrat dan akan memicu pertumbuhan jamur.

Kelebihan pemberian pakan ikan juga akan mengakibatkan pemborosan biaya pemeliharaan. Belum lagi harga pakan yang semakin mahal. Seperti diketahui, sekitar 70 persen biaya budidaya ikan adalah untuk pembelian pakan.
Masalah-masalah tersebut di atas akhir dapat teratasi berkat ide cemerlang Gibran Huzaifah. Lebih dari 5 tahun yang lalu Gibran mendirikan eFishery, sebuah perusahaan yang bergerak di industri akuakultur dengan mendukung bisnis budidaya ikan dan udang.

Gibran yang menjabat sebagai CEO eFishery,  membuat sebuah perangkat Auto Smart Feeder dengan memanfaatkan teknologi IoT (Internet of Things). Perangkat ini dibuat untuk memudahkan pemberian pakan ikan dan udang. Dengan perangkat ini, petani tambak dapat mengatur jadwal pemberian pakan yang tepat dengan menggunakan aplikasi telepon pintar, dalam 24 jam.

Tidak hanya soal jadwal pemberian pakan, eFishery juga dapat mengatur jumlah pakan yang diharus diberikan. Pakan ditebarkan ke kolam dengan cara dilontarkan dari perangkat. Jarak lontaran dapat mencapai 10 meter dengan lebar sudut lontaran sekitar 90 derajat. Hasilnya, pakan tersebar merata. Ikan tidak berkumpul di satu titik, saling berebut menyantap pakan.

Prinsip dasar pemberian pakan oleh eFishery adalah pakan tidak sekaligus ditebar dalam jumlah banyak. Pakan ditebar sedikit-sedikit dengan takaran yang tepat, dalam frekuensi yang lebih sering namun waktunya tepat ketika ikan sedang lapar. Sehingga dapat dipastikan semua pakan yang ditebar akan dilahap ikan. Tidak ada lagi masalah pakan yang tersisa dan menjadi residu di air kolam. Pakan yang tidak segera disantap ikan dan terlalu lama di air, akan kehilangan nutrisi sampai 50%.

Pemberian pakan yang tepat waktu dan tepat takaran ini dapat dilakukan karena eFishery mendapat input soal jumlah ikan dan jenis ikan. Selain itu eFishery dilengkapi sensor yang dapat memberi tahu kapan saatnya ikan lapar dan butuh pasokan pakan.

Jika telah selesai dengan pekerjaan memberi pakan, eFishery akan mencatat pekerjaannya secara real time, tanpa pernah sekalipun terlewat. Data ini dapat diakses dengan mudah lewat telepon pintar. Sehingga petani tambak dapat mengevaluasi pemberian pakan setiap saat. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, eFishery berhasil melakukan efisien sebesar 24 persen.

Operasional eFishery selain praktis juga murah. Konsumsi daya listrik efishery hanya 40 watt. Untuk daerah terpencil yang belum terjangkau listrik, eFishery dapat bekerja dengan listrik dari genset atau panel surya.

Dengan segala kelebihannya itu, tidak heran jika saat ini telah tersebar ribuan eFishery di sekitar 16 provinsi dan 67 kabupaten di seluruh Indonesia. Apalagi eFishery dirancang sesuai dengan kebutuhan petani tambak. Ada eFishery berkapasitas besar dan kecil. Harganya sekitar Rp 7 juta hingga Rp 9 juta. Jika harga jual ini masih dianggap mahal, eFishery menawarkan opsi sewa.

Kehadiran eFishery untuk membantu petani tambak sungguh tepat. Mengingat dalam waktu 30 tahun ke depan industri budidaya ikan akan meningkat tiga kali lipat dengan 80 persen industri akuakultur terletak di Asia. Apalagi di Indonesia ada lebih dari empat juta petani ikan. (555)

Agro Pilihan