Traktor Pintar di Sawah Jepang

Selasa, 28 Mei 2019, 01:35 WIB

Traktor | Sumber Foto:yanmar.com

AGRONET – Dalam sebuah film televisi Jepang, diceritakan dua perusahaan pembuat traktor pertanian bersaing membuat traktor ”pintar” yang dapat membajak sawah dan memanen hasil pertanian tanpa perlu dikontrol manusia. Hampir tidak ada campur tangan manusia. Pemiliki sawah hanya perlu membawa traktor “pintar”-nya ke sawah yang akan digarap.

Bagian yang mengagumkan dari film justru bukan pada alur ceritanya. Tapi, melihat bagaimana traktor “pintar” dapat membajak sawah dan memanen hasil pertanian tanpa perlu dikendalikan manusia. Tugas manusia hanya perlu menyalakan mesin traktor. Selanjutnya traktor akan berjalan sendiri menjalankan tugasnya sampai selesai.

Ketika bertugas, traktor seolah mempunyai mata. Traktor dapat mengetahui dengan tepat ukuran sawah. Ketika tiba di ujung sawah, traktor akan berbelok. Dan, ketika seluruh area sawah sudah dikerjakan, traktor akan berhenti. Traktor tidak pernah bergerak ke area sawah tetangga. Bagaimana traktor ini menjadi begitu pintar ?

Kuncinya ternyata ada pada satelit Michibiki. Saat ini Jepang mempunyai 4 satelit Michibiki. Satelit ini membawa peralatan GPS yang paling canggih. Setiap satelit akan melintasi wilayah Jepang kurang lebih delapan jam dalam sehari. Agar wilayah Jepang selalu dilalui oleh lebih dari satu satelit maka dibutuhkan minimal empat buah satelit.

BERITA TERKAIT

Satelit Michibiki mempunyai tingkat akurasi yang jauh lebih baik dibandingkan sistem penentuan lokasi yang biasanya digunakan di seluruh dunia, yaitu GPS milik Amerika Serikat. GPS hanya memiliki tingkat akurasi sampai dengan 10 meter. Namun dengan adanya Michibiki yang penggunaannya digabungkan dengan GPS dapat dihasilkan tingkat ketelitian hingga hitungan sentimeter.

Selain bidang pertanian, pemanfaatan sistem ini diharapkan juga dapat mengembangan teknologi di berbagai bidang, khususnya teknologi drone untuk pengiriman barang ke tempat terpencil. Untuk keperluan ini, Jepang telah sukses melakukan uji coba pengiriman barang dengan menggunakan drone di Kepulauan Amanokusa, prefektur Kumamoto.

Di bidang pertanian, pengoperasian traktor ”pintar” diharapkan dapat dilakukan lebih akurat, terutama untuk penanaman bibit hingga panen secara otomatis. Dengan adanya teknologi ini, paling tidak kekurangan tenaga kerja di bidang pertanian di Jepang dapat teratasi.

Jika traktor hanya mengandalkan sinyal GPS yang biasanya ditransmisikan dari stasiun bumi dan diperoleh melalui telepon seluler, adakalanya kualitas sinyal buruk. Khususnya di daerah pedesaan. Bahkan untuk daerah terpencil, bisa jadi tidak ada sinyal sama sekali. Jika traktor ”pintar” tidak dapat menerima sinyal navigasi, maka mesin itu tidak bisa mengemudi.

Namun dengan adanya Michibiki yang mengirim sinyal dari ruang angkasa, sinyal dapat diterima dimana saja. Artinya, traktor ”pintar” dapat dioperasikan di sebarang daerah di Jepang.

Ketika traktor ”pintar” sedang tidak digunakan, kita dapat memasukkan instruksi yang tepat ke komputer kontrol traktor. Traktor akan dapat memperbaiki rutenya saat tidak digunakan, sambil menyebarkan jumlah pupuk dan pestisida yang tepat. Ini perlu dilakukan agar traktor "pintar" dapat beroperasi lebih akurat.

Saat ini JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency), badan luar angkasa Jepang, tengah mengembangkan penerima sinyal dan sistem pemosisian agar tingkat akurasinya semakin baik. Untuk pekerjaan menanam padi, paling tidak dibutuhkan ketelitian sekitar 5 cm.

Sayangnya harga sistem navigasi traktor ”pintar” ini masih terbilang mahal. Sekitar 3 juta Yen (sekitar Rp 400 juta). Namun jika telah diproduksi masal, dipastikan harganya akan turun. Dengan demikian jangan heran jika suatu waktu berkunjung ke Jepang akan banyak traktor ”pintar” yang hilir mudik di area persawahan, siang malam, bekerja 24 jam tanpa perlu ditemani manusia. (555)







BERITA TERKAIT