Mengenal Hujan Buatan

Kamis, 03 Oktober 2019, 00:06 WIB

Hujan Buatan | Sumber Foto:republika.co.id

AGRONET – Kemarau hingga hari ini belum juga usai. Hujan yang ditunggu, belum juga datang. Sebenarnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mengingatkan akan terjadinya El Nino tahun ini. Sektor pertanian sudah pasti yang paling menderita dengan adanya kemarau panjang akibat anomali cuaca.

Walaupun El Nino tahun ini tidak separah tahun 2015, namun dampaknya cukup signifikan pada produksi pangan. Jika dibandingkan tahun 2018, kemarau tahun ini lebih kering. Fenomena ini merupakan siklus alami bumi akibat kenaikan suhu permukaan laut melebihi nilai rata-rata di Samudra Pasifik sekitar ekuator.

Pengaruh El Nino membuat musim kemarau tahun ini datang lebih awal, yakni bulan April. Puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus-September 2019 memang telah lewat. Namun kekeringan telah membuat banyak kerepotan. Di antaranya sulitnya mendapatkan sumber air baik untuk keperluan irigasi ataupun untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Awal musim hujan yang biasanya terjadi pada Oktober-November mundur ke November-Desember.

Pulau Jawa – khususnya propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Merauke, diperkirakan akan mengalami kemarau lebih kering dari biasanya. Salah satu antisipasi dampak kemarau panjang akibat El Nino ini adalah pemberikan bantuan pompa air ke petani, pembangunan embung, dan pompanisasi oleh Kementrian Pertanian.

BERITA TERKAIT

Selain upaya di atas, ikhtiar lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi sulitnya pasokan air pada musim kemarau adalah dengan cara dengan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau orang lebih mengenal dengan hujan buatan. TMC memang dilakukan untuk membantu mengatasi krisis sumber daya air yang disebabkan faktor iklim dan cuaca.

TMC pada dasarnya adalah memberikan rangsangan ke dalam awan. Rangsangan diberikan agar proses yang terjadi di awan lebih cepat, dibandingkan jika dibiarkan terjadi secara alami. Setelah diberikan rangsangan maka diharapkan terjadi proses penumpukan penggabungan butir-butir air didalam awan dan kemudian turun menjadi hujan. Secara sederhana hujan buatan terjadi akibat adanya modifikasi cuaca yang menggabungkan teknologi dan fenomena alam.

Untuk merangsang awan, digunakan zat higroskopis seperti garam dapur (NaCl) dan CaCl2. Garam ini ditebar atau disemai di awan berpotensi hujan –awan cumulus- dengan menggunakan pesawat terbang. Ukuran garam harus sangat halus, sekitar 30 mikron. Garam ini berguna sebagai pengumpul uap air yang ada di awan. Agar penyemaian garam memberikan hasil maksimal, pesawat terbang harus masuk ke dalam awan potensial.

Setelah uap air terkumpul dan membesar akan terjadi pergolakan hingga ukurannya mencapai ukuran 1 milimeter. Kondisi ini disebut awan telah ”matang”. Akhirnya, akan jatuh menjadi hujan.

Kategori awan yang dapat disemai dilihat dari kandungan uap air di atmosfer dan potensi pertumbuhan awannya. Penyemaian awan dapat dilakukan apabila ditemukan kadar potensi terjadi hujan minimal sebesar 70 persen. Data awan-awan yang berpotensi disemai dapat diperoleh dari data satelit atau data pertumbuhan awan hujan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).

Jika tidak ada awan potensial, perlu dilakukan penghilangan lapisan inversi dengan menggunakan dry ice. Kadang diperlukan penyemaian urea setelah penyemaian garam. Urea berfungsi untuk mendinginkan lingkungan sekitar yang dapat membuat awan-awan kecil bergabung menjadi kelompok awan yang lebih besar.

Untuk keperluan pemadaman kebakaran lahan dan hutan, hujan buatan juga dapat digunakan untuk memadamkan titik-titik api. Alternatif lain adalah dengan menggunakan water bombing. Masing-masing memiliki kelemahan.
Water bombing kurang efektif karena air yang dibawa jumlahnya sangat terbatas, maksimal sekitar 8 meter kubik.

Sedangkan hujan buatan, jumlah air sangat banyak namun tidak dapat diarahkan tepat ke titik-titik api. Hujan buatan juga bergantung pada keberadaan awan serta arah dan kecepatan angin.

Telah banyak usaha manusia untuk mengatasi kekeringan. Namun, yang paling bijak adalah selalu menjaga sumber air dan tetap hemat ketika menggunakannya. (555)  



 

BERITA TERKAIT