"Asam di Gunung, Garam di Mana?"

Minggu, 06 Agustus 2017, 22:46 WIB

Balinese Salt

AGRONET - Di dalam dapur, tidak ada bumbu yang lebih penting dari garam. Tidak hanya di dalam dapur. Kata ’garam’ juga banyak dipakai pada pepatah dan ini menunjukkan betapa pentingnya garam dalam kehidupan kita sehari-hari. Paling tidak ada belasan pepatah yang menggunakan kata ’garam’. Contohnya; ”asam di gunung, garam di laut, bertemu juga dalam belanga”, ”bagai menggarami laut”, ”bagai garam jatuh ke air”, ”sudah banyak makan asam garam”, dan lainnya.

Tapi celakanya, minggu-minggu belakangan ini garam menjadi langka di Indonesia. Semua - nelayan, pengrajin kulit, pabrik kertas, pabrik kaca, industri makanan-minuman, bahkan sampai ibu rumah tangga - mendadak menjadi bingung karena kelangkaan garam. Konon, gara-gara anomali cuaca maka produksi garam menjadi hancur. Ternyata, garam tidak hanya dibutuhkan untuk memberi rasa nikmat pada makanan. Sektor industri pun membutuhkannya.

Tapi, sebenarnya ada berapa jenis garam ? Apakah garam untuk industri dapat di pakai untuk makanan ? Berikut beberapa jenis garam yang dapat kita temui. Beberapa di antaranya, mungkin tidak mudah dijumpai di pasar di Indonesia.


1. Garam Meja
Garam jenis ini paling banyak digunakan dan mudah dijumpai di pasaran. Garam meja diperoleh dari kandungan garam di bawah permukaan tanah. Pada saat pembuatannya, kotoran dan kandungan mineral yang tidak dibutuhkan disingkirkan.
Hampir semua jenis garam meja telah mengalami penambahan Yodium - pada saat diproses di pabrik. Yodium dibutuhkan oleh tubuh agar kita terhindar dari gangguan kelenjar tyroid dan gangguan kesehatan lainnya.
Garam meja, kadang disebut juga dengan nama Refined Salt, memiliki butiran garam yang halus dan mudah mudah menggumpal. Namun, garam meja yang sekarang beredar di pasar telah diberi tambahan zat anti-caking agar garam tidak lagi menggumpal. Hampir seluruh garam meja mengandung natrium klorida murni, dengan kadar 97% atau lebih.

2. Garam Laut
Garam laut dibuat dengan cara menguapkan air laut yang dialirkan ke dalam tambak-tambak garam. Umumnya pembuatan garam laut dikerjakan di daerah yang minim curah hujan sepanjang tahun.
Sama halnya dengan garam meja, garam laut juga banyak mengandung natrium klorida alami dan sedikit mineral. Biasanya garam laut mengandung mineral kalium, zat besi, magnesium, kalsium, potassium, zinc, dan yodium
Kualitas garam laut sangat dipengaruhi oleh kualitas air laut yang dipakai. Jika air laut tercemar, dapat dipastikan garam laut yang dihasilkan pun juga menjadi tercemar. Kotoran dan mineral dalam garam laut dapat memengaruhi rasa.
Rasa garam laut berbeda dari garam meja. Umumnya rasa asin garam laut lebih kuat dan kompleks. Apalagi jika kita tidak terbiasa mengonsumsinya. Garam laut tidak mudah larut dalam masakan.

3. Garam Kosher
Garam ini adalah garam alami yang memiliki bentuk kepingan tipis dan memanjang serta tidak ditambahi mineral apapun pada saat proses pembuatannya. Rasanya mirip dengan garam meja.
Garam kosher biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi agar asupan sodium tidak berlebih. Seperti diketahui, sodium dapat memicu tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Tekstur butirannya lebih kasar dibandingkan garam meja. Selain itu, hampir semua garam kosher tidak mengandung yodium dan sangat jarang yang mengandung zat anti-caking sehingga mudah menggumpal.
Rasa garam kosher mirip dengan garam meja. Garam ini adalah jenis garam yang mudah larut dalam makanan dan cocok digunakan pada hampir semua jenis makanan.

4. Celtic Salt/Grey Atlantic Salt
Sebagian orang menyebut garam ini dengan nama sel gris (bahasa Perancis ), yang berarti garam abu-abu. Garam ini memang berwarna keabu-abuan. Garam ini diperoleh dengan cara membuat kolam pada pantai, di wilayah Brittany, Perancis. Warna abu-abu ini berasal dari mineral dalam tanah liat.
Garam Celtic banyak mengandung mineral, tetapi kandungan natrium-nya lebih rendah dari garam meja. Garam ini mempunyai sifat basa dan dapat dimanfaatkan untuk mencegah kram otot.
Rasa asin garam ini lebih tinggi dari garam meja. Tapi ini justru membuatnya populer di kalangan chef.

5. Garam Rendah Sodium
Garam ini mengandung sodium 80% lebih sedikit dari garam meja. Akibatnya, rasa asinnya tidak sekuat garam meja yang kaya akan kandungan sodium. Tapi, bagi mereka yang menderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, garam ini dibutuhkan.

6. Himalayan Pink Salt

Himalayan Pink Salt

Garam ini dikenal juga dengan nama pink salt. Warna garam ini memang merah muda dengan butiran garam yang kasar. Warna merah muda ini disebabkan karena tingginya kandungan oksida besi.
Himalayan Pink Salt adalah garam yang paling murni dibandingkan jenis garam lainnya. Garam ini mengandung sekitar 84 jenis mineral yang dibutuhkan tubuh, namun kandungan sodium dan natriumnya rendah. Selain dipakai di dalam dapur sebagai penyedap masakan, sebagian orang juga memakainya untuk mencegah kram otot dan detoksifikasi. Ada juga yang menggukan garam ini sebagai lampu hias. Pasokan terbesar Himalayan Pink Salt berasal dari tambang Khewra Salt Mine, Pakistan.

7. Rock Salt
Garam jenis ini diperoleh dari tambang di bawah permukaan tanah. Bentuk butirannya besar, kasar, tebal, serta masih terdapat mineral dan kotoran yang tercampur. Sehingga, garam ini tidak bisa langsung dipakai pada makanan. Umumnya rock salt dikemas dalam bentuk aslinya yang belum diolah.

8. Crystalline Sea Salt
Garam ini berasal dari California dan Portugal. Ukuran butiran Crystalline Sea Salt tidak beraturan. Sebagian memiliki tekstur halus, tapi sebagian lain teksturnya kasar.

9. Hawaiian Pink Salt
Ada pula yang menyebut garam ini dengan nama Hawaiian Pink Alaea Salt atau Alaea Salt. Garam ini adalah garam yang tidak dimurnikan dan bercampur dengan tanah liat vulkanis alae. Warna merah muda disebabkan oleh partikel tanah liat vulkanis yang berwarna merah yang kaya dengan kandungan oksida besi.
Garam ini adalah bumbu asli Hawaii dan biasa dipakai sebagai penyedap masakan. Kadang dipakai pula sebagai pembersih peralatan. Hampir semua Hawaiian Pink Salt yang dijual di Amerika Serikat, diproduksi di California. Bukan di Hawaii. Garam asli buatan Hawaii harganya mahal dan sangat sulit mendapatkannya di luar Hawaii.

10. Black Hawaiian Hiwa Kai Sea Salt
Warna hitam yang ada pada garam ini disebabkan oleh abu karbon dari sayuran. Garam ini baik untuk sistem pencernaan. Ada pula garam jenis ini yang berwarna hijau. Warna hijau ini diperoleh dari campuran daun bambu.

11. Hawaiian Black Salt
Garam ini bukan garam yang terjadi secara alamiah. Tapi, karena pencampuran yang dilakukan oleh manusia. Hawaiian Black Salt dikenal pula dengan nama Black Lava Salt.
Sebenarnya Hawaiian Black Salt adalah Sea Salt, Ditambang dari beberapa pulau vulkanik di Hawaii. Warna hitam terjadi karena penambahan lava hitam yang dihancurkan dan arang aktif.

12. Smoked Yakima Sea Salt
Sesuai namanya, garam ini berasal dari daerah Yakima, Washington, Amerika Serikat. Agar garam ini memiliki aroma asap, maka garam ini diasapi dengan kayu apel.

13. Maldon Salt
Garam ini mempunyai butiran yang besar. Bentuknya seperti kristal. Jika dikulum, maka perlahan-lahan akan meleleh dalam mulut. Garam kadang digunakan juga untuk memberikan cita rasa yang unik pada cokelat.
Para chef menyukai garam ini karena dapat memberikan cita rasa khas pada makanan.

14. Balinese Salt
Butiran kristal pada garam ini memiliki bentuk piramid. Bentuk krital yang unik ini membuat Balinese Salt termasuk garam unik di antara sekian banyak jenis garam di dunia. Garam ini berasal dari air Samudera Hindia di pantai Bali.

15. Fleur de Sel
Garam yang mendapat julukan ”Flower of Salt” (bunganya garam) ini dihasilkan di Guerande, Perancis. Agar dapat memperoleh Fleur de sel dibutuhkan persyaratan kondisi alam, yaitu; matahari harus bersinar terik, udara kering, dan angin bertiup tenang. Karena membutuhkan persyaratan kondisi alam seperti itu, dalam satu hari hanya dapat dihasilkan sekitar satu kilogram Fleur de sel.
Kondisi ini membuat Fleur de sel menjadi salah satu garam termahal di dunia. Untuk sekitar 1 kg Fleur de sel – yang juga dijuluki ”The Caviar of Salts” - harganya sekitar Rp. 520 ribu.

16. Kala Namak
Kala namak (bahasa Nepal yang berarti garam hitam) adalah garam dari Himalaya. Garam ini diproses dengan cara dibakar selama 24 jam dalam suatu wadah yang di dalamnya terdapat pula arang, tumbuhan, biji-bijian, dan kulit pohon. Setelah selesai, garam ini kemudian didinginkan, disimpan dan dibiarkan menjadi ’tua’.
Proses di atas membuat kala namak memiliki warna hitam kemerahan, rasa asin, dan aroma yang khas.

17. Pickling Salt
Garam ini mengandung 100% natrium klorida dan sama sekali tidak mengandung yodium. Tidak ada Yodium dan zat anti penggumpalan yang ditambahkan pada garam ini. Picklin salt dipakai untuk proses pengawetan dan mengasinkan makanan.

18. Flake Sea salt
Essex, Inggris adalah daerah asal garam ini. Garam ini diperoleh dari air laut yang diuapkan, direbus atau dengan cara lain. Karakteristik garam ini, lembut dan tipis. Bentuk butirannya tidak beraturan, rasa asinnya cukup kuat dan mengandung sedikit mineral.

19. Smoked salt
Proses pembuatan garam ini cukup lama. Salah satunya adalah karena harus diasapi selama 2 minggu dengan menggunakan kayu bakar. Kayu bakar yang dipakai biasanya kayu oak, apel, alder, hickory, atau mesquite. Proses ini membuat garam memiliki aroma asap yang kemudian akan memengaruhi aroma masakan.
Seberapa lama garam diasapi dan jenis kayu yang dipakai sebagai kayu bakar, akan memengaruhi aroma yang dihasilkan. Garam ini adalah salah satu garam terbaik untuk membumbui daging dan sayur seperti kentang. (555)

BERITA TERKAIT