Indonesia Penghasil Mutiara Terbaik di Dunia

Selasa, 10 Oktober 2017, 23:13 WIB

Mutiara laut | Sumber Foto:pixabay

AGRONET – Kekayaan laut tidak hanya melulu ikan. Masih banyak kandungan bawah laut yang bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah mutiara.

Sudah sejak ”zaman batu” -sekitar 7.500 tahun yang lalu- mutiara dikenal oleh manusia. Mutiara tertua ditemukan di Uni Emirat Arab di daerah pemakaman Umm al Quwain dengan diameter 0,07 inci (0,18 cm).

Saat itu mutiara lazim dikenakan pada jenazah sebagai hiasan di bibir atas. Dari usia karbon yang terdapat pada mutiara tersebut, diperkirakan mutiara itu terbentuk pada 5.500 tahun sebelum masehi. Penemuan mutiara ini juga menunjukkan bahwa awal perburuan kerang untuk diambil mutiaranya dimulai di jazirah Arab, bukan di Jepang.

Mutiara dihasilkan di dalam jaringan lunak dari muluska hidup. Hampir semua moluska bercangkang dapat menghasilkan beberapa jenis mutiara, melalui proses alami. Sama halnya dengan cangkangnya, mutiara terdiri dari kalsium karbonat dalam bentuk kristal yang disimpan dalam lapisan konsentris.

Mutiara dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu mutiara laut dan mutiara air tawar. Mutiara laut harganya lebih mahal dari mutiara air tawar. Hal ini disebabkan karena mutiara laut membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk menghasilkan satu butir mutiara dan perawatan kerangnya lebih rumit.

Harga mutiara laut ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Kualitas, ditentukan oleh grade A, AA, dan AAA. Kualitas terbaik memiliki grade AAA.
2. Kilau, semakin berkilau semakin mahal harganya.
3. Bentuk, semakin sempurna bentuk bulatnya, semakin mahal harganya. Mutiara dapat juga dijumpai dalam bentuk lain seperti oval, setengah lingkaran, dan tidak beraturan.
4. Kehalusan permukaan, semakin halus permukaan mutiara, semakin mahal harganya.
5. Nacre, semakin tebal lapisan nacre maka semakin mahal harga mutiara.
6. Warna, semakin cerah warnanya, semakin mahal harganya.
7. Ukuran, semakin besar ukuran mutiara, harganya semakin mahal.
8. Berat, semakin berat maka semakin mahal harga mutiara.

Masa panen mutiara air tawar lebih singkat. Hanya butuh waktu 6 bulan. Dalam satu kerang dapat dihasilkan 6 hingga 15 butir mutiara.

Warna mutiara laut dapat putih, coklat, abu-abu, hitam, keemasan, dan hijau. Sedangkan mutiara air tawar, jenis warnanya lebih beragam akibat dari adanya campur tangan manusia pada proses pembentukannya.

Mutiara yang paling berharga sebenarnya jika diperoleh dari alam liar. Pada proses pembentukannya, tidak ada campur tangan manusia sedikitpun. Namun sangat sulit menemukan mutiara jenis ini. Mayoritas mutiara yang dijual di pasaran adalah mutiara hasil budidaya.

Industri mutiara air tawar pertama kali dilakukan oleh Jepang di danau Biwa dengan menggunakan kerang Biwa (Hyriopsis Schlegeli). Sedangkan Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di luar Asia yang melakukan budidaya mutiara air tawar dii daerah Tennessee.

Tiongkok pun tidak mau ketinggalan. Negara ”Tirai Bambu” ini telah sukses sebagai penghasil mutiara air tawar. Pada tahun 2005, Tiongkok berhasil menghasilkan 1.500 ton mutiara air tawar dengan menggunakan kerang Hyripsis Cumingii dan beberapa spesies kerang lain.

Hingga saat ini, rekor perhiasan mutiara termahal masih dipegang oleh seuntai kalung mutiara laut yang dijuluki dengan “La Peregrina” (“The Pilgrim”). Kalung ini disusun dari 61 butiran mutiara laut yang memiliki ukuran, bentuk, warna, dan kilau putihnya yang sempurna. Selain itu ada 8 buah batu rubi yang dikelilingi butiran berlian berbentuk bunga.

Pada tahun 1969 “La Peregrina” kalung ini dibeli dengan harga 37.000 dolar AS oleh aktor film Richard Burton sebagai hadiah untuk istrinya, Elizabeth Taylor. Pada tahun 2011, kalung ini berhasil dijual oleh balai lelang Christie dengan harga 11,8 juta dolar AS (sekitar Rp 157 milyar).

Namun, ada mutiara yang nilainya ditaksir mencapai 100 juta dolar AS (Rp 1,33 trilyun). Padahal mutiara ini bukan perhiasan yang indah. Mutiara ini ditemukan oleh seorang nelayan Filipina sekitar tahun 2006 di laut dekat pantai pulau Palawan, di dalam sebuah kerang raksasa. Ukuran mutiara ini 26 inci (66,04 cm) dan beratnya 75 pound (34,02 kg)

Di dunia dikenal ada 4 jenis mutiara; south sea pearl, black pearl, akoya atau mikimoto, dan China fresh water. Dari Indonesia dihasilkan jenis south sea pearl (mutiara laut selatan).

Indonesia yang dua pertiga wilayahnya adalah laut memiliki mutiara laut selatan terbaik di dunia. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan mutiara laut selatan terbesar. Kemudian disusul Australia, Filipina, Myanmar, dan lainnya. Sedangkan pangsa pasar terbesar untuk mutiara laut selatan adalah Jepang, sebesar 80%.

Jika dilihat dari nilai perdagangan, Indonesia menempati urutan kesembilan dunia di bawah Hongkong, Tiongkok, Jepang, Austalia, Tahiti, Amerika Serikat, Swiss dan Inggris. Nilai ekspor mutiara laut selatan oleh Indonesia lebih dari 29 juta dolar AS dengan negara tujuan Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Baru, dan Prancis.

Lombok, Sumbawa, Maluku, dan Laut Banda adalah beberapa daerah di Indonesia penghasil mutiara laut selatan. Air laut yang hangat dan banyaknya plankton membuat kerang Pinctada Maxima dapat menghasilkan mutiara laut selatan kualitas jempolan. Perlu diketahui mutiara laut selatan adalah salah satu mutiara terbaik di dunia karena memiliki kilau dan pantulan cahaya yang indah dan lembut. 

Mengingat mahalnya harga mutiara laut dan banyaknya beredar mutiara imitasi dengan tampilan yang mirip dengan mutiara asli, ada tips sederhana yang dapat dipakai untuk membedakan keduanya. Jika mutiara digigit terasa seperti pasir dan permukaan mutiara tidak lecet, maka mutiara asli. Namun jika digigit terasa licin dan permukaannya lecet, maka mutiara palsu.

Keindahan mutiara (asli) memang tidak lekang oleh waktu. Oleh sebab itu, keindahan mutiara ’dipinjam’ untuk memotivasi manusia agar senantiasa berkualitas ; ”Jadilah mutiara, walaupun di dalam lumpur tetap berkilau”. (555)

 

Komunitas