Menyenter Lobster Air Tawar

Selasa, 04 Juli 2017, 10:47 WIB

Lobster

 AGRONET – Sekarang saatnya mulai menyenter budidaya lobster, termasuk lobster air tawar.  Lihat saja di kawasan wisata perbatasan Thailand-Myanmar, di sekitar Chiang Mai. Menu mewah di restoran-restoran setempat adalah lobster. Padahal daerah tersebut adalah dataran tinggi, dan jauh dari laut. “Ya, ini lobster asli dari sini. Lobster sungai,” kata sang pramusaji restoran.

Menyebut nama lobster, asosiasinya memang udang besar dari laut yang disajikan khusus di restoran-restoran seafood.  Padahal tak selalu demikian. Tidak sedikit lobster air tawar yang ada di aliran sungai yang jernih di Indonesia. Bahkan di aliran sungai di atas air terjun Bantimurung yang membelah tebing kapur Sulawesi Selatan pun terdapat lobster. Namun bukan lobster dari sungai itu yang saat ini banyak dikonsumsi, melainkan lobster yang dibudidayakan sendiri di kebun atau pekarangan.

Sama sekali tidak sulit memelihara lobster air tawar ini. Kemudahan itu menjadi pertimbangan sebuah perusahaan, PT Bumi Suksesindo, untuk membuat pelatihan budidayanya sebagai program CSR perusahaan tersebut. Menurut Mufizar Mahfudz, Manajer Komunikasi perusahaan itu, selain mudah budidayanya, jangkauan pasar lobster air tawar juga sangat luas.

Hanya sepetak kolam semen yang perlu dipersiapkan untuk budidaya lobster air tawar itu. Juga kepastian air yang berkualitas baik. Lobster bisa hidup pada air dengan suhu yang rendah hingga relatif tinggi. Yang diperlukan adalah kandungan oksigen yang relatif tinggi, yakni di atas 4 ppm untuk membuat lobster dapat tumbuh sehat.  Pada budidaya di kolam, hal tersebut tak cukup dengan aliran air apa adanya, melainkan perlu dibantu dengan aerasi yang baik untuk dapat mengikat oksigen udara.

Tingkat keasaman air juga perlu lebih rendah dari rata-rata. Idealnya dengan PH sekitar 7-8, serta relatif cukup mengandung kandungan kalsium untuk membantu penumbuhan cangkang lobster. Sebelum diisi air, kolam dapat dibaluri dengan kapur untuk memastikan kandungan kapur tersebut. Bagian atas kolam hendaknya dibuat licin sehingga lobster tidak dapat memanjat untuk keluar dari kolam. Juga harus dipastikan bahwa kolam terlindung dari musang air atau lingsang, maupun biawak, yang dapat memakan udang besar tersebut.

Benih lobster air tawar mudah didapatkan. Banyak pasokan benih lobster untuk dibesarkaan dengan harga sekitar Rp 2.500 per ekor dengan ukuran 5 cm. Benih dapat ditebar di kolam dengan tingkat kepadatan sekitar 10 ekor/meter persesi. Urusan makanan tidak rumit. Lobster air tawar memakan segala hal, termasuk sayuran. Namun perlu dipastikan bahwa hewan tersebut mendapat  secara cukup.

Cacing beku sangat disarankan, walaupun bisa cacahan keong sawah atau siput. Makan diberikan dua kali sehari, yakni pagi setelah matahari beranjak meninggi, serta sore hari saat mulai petang. Pada pagi hari, jumlah makanan yang diberikan cukup seperempatnya. Sisanya, tiga perempatnya, diberikan pada petang hari saat aktivitas lobster mulai meningkat memasuki malam hari.

Enam sampai delapan bulan budidaya itu dilakukan sebelum dipanen. Lobster dengan ukuran sekitar 8-12 ekor per kg yang paling banyak diminta pasar untuk konsumsi. Lobster itu juga dapat dijual sebagai indukan, atau untuk memenuhi permintaan lobster hias di akuarium. Jadi memang saatnya untuk lebih menyenter budidaya lobster. (312)