Kapan Terakhir Makan Buah-buahan ini ?

Sabtu, 29 Juli 2017, 01:23 WIB

Buah Jamblang

AGRONET - Beberapa bulan yang lalu, seorang teman baru saja melangkah ke luar masjid setelah selesai menunaikan shalat Jumat di daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Tiba-tiba saja ia melihat seorang laki-laki paruh baya lewat di depannya sambil memikul dua keranjang berisikan buah jamblang. Spontan ia teringat kenangan lebih dari 40 tahun silam.

Ketika itu ia masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Di halaman rumah salah seorang tetangganya tumbuh pohon jamblang yang sering ia panjati bersama beberapa teman. Ia masih ingat betul rasa buah yang bentuknya mirip anggur itu. Juga, lidah yang menjadi berwarna ungu setiap selesai menyantap buah jamblang.

Teman itu kemudian membeli buah jamblang yang sudah lama sekali tidak ia cicipi. Sesampainya di rumah, sambil menyantap jamblang, ia mengobrol dengan seorang teman lainnya – bernostalgia soal Jamblang. Tidak hanya Jamblang, tapi mereka juga mencoba untuk mengingat-ingat buah apa saja yang sekarang nyaris tidak pernah ditemui lagi. Terutama di Jakarta.

Berikut beberapa buah yang sudah sulit dijumpai. Ada kemungkinan di beberapa daerah masih lebih mudah ditemukan.

1. Jambu Monyet
Jambu Monyet

Buah ini dikenal juga dengan nama jambu mede, jambu mete, atau jambu mente. Bijinya lebih terkenal dari buahnya. Biji buah ini biasanya dikeringkan dan kemudian digoreng, Kita mengenalnya dengan nama kacang mede, kacang mete, atau kacang mente.

Sebenarnya, buah ini tidak masuk dalam keluarga jambu-jambuan maupun kacang-kacangan, tapi lebih dekat hubungannya dengan mangga.

2. Cempedak
Bentuk, dan rasa buah ini mirip dengan nangka. Namun ukuran buah cempedak lebih kecil dan mengeluarkan aroma wangi yang tajam. Di beberapa daerah, buah ini ini dikenal dengan nama lain seperti; nangka beurit (Sunda), nongko cino (Jawa), cubadak hutan (Minangkabau), dan  tiwadak (Banjar).

3. Gandaria
Buah ini tumbuh di daerah tropis dan sering dikonsumsi dalam bentuk rujak atau sebagai campuran sambal gandaria. Ketika masih muda, gandaria berwarna hijau dan akan berwarna kuning ketika sudah matang. Rasanya kecut.

Daun gandaria dapat pula dikonsumsi sebagai lalap, sedangkan batangnya dapat dimanfaatkan untuk papan.

4. Ceremai
Buah ini bentuknya bulat kecil dan rasanya asam, dikenal pula dengan nama lain seperti cerme, cereme, atau cermai. Di Aceh disebut dengan ceureumoe dan di Malaysia dikenal dengan nama chermai. Umumnya pohon Ceremai berbuah sangat banyak dan ditanam di halaman sebagai peneduh.

Buah ini lebih sering dibuat sebagai manisan, kadang dimakan dengan dicampur gula atau untuk campuran rujak. Daunnya dimakan sebagai lalap. Sedangkan rebusan akar ceremai dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk meringankan asma dan mengobati penyakit kulit.

5. Ciplukan
Buah ini digemari anak-anak. Karena ukurannya kecil, maka ketika telah masak, buah tertutup oleh perbesaran kelopak bunga. Selain buahnya, hampir seluruh bagian tanaman ciplukan dapat dimanfaatkan, terutama untuk ramuan obat tradisional. Ciplukan dikenal juga dengan nama cecenet atau cecendet, nyurnyuran, atau kopok-kopokan.

6. Gowok
Bentuk buah ini bulat dengan garis tengah 2 – 3 cm, berwarna ungu tua hingga hitam mengilat. Daging buahnya berwarna putih kadang agak merah keunguan. Rasanya asam, asam manis dan agak sepat.

Buah ini di Jakarta dikenal dengan nama gohok. Di Jawa disebut gowok, orang Sunda menyebutnya kupa atau kupa beunyeur dan orang Bugis atau Makassar menyebutnya pasui. Buah ini masuk dalam anggota suku jambu-jambuan.

7. Jamblang
Buah jamblang, walaupun telah matang, masih terasa sepat. Untuk mengurangi rasa sepat dan membuat lebih lunak, jamblang yang yang matang, sebelum disantap dicampur dengan sedikit garam dan gula. Bentuk buah jamblang mirip anggur. Warnanya ungu. Jika kita makan buah ini, kadang membuat lidah kita juga menjadi berwarna ungu.

Jamblang yang masuk dalam suku jambu-jambuan, dikenal juga dengan nama juwet atau duwet (Jawa), jambee kleng (Aceh), jambu kling, nunang (Gayo), dan lain-lain. Buah ini mengandung banyak vitamin C dan A. Selain buahnya dimakan, kayunya dimafaatkan juga untuk bahan bangunan. Karena kualitasnya kurang baik, kayu pohon Jamblang lebih sering dipakai sebagai kayu bakar.

8. Sawo Duren
Umumnya sawo duren dikonsumsi sebagai buah segar. Kadang digunakan sebagai bahan baku es krim atau serbat. Pohon sawo duren biasanya mulai berbuah setelah berumur 5 sampai 6 tahun. Puncak musim berbuah terjadi pada musim kemarau. Buah ini dikenal juga dengan nama kenitu atau genitu.

9. Buni
Buah ini biasanya dimakan sebagai rujak. Ada juga yang langsung memakannya ketika sudah matang atau dibuat sebagai selai. Pada pohonnya, buah buni yang bentuknya bulat dan berwarna merah, tersusun dalam satu tangkai panjang. Orang Sunda menyebut buni dengan nama boni atau huni. Orang Jawa menyebutnya wuni.

10. Jambu Bol
Sesuai dengan namanya, jambu bol masuk dalam kerabat jambu-jambuan. Tekstur buah ini lebih lembut dan padat dibandingkan dengan jambu air. Jambu bol sering disantap sebagai buah segar. Rasanya manis. Kadang, dimakan dalam bentuk rujak atau manisan.

11. Kemang
Buah ini sangat mirip dengan mangga, tapi kemang lebih harum. Rasanya manis dan banyak orang suka menikmati kemang sebagai es buah - dicampur dengan air, gula pasir, dan es batu.

12. Kesemek
Buah kesemek dikenal juga dengan nama buah kaki atau ”Oriental Persimmon”. Buah ini berbentuk bulat, mirip dengan apel. Bedanya, pada kesemek terdapat semacam bedak putih pada permukaan kulit buahnya. Jika sudah matang, kesemek berwarna hijau kekuning-kuningan sampai oranye.

13. Matoa
Buah matoa adalah buah khas Papua. Bentuknya bulat agak lonjong dan besarnya mirip rambutan. Umumnya pohon matoa berbuah sekali dalam setahun. Buah ini juga dapat dijumpai di beberapa daerah seperti Sulawesi dan Maluku.

Jika telah matang warna matoa kuning kehitaman. Rasanya manis dan rasanya mirip dengan campuran rasa rambutan dan kelengkeng.

14. Sawo Kecik
Buah ini masuk dalam kerabat sawo-sawoan. Kadang disebut sebagai sawo Jawa. Bentuk buahnya mirip telur. Jika sudah matang, sawo kecik rasanya manis, kadang terasa agak sepat.

15. Lobi-Lobi
Pohon Lobi-lobi berasal dari kawasan Asia beriklim tropis. Selain diambil buahnya, pohon ini ditanam dengan tujuan sebagai peneduh.

Buah Lobi-lobi bentuknya bulat dengan diameter sekitar 1 sampai 3 cm. Kulit buahnya lunak dengan permukaan kulit yang licin. Jika telah masak, warnanya merah tua. hingga ungu kekuningan. Rasa Lobi-lobi asam dan agak sepat. Kebanyakan Lobi-lobi disantap dalam bentuk rujak atau manisan.

16. Kecapi
Buah ini disebut juga dengan sentul atau ketuat. Pohon kecapi dapat mencapai tinggi 30 meter dan batangnya dapat mencapai diameter 90 cm.

Bentuk buah kecapi bulat pepat. Pada saat telah matang, warnanya kuning kemerahan. Rasanya agak asam. Kecapi sering dimakan langsung sebagai buah segar atau dijadikan manisan.
Selain buahnya, pohon kecapi juga diambil kayunya. Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah.

17. Menteng
Sepintas, buah ini mirip dengan duku. Nama lain dari buah ini adalah Kepundung atau kemundung. Umumnya rasa buah menteng asam, walaupun telah matang. Tumbuhan ini asli dari pulau Jawa. Kadang-kadang, kita masih dapat menemukan buah ini di kota Bogor.

18. Murbei

Buah Murbei
Buah murbei merupakan buah majemuk. Warnanya hijau ketika masih muda. Ketika sudah matang, warnanya kuning kemerahan dan rasanya manis.

Tanaman murbei tidak hanya diambil buahnya. Tanaman ini sering dibudidayakan untuk memanfaatkan daunnya sebagai pakan ulat sutera. Selain itu, tanaman Murbei juga dimanfaatkan sebagai obat berbagai macam penyakit, seperti sembelit, hepatitis, tekanan darah tinggi, cacingan, dan lain-lain.

19. Kepel
Di tanah Pasundan, buah ini dikenal dengan nama burahol. Putri kraton Jawa menggemari buah ini karena dapat membuat badan menjadi harum dan menghilangkan bau air seni. Pada saat telah matang, buah ini dimakan sebagai buah segar. Daging buahnya berwarna jingga dan mengeluarkan aroma wangi.

Kayu pohon Kepel cocok digunakan sebagai perkakas rumah tangga dan bahan bangunan. Menurut cerita, kayu pohon Kepel tahan lebih dari 50 tahun.

20. Carica
Karika (sering ditulis Carica) disebut juga dengan pepaya Dieng. Buah ini masuk dalam kerabat Pepaya yang menyukai dataran tinggi basah. Di wilayah Wonosobo disebut dengan Carica, sedangkan di Bali disebut gedang memedi. Daerah asal buah ini adalah dataran tinggi Andes, Amerika Selatan.

Buah ini berbentuk bulat telur, mirip pepaya tapi ukurannya lebih kecil. Hanya sekitar 6 sampai 10 cm. Dagingnya keras, berwarna kuning jingga. Rasanya agak asam tetapi harum.Pada saat telah matang warnanya kuning. Carica umumnya dijadikan sirup, selai atau manisan.

21. Mundu
Ada yang menyebut buah ini dengan apel Jawa. Buah ini berkerabat dekat dengan manggis. Dipercaya sebagai tanaman asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian Kalimantan.

Ketika sudah matang, mundu berwarna kuning dan oranye. Rasanya asam dan manis. Umumnya mundu dikonsumsi sebagai buah segar atau diijadikan selai.

22. Rambai
Buah rambai masih berkerabat dekat dengan buah menteng. Namun rambai memiliki rasa yang lebih manis. Kulit buah rambai seperti beludru dengan warna kuning atau coklat muda. Buah ini dapat dimakan langsung, dibuat menjadi selai atau manisan.

Buah ini tumbuh di kebun-kebun di daerah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Orang Thailand menyebutnya dengan nama mafai-farang. (555)

 

 

 

BERITA TERKAIT