Budidaya Lebah Trigona, Mudah dan Menguntungkan

Kamis, 07 September 2017, 23:16 WIB

Lebah Trigona

AGRONET - Lebah merupakan salah satu hewan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Saat ini, budidaya lebah yang populer adalah Apis mellifera. Sistem budidaya lebah ini memiliki banyak tantangan, di antaranya, sifat lebah yang bermigrasi dan memerlukan pakan yang tidak sedikit.

Menurut Dr. Sih Kahono (dari Laboratorium Ekologi Hewan, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI), tantangan tersebut terjadi karena dalam mencari pakan, lebah A. mellifera memiliki satu komandan yang menentukan kemana lebah pekerja harus memanen nektar bunga dan lebah A. mellifera juga merupakan spesies introduksi yang memerlukan lingkungan tertentu untuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik, sehingga ada cukup banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam budidaya lebah tersebut.

“Sifat lebah A.mellifera yang memiliki sengat juga sering menimbulkan penolakan dari masyarakat sekitar peternakan lebah,” kata Dr. Sih Kahono dalam Pelatihan Budidaya Lebah Madu Trigona di Ruang Pertemuan 2, Gedung Widyasatwaloka, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Cibinong Science Center, Selasa (5/9/2017).

Pelatihan yang dibuka oleh Dr. Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Zoologi, LIPI, ini merupakan rangkaian kegiatan “Ekspose Pusat Penelitian Biologi-LIPI” dengan tema “50 Tahun Peran Pusat Penelitian Biologi dalam Pengungkapan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Indonesia secara Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Bangsa”. Kegiatan Ekspose merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) LIPI ke-50.

BERITA TERKAIT

Dr. Kahono selanjutnya menyatakan, sekarang ada budidaya lebah yang lebih aman dan menguntungkan dibandingkan lebah A.mellifera, yakni beternak lebah trigona. Lebah ini tidak memiliki sengat; sangat aman untuk masyarakat sekitar peternakan. Lebah trigona juga termasuk tipe lebah menetap, terlebih lagi, genus ini tersebar luas di wilayah barat Indonesia. Kedua faktor ini memudahkan manajemen sarang dibandingkan dengan A. mellifera yang senang bermigrasi.

“Lebah trigona termasuk dalam lebah getah, selain mencari nectar untuk memproduksi madu, lebah ini juga menggunakan resin (bahan baku propolis) untuk membuat sarangnya. Oleh karena itu, selain madu, lebah ini juga memproduksi propolis yang tidak bernilai jual tinggi sebagai produk samping,”jelasnya.

Budidaya lebah trigona, katanya lebih lanjut, tidaklah sulit, terutama bila dibudidayakan di lingkungan pedesaan. Pakan lebah dapat berasal dari berbagai jenis bunga. Ada baiknya bila sumber pakan adalah tanaman berkhasiat obat, sehingga madu yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih. Sarang lebah dibuat dari material kayu yang keras.

Pastikan kayu dalam keadaan kering dan bersih untuk menghindari serangan cendawan. Bagian luar kayu di cat dengan cat anti air. Tutup semua lubang pada kayu, dan buat lubang untuk jalan keluar masuk lebah.

Pada saat pemindahan koloni, Dr. Sih Kahono minta peserta pelatihan untuk memperhatikan susunan telur dan madu pada sarang awal, karena setiap spesies lebah trigona memiliki ciri susunan sarang sendiri. Pada pelatihan ini, susunan sarang dari pintu masuk adalah madu, lalu anakan. Maka, yang dipindah lebih dulu, menurut Dr. Sih Kahono, adalah anakan (pastikan ratu atau calon ratu ikut dalam pemindahan), lalu madu.

Sebagai catatan, jelasnya, pada saat pemindahan, sel berisi madu tidak boleh pecah, untuk menghindari serangan semut, cendawan, ataupun musuh alami lainnya. “Oleskan sedikit cairan pada pintu sarang sebelumnya ke pintu sarang baru, sehingga lebah mengenali rumah barunya. Letakkan posisi pintu masuk pada sarang baru sama seperti pada sarang sebelumnya dan letakkan sarang lama lebah di samping sarang barunya. Bentuk sarang bias berbagai macam, namun bentuk yang datar akan lebih memudahkan dalam pemanenan dibandingkan dengan bentuk yang berlekuk,”jelasnya lagi.

Pelatihan Budidaya Lebah Trigona diikuti oleh 30 orang peserta dari berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta, serta masyarakat umum. Peserta berasal dari Balai Diklat LHK Bogor, Bappeda Litbang, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Universitas Indonesia, UHAMKA, Universitas Tanjungpura, SMAN 3 Bogor, SMA Al Hidayah, SMK Muh. 1 Rangkasbitung, SMP Plus BLM, wiraswasta, karyawan, petani dan pensiunan pegawai negeri (PNS).

Tujuan dari pelatihan ini antara lain: 1) Membudidayakan lebah dengan memanfaatkan kawasan desa; 2) Menyediakan model perlebahan dengan menggunakan spesies lebah lokal yang aman, teknologi sederhana mudah dan murah, dan dapat diimplementasikan pada masyarakat; dan 3) Memberikan pendidikan dan ekoturisme lebah dan perlebahan madu sehingga kesadaran dan motivasi masyarakat tentang lebah.

Dalam pelatihan ini, peserta diajak berkunjung ke Laboratorium Bahan Kimia Alam-Bidang Botani untuk melihat proses pembuatan propolis yang dipandu oleh Dr. Tri Murningsih. Selanjutnya, peserta diajak ke halaman Gd. Widyasatwaloka untuk melihat secara langsung sarang lebah yang dibudidayakan oleh Dr. Sih Kahono dan tim. (Peni Lestari/Sulasmini/269/018)

 

 

BERITA TERKAIT