Melalui Internet, ‘Sikapat’ Mampu Susun Pakan Sapi

Senin, 18 September 2017, 20:37 WIB

Sikapat

AGRONET - Sebagai komoditas utama penghasil daging di Indonesia, sapi memiliki pangsa pasar yang strategis. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) 2017, Kementan menargetkan impor daging sapi dan sapi bakalan setara daging sebesar 55.218 ton, dengan rincian, impor sapi bakalan untuk digemukkan selama 3 bulan, pada April sebanyak 32.944 ton, pada Mei sebanyak 11.931 ton, dan pada Juni sebanyak 10.343 ton. Total impor daging sapi beku sebanyak 110.896 ton dan sapi bakalan setara daging sapi sebanyak 139.300 ton. Total kebutuhan selama 2017 ditetapkan sebanyak 604.966 ton, dengan perkiraan produksi daging sapi lokal sebanyak 354.770 ton. 

Salah satu solusi untuk menekan impor daging sapi adalah dengan memberdayakan peternak sapi lokal untuk dapat dengan efektif menggemukkan sapi dalam waktu yang terukur serta biaya yang paling ekonomis. Para peternak biasanya menggunakan komposit pakan sebagai tambahan dalam pakan ternak. Namun permasalahannya, komposit yang digunakan adalah komposit pabrikan yang telah diracik dan memiliki harga tertentu. Peternak juga masih banyak yang awam tentang cara mencapai berat yang diinginkan dengan kebutuhan komposit yang akan diberikan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Bangun Wijayanto,ST.,M.Cs, salah seorang Dosen Teknik Informatika (TI), Fakultas Teknik (FT), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, berinisiatif mengembangkan sebuah alat penyusun pakan komposit sapi. Alat yang diberi nama Sikapat (Sistem Komputerisasi Pakan Ternak) tersebut mampu melakukan penyusunan komposit pakan ternak berdasarkan target berat ternak yang diinginkan serta pertimbangan harga pakan.

Cara kerja alat tersebut adalah, pertama-tama Sikapat akan mengambil harga-harga bahan pakan ternak di internet. Kemudian, dengan algoritma tertentu data harga tersebut diolah bersama data berat dan target berat sapi serta kandungan nutrisi dan protein bahan pakan. Setelah itu, secara otomatis sistem akan mengeluarkan komposit pakan dengan hasil harga termurah serta memenuhi kandungan nutrisi dan protein penggemukan.

Uniknya, data-data sapi tidak dimasukkan secara manual oleh peternak, tetapi menggunakan sebuah kartu Radio Frequency Identification (RFID). Caranya, peternak cukup mendekatkan kartu RFID dari masing masing sapi ke alat Sikapat. Tapi sebelum itu, data target dan identitas sapi telah dimasukkan terlebih dahulu ke tiap kartu yang digantungkan ke sapi.

Untuk saat ini, sistem tersebut menggunakan tiga bahan baku utama, yakni dedak, onggok, dan bungkil. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan Dosen Fakultas Peternakan (bidang Ilmu Bahan Makanan Ternak), Unsoed, Prof. Dr. Ir. Wardhana Suryapratama, M.S.

Menurut Bangun, alat tersebut juga dapat digunakan untuk proses penggemukan hewan lainnya bergantung pada pengetahuan mengenai komposit yang ditanamkan. “Sebagai sebuah prototype, alat tersebut memiliki keterbatasan, yakni hanya mampu menangani berat bahan komposit maksimum 9 kg. Ke depan akan dikembangkan agar mampu membuat komposit yang lebih besar,” jelas Bangun. (Alief/Humas Unsoed/269/018).

 

BERITA TERKAIT