Deteksi Cepat Penyakit Cincin Pepaya

Minggu, 05 November 2017, 18:47 WIB

Penyakit bercak cincin pepaya yang disebabkan Papaya ringspot virus (PRSV) merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman pepaya.

AGRONET - Indonesia termasuk negara penghasil pepaya kelima terbesar di dunia setelah India, Brasil, Nigeria, dan Meksiko. Produksi pepaya di Indonesia dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak menentu serta gangguan hama dan penyakit.

Salah satu patogen penting yang dapat menurunkan produksi pepaya yaitu Papaya ringspot virus (PRSV). Peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Faperta IPB), Irsan Nuhantoro, Sri Hendrastuti Hidayat dan Kikin Hamzah Mutaqin melakukan penelitian tentang konstruksi pelacak DNA Papaya ringspot virus berdasarkan gen helper component untuk metode deteksi hibridisasi asam nukleat.

Sri mengutarakan bahwa penyakit bercak cincin pepaya yang disebabkan Papaya ringspot virus (PRSV) merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman pepaya. PRSV mampu menginfeksi tanaman pepaya dan tanaman anggota Cucurbitace di daerah tropik dan subtropik. Penyakit ini menyebar melalui lalu lintas perdagangan komoditas pertanian yang menimbulkan risiko masuknya organisme pengganggu tanaman (OPT) ke wilayah baru. Sehingga dalam pencegahannya dibutuhkan metode deteksi cepat.

Teknik deteksi menggunakan pelacak nukleotida telah banyak digunakan untuk mendeteksi patogen tanaman dengan memadukan tingkat sensitivitas, spesifisitas, kecepatan, kemudahan, dan biaya yang tidak terlalu mahal. Prinsip deteksi hibridisasi menggunakan pelacak nukleotida adalah adanya komplementasi asam nukleat antara asam nukleat pelacak dengan asam nukleat genom virus yang ada pada sampel yang diuji.

”Metode deteksi nucleic acid dot-blot hybridization memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai metode deteksi OPT karantina (OPTK) target dengan jumlah sampel yang besar atau beberapa target OPTK yang menginfeksi satu tanaman,” ujarnya. Pengembangan teknik deteksi ini masih perlu dilakukan, yaitu dengan merancang dan mengembangkan pelacak DNA/RNA yang spesifik.

Selain sebagai cara untuk menentukan adanya infeksi patogen tertentu, pelacak DNA tersebut juga dapat bermanfaat untuk kegiatan evaluasi respons ketahanan tanaman dalam rangka perakitan varietas tanaman tahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode deteksi menggunakan teknik hibridisasi asam nukleat dapat menjadi salah satu alternatif dalam deteksi patogen yang dilakukan dalam tindakan karantina. Metode tersebut memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang baik serta kemudahan dalam pelaksanaannya. (Humas IPB/AT/Ris/111)