Pemerintah Dukung Kecap Organik Buatan STPP Magelang

Selasa, 13 Maret 2018, 17:41 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat memberi kuliah umum di STPP Magelang, Senin (12/3).

AGRONET - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, berharap Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang memasarkan produk olahannya secara masif. Salah satunya, kecap organik merek Pamor. "Ini saja Anda jual, Anda bisa jadi konglomerat. Yang mahal itu ide awal, kecerdasan," ujarnya, disela kuliah umum di STPP Magelang, Senin (12/3).

Menteri Amran berkeyakinan demikian, lantaran masyarakat kelas menengah ke atas cenderung mencari produk-produk organik dan menyehatkan. Karenanya, harus dikembangkan. Menurut perhitungannya, bisa didapatkan omzet sekitar Rp 1,4 triliun per tahun bila dijual di Yogyakarta saja. Jumlah penduduk di Yogyakarta sekitar 3,7 juta jiwa, sebotol Pamor ukuran 150 mililiter dijual Rp 10 ribu dengan masa habis pakai dua pekan.

"Ini baru Yogya, bagaimana (keuntungannya) kalau (dijual) se-Indonesia," ucapnya. Jebolan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu meminta kecap organik yang menggunakan varietas Malika tersebut jangan cuma dijual di etalase skala kecil. "Kembangkan. Kerja sama dengan swasta. Kasih royalti saja, sehingga nanti terlatih," usulnya.

Amran menambahkan, tiada yang mustahil kecuali sulit namun, dengan kebijakan yang tepat semuanya akan tercapai. Amran juga mencontohkan pengalamannya saat menggenjot produksi bawang merah, beras, dan jagung. “Dulu impor jagung Rp 12 triliun per tahun sekarang sebaliknya, Indonesia sukses menjualnya ke sejumlah negara. Bisa ekspor ke Filipina dan Malaysia. Bertambah lagi devisa, petani tambah sejahtera," katanya.

"Bawang dulu impor, sekarang ekspor. Beras juga," lanjut menteri asal Bone ini. Selain memasarkan kecap Pamor, Amran juga meminta STPP mendorong mahasiswanya melakukan penelitian komoditas pertanian sesuai minatnya. Dicontohkannya dengan penemuan sperma sapi Belgian Blue.

Katanya, butuh 200 tahun untuk menyelesaikan riset tersebut. Hasilnya, memperoleh sapi-sapi berotot dengan bobot hingga dua ton. Sedangkan yang ada di Indonesia, umumnya 200-300 kilogram. "Makanya, aku titip mahasiswa meneliti. Pada saatnya nanti, semua temuan hebat dari STPP,” pungkas Amran. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)

BERITA TERKAIT