KKP Optimalkan Limbah Sawit Menjadi Pengganti Pakan Ikan

Kamis, 22 Maret 2018, 10:29 WIB

KKP Optimalkan Limbah Sawit menjadi Pengganti Pakan Ikan

AGRONET - Saat ini Kabupaten Kampar, Riau, merupakan sentra budi daya patin nasional yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi nasional. Kebutuhan akan pakan ikan mandiri menjadi tantangan tersendiri yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha pakan mandiri ini. Dari masalah ketersediaan secara kontinyu sampai dengan masalah pendistribusiannya.

Dalam kunjungan kerjanya Selasa (20/3) di Kabupaten Kampar, Riau, Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Pertanian mengatakan, "Pada beberapa daerah memang masih ada kendala dalam penyediaan alternatif bahan baku pakan yang efisien. Sebenarnya bukan karena bahan baku yang langka, tapi lebih pada belum optimalnya sistem logistik pakan, utamanya konektivitas dari sumber bahan baku ke unit usaha pakan mandiri. Ini yang akan kita cari jalan keluarnya.”

Menurut Slamet salah satu cara mengatasi kendala tersebut adalah dengan mempermudah akses sumber bahan baku dengan koperasi induk pakan mandiri yang ada di daerah melaui kemitraan. Menurut Slamet hal ini penting dilakukan, karena ikan yang dibudidayakan sudah sangat adaptif terhadap pakan mandiri. Oleh karenanya, penggunaan bahan protein nabati dapat menjadi alternatif untuk mengurangi porsi penggunaan tepung ikan.

Dan salah satu upaya mengurangi porsi penggunaan tepung ikan untuk pakan yakni dengan memanfaatkan bunhkil (palm karnel meal/PKM) kelapa sawit, di mana di Provinsi Riau ketersediaannya sangat melimpah.

PKM sawit sendiri merupakan produk sampingan dari pembuatan minyak kelapa sawit. Ketersediaan PKM di dalam negeri sangat melimpah, bahkan 94% PKM yang diproduksi justru diekspor. Data Kementerian Perindustrian mencatat, Indonesia merupakan negara penghasil PKM nomor dua di dunia setelah Malaysia.

Slamet menilai kondisi ini menjadi peluang besar untuk memanfaatkan PKM sebagai bahan baku pakan ikan. Protein dari PKM dapat mengurangi penggunaan protein dari tepung ikan, sehingga harga pakan akan menjadi lebih murah.

Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional, Syafruddin dalam keterangannya mengakui bahwa penggunaan PKM kelapa sawit telah menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein nabati dalam pakan mandiri. Menurutnya, penggunaan PKM sawit dalam pakan ikan berkisar antara 8-10 %. Ia juga mengakui keuntungan lain memanfaatkan bahan baku ini yakni adanya tambahan kandungan lemak hingga 10%, sehingga diharapkan dapat meningkatkan performa pertumbuhan ikan.

"Saat ini kebutuhan PKM sawit masih disuplai melalui kerja sama dengan Sinar Mas Group yaitu PT. Rama-rama. Di Kabupaten Kampar ada lebih dari 300 pelaku pakan mandiri, dari semuanya dibutuhkan sedikitnya 33 ton PKM sawit per hari,” ungkapnya.

Sebagai gambaran dari hasil uji yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), komposisi kandungan nutrisi PKM sawit antara lain: kadar protein berkisar 15-18%; mengandung sekitar 10 kandungan asam amino esensial; kadar lemak sebesar 9,5%; serat kasar 25,19%; dan rasio Ca:P adalah 1:2,4. PKM juga mengandung trace mineral mangan (Mn) yang baik.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan PKM sawit sebanyak 8?lam pakan dapat menghasilkan kinerja pertumbuhan yang optimal bagi ikan lele.

Syafruddin maupun Slamet sepakat bahwa PKM Sawit ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti pakan ikan mandiri. Dan ketersediaannya bisa dilakukan salah satunya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Keduanya berharap pemerintah bisa memfasilitasi kerja sama antara pabrik pengolah sawit dengan koperasi pakan mandiri dalam hal pemanfaatan PKM kelapa sawit ini.

Sebagaimana diketahui, di Riau saja ada sekitar 48 pabrik industri pengolah sawit, di mana ada sekitar 3 perusahaan yang mengolah PKM sawit. Kalau 10-20 % bisa dialokasikan melalui CSR, bisa lebih dari cukup untuk menyuplai kebutuhan pakan mandiri yang ada dan tidak menutup kemungkinan bisa disuplai ke luar Riau.

"Kami berharap pemerintah bisa mengeluarkan semacam aturan kepada seluruh perusahaan pengolah sawit baik BUMN/BUMD maupun swasta untuk mengalokasikan 10 % saja PKM sawit bagi kebutuhan bahan baku pakan ikan di Provinsi Riau. Jangan sampai seluruhnya diekspor,” tegas Syafruddin. (Humas KKP/RF)