Irigasi Jebol, Tanaman Padi Siap Panen Rusak Terendam

Senin, 26 Maret 2018, 15:06 WIB

Irigasi yang jebol merusak tanaman padi siap panen. | Sumber Foto:KBRN

AGRONET - Luasan areal pertanaman padi warga Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, karena terendam banjir, kondisi batang tanaman padi yang mulai keluar bulir sebagian rebah. Kondisi ini bisa dipastikan berdampak pada hasil panen petani menurun.

Kepala Desa Leuntolu, Patrisius Luan mengatakan, luasan lahan basah areal persawahan willayah Desa Leuntolu seluas 348 hektar, di mana sementara digarap warga tani setempat. Dalam beberapa tahun terakhir seringkali terjadi banjir di saat tinggi curah hujan menyebabkan areal pertanaman padi warga ikut terendam.

Menurutnya, dampak banjir lebih diakibatkan jebolnya tanggul penahan serta paskah banjir timbunan material lumpur pada saluran irigasi obor lokasi setempat. Arus air meluap dan ikut mengenangi luasan lahan pertanaman padi warga. "Irigasi Obor Bendung yang sudah 4 tahun itu rusak tersumbat karena tumpukan sedimen tertimbun di pintu air," terang Patris Luan, Senin (26/3).

Upaya Pemerintah dari Balai Sungai Nusa Tenggara II sempat datang untuk normalisasi namun cuma di badan bendung irigasi tersebut, tidak sampai ke hulu. Upaya dimaksud menurutnya belum bisa menjawab, sebab curah hujan tinggi arus air masuk pemukiman dampak ikutan terendam areal pertanaman padi warga.

"Cuma di badan bendungnya saja penanganan perbaikan tidak sampai ke hulu. Artinya di hulu itu dibuka luas sehingga di saat banjir, luapan itu bisa buang lurus kalau dia hanya 300 meter otomatis putaran air bercampur sedimen lumpur akan kembali menimbun pintu air," tambah Patris.

Akibat terendam air tanaman padi warga diperkirakan berusia 3 bulan yang telah berbulir dan hampir memasuki masa panen dalam kondisi rebah. Pilihan bibit seperti jenis IR-65 dengan pokok batang tinggi tidak bisa saling menopang sehingga rumpun tanaman sebagian merunduk menyebabkan terendam dalam areal sawah bercampur lumpur. Kondisi menyebabkan hasil panen jadi tidak maksimal dan petani merugi. (KBRN/111)

BERITA TERKAIT