HKTI Lantik Pengurus DIY

Sabtu, 31 Maret 2018, 22:21 WIB

Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), melantik pengurus HKTI DIY periode 2018-2023

AGRONET - Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), melantik pengurus HKTI DIY periode 2018-2023 di Balaikota Yogyakarta, Sabtu (31/3). Usai dilantik, acara dilanjutkan dengan pembacaan ikrar yang diikuti oleh seluruh pengurus HKTI DIY.

Pelantikan bertajuk ”Revitalisasi Tugas, Peran & Fungsi HKTI Guna Mewujudkan Kedaulatan Pangan serta kesejahteraan petani wilayah DIY" ini juga disaksikan oleh Walikota Yogyakarya Haryadi Suyuti dan Sekda DIY Gatot Saptadi.

Moeldoko menjelaskan bahwa pengurus HKTI dalam mengurus petani tidak boleh hanya bicara, tapi harus mampu memberikan bukti. Menurutnya, melakukan sesuatu secara nyata dimaksudkan agar HKTI dapat dirasakan kehadiran dan manfaatnya oleh rakyat. 

”Jadi jangan hanya diskusi, rapat, seminar, dan lain-lain. Berbuatlah dan mulai dari yang kecil tapi penuh determinasi dan semangat besar. HKTI harus berkarya. Bukan hanya ngomong, tapi buktikan. Mana barangnya, mana buktinya. Karena itu kita buat demplot dimana, setelah demplot bagus baru undang petani," tutur Moeldoko.

Pesan lain yang disampaikan Moeldoko adalah HKTI harus memahami pertanian secara luas. Tugas HKTI bukan hanya menggeluti bidang pangan seperti padi, jagung, dan kedele saja namun juga meliputi hortikultura, perkebunan, tanaman hias, perikanan darat, peternakan, dan sebagainya.

Untuk itu, Moeldoko minta seluruh insan HKTI terjun langsung ke lapangan dan berbuat sesuatu secara nyata. Hal ini selain untuk merasakan langsung kenyataan dunia pertanian di lapangan. ”HKTI hadir menjadi solusi bagi petani dan pertanian Indonesia. Tidak ada gunanya kita hanya bermodalkan spanduk, bendera, kaos dengan tulisan HKTI tetapi tidak menyentuh petani," ujar mantan Panglima TNI ini.

Moeldoko menjelaskan, agar menjadi solusi yang baik, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dunia pendidikan, lembaga riset dan development, social enterprise, pebisnis, dan lainnya.

HKTI juga telah mengembangkan bibit padi varietas M70D dan M400. M70D dengan hasil 7,4 ton per hektar. Varietas M400 hasilnya hampir 11 ton per hektar. ”HKTI juga punya pupuk organik. Dengan pemanfaatan pupuk ini tanah rusak dan ekosistem berjalan. Saat ini di sawah tidak lagi ada cacing, kodok, ular, yang ada hanya satu, tikus.

Kita kembalikan ekosistem tersebut. HKTI juga memiliki Brigade Anti Hama," tutur Moeldoko. Selain itu Moeldoko juga meminta HKTI melakukan pendampingan pada petani dengan transfer of technology (ToT), sehingga petani bisa menerapkan teknologi. (KBRN/555)