Pemetaan DNA 3.500 Tanaman Obat Indonesia Telah Dilakukan

Jumat, 04 Mei 2018, 09:09 WIB

Ilustrasi tanaman obat

AGRONET-Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan melalui B2P2TOOT Tawangmangu melakukan pemetaan (mapping) profil DNA Fingerprint dari 3.500 tanaman obat Indonesia. Pemetaan profil DNA tersebut dilakukan bersama Fakultas Biologi UGM, Fakultas Farmasi UGM, dengan didukung delapan perguruan tinggi lainnya di Indonesia, diantaranya Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, FIMPA Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian UGM, Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Biosains Universitas Brawijaya, Fakultas Saintek UIN Maulana Malik Ibrahim, FMIPA Biologi Universitas Airlangga, dan Fakultas Saintek UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dalam melakukan analisis lanjutan tanaman obat hasil Riset Tanaman Obat dan Jamu (Ristoja) 2017, B2P2TOOT juga menggandeng Pusat Penelitian Biologi LIPI untuk melakukan analisis lanjut tanaman obat hasil Ristoja 2017.
Sebagai langkah pemantapan metode dan koordinasi pelaksanaan kegiatan tersebut, B2P2TOOT Tawangmangu menyelenggarakan rapat koordinasi teknis bersama para mitranya. Dalam FGD yang berlangsung pada 22-24 April 2018 ini membahas mengenai teknik analisis profil DNA fingerprint dan keragaman fitokimia tanaman obat, manajemen keuangan, serta perumusan draft kerja sama dengan laboratorium mitra.

Slamet Wahyono, ketua Ristoja 2017, menyampaikan harapannya dapat terjalin kerja sama yang saling menguntungkan antara B2P2TOOT dengan instansi mitra sehingga menghasilkan output yang bermanfaat. Output yang dimaksud adalah tersusun database potensi tanaman obat nasional serta mendukung peningkatan kapasitas perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Budi S. Daryono, menyampaikan pemetaan DNA tanaman obat Indonesia sangat penting dilakukan dalam upaya konservasi dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman obat. Selain itu, identitas dan data-data berbagai tanaman obat asli Indonesia dapat didokumentasikan dan dipetakan kemanfaatannya.

“Indonesia merupakan hotspot biodiversitas dengan lebih dari 32 ribu tanaman yang berkhasiat obat. Ristoja ini merupakan riset strategis dan pertama dalam sejarah Indonesia mendata seluruh tanaman obat di seluruh daerah Indonesia,” tuturnya. (Humas UGM/222)

 

BERITA TERKAIT