Daya Serap Gabah Bulog Meningkat

Sabtu, 05 Mei 2018, 09:26 WIB

Ilustrasi tanam padi | Sumber Foto:Pexel

AGRONET- Akhir April lalu merupakan serapan gabah tertinggi selama tahun 2018 ini. Dari data yang ada dilaporkan, bahwa rata –rata-rata  serapan gabah harian sebesar 17 ribu ton. Bila sebelumnya angka serap gabah harian petani pada 27 April 2018 sebesar 14.516 ton, hanya dalam tiga hari naik cukup besar menjadi 22.758 ton pada 30 April 2018.

Kementan bersama Bulog berusaha memaksimalkan serapan gabah pada musim panen antara Januari hingga Mei untuk menjaga stabilitas harga jelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2018.

"Dalam penyerapan gabah kita memperhatikan empat kriteria, yaitu gabah dengan kelembaban maksimal 30 persen, harga pembelian pemerintah (HPP), fleksibilitas hingga 20 persen dari HPP, dan pasokan beras komersil atau premium” ujar Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian.

Agung Hendriadi meyakini bahwa Bulog dibawah kepemimpinan Budi Waseso dapat memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, dengan latar belakang Budi Waseso sebagai penegak hukum, kelompok atau mafia beras yang mencoba mempermainkan pasokan beras dapat ditindak tegas.

"Ketegasan Bulog dalam menyerap gabah memang diperlukan untuk menyukseskan Program Serap Gabah Petani (Sergap). Dan serapan gabah pada bulan April menjadi yang tertinggi saat ini," ujar Agung.

Program Sergap petani ini diluncurkan oleh Kementan sejak 2016. Tujuannya, membantu penyerapan produksi beras petani, sekaligus memastikan stabilitas harga beras dan meningkatkan cadangan beras pemerintah yang menjadi tugas Bulog.

"Dalam Program Sergap Kementan menggandeng Bulog, Perbankan, Babinsa, PPL, Satgas Pangan, dan Kepala Dinas Pertanian dari seluruh daerah. Targetnya menyerap 4,4 juta ton gabah atau 2,2 juta ton setara beras hingga Juni 2018," paparnya.

Sebelumnya, Budi Waseso berjanji akan menindak oknum yang mempermainkan stok beras. Pria yang akrab dipanggil Buwas ini mengatakan, sikap tegas dibutuhkan untuk mengamankan stok bahan pangan, terutama beras menjelang Ramadan. Apalagi, beras merupakan bahan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

"Harapan saya tidak ada yang mempermainkan masalah perut masyarakat Indonesia. Ini suatu kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat menyeluruh. Jadi, saya kira tidak boleh ada yang mempermainkan masalah itu," kata Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional itu. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/222)