Hijaukan Kalimantan Selatan dengan Kemiri

Rabu, 09 Mei 2018, 12:55 WIB

Penanaman Kemiri di Desa Sungai Luar Kecamatan Aranio, Banjar, yang juga termasuk dalam kawasan Tahura Sultan Adam | Sumber Foto:Litbang KLHK

AGRONET - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan TELAH melaksanakan kegiatan penanaman serentak rehabilitasi DAS pada April lalu. Kegiatan ini dilakukan melalui Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu jenis tanaman yang ditanam adalah kemiri.

Kegiatan ini berlokasi di Desa Sungai Luar Kecamatan Aranio, Banjar, yang juga termasuk dalam kawasan Tahura Sultan Adam. Dalam acara Konsultasi Publik “Hasil Kajian dan Draft Roadmap Pengembangan Klaster IPHHK Berbasis Produk Unggulan KPH Kayu Tangi” yang digelar di Grand Dafam Hotel Banjarbaru, Kamis (6/5), Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel mengatakan, sebanyak kurang lebih 11 ribu bibit kemiri telah ditanam pada penanaman serentak tersebut.

Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel optimis, 5 sampai 6 tahun ke depan, Kalimantan Selatan mampu mengekspor sekitar 550 kontainer kemiri per bulan sehingga nantinya dapat turut serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Sebagaimana diketahui, saat ini kemiri merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayu Tangi, salah satu UPT Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan di Kab. Banjar. Sebaran kemiri di KPH Kayu Tangi sebagian besar berada di Kecamatan Paramasan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh tim KPH Kayu Tangi, ±800 KK yang berdiam di Paramasan Bawah memiliki tegakan kemiri dengan luasan yang berbeda-beda. Panen biji kemiri kupas setiap minggunya dapat mencapai 25-250 kg. Dalam sebulan, Desa Paramasan Bawah dapat memanen sekitar 1 ton biji kemiri yang siap dikirim ke Pontianak.

Harga kemiri di tingkat petani dalam kondisi masih bercangkang Rp 5.000,- per kg sedangkan kemiri yang sudah dikupas dihargai Rp 24.000,- per kg. Tidak hanya menjual dalam kondisi mentah, KPH Kayu Tangi telah berhasil memproduksi minyak kemiri dan mampu memasarkannya dengan lancar.

Selain di Banjar, tegakan kemiri juga tersebar di Kab. Tabalong, Kab. Balangan, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kab. Tanah Laut, Kab. Kotabaru, dan Kab. Tanah Bumbu. Berdasarkan data statistik Perkebunan Kalimantan Selatan Tahun 2015 terdapat tegakan kemiri dengan luasan mencapai 3.545 ha memilki produksi dan produktivitas secara berturut-turut 1.927 ton dan 657 kg/ha.

Sebagai informasi, kemiri tidak hanya digunakan sebagai bumbu. Hamper semua bagian dari pohon kemiri, seperti daun, buah, kulit, kayu, dan akar dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional, penerangan, bahan bangunan, bahan pewarna, dekorasi dan lain-lain. Selain itu, jenis ini mudah ditanam, cepat tumbuh, dan tidak banyak syarat tempat tumbuhnya sehingga dalam perkembangannya tanaman ini sudah digolongkan sebagai tanaman penghijauan/reboisasi.

Meskipun demikian, bagian dari tanaman kemiri, khususnya bagian buah memiliki sifat beracun yang disebabkan oleh toxalbumin sehingga perlu kewaspadaan bila ingin dikonsumsi atau menggunakannya untuk tujuan pengobatan. Persenyawaan toxalbumin dapat dihilangkan dengan cara pemanasan dan dapat dinetralkan dengan menambahkan bumbu lainnya seperti garam, merica, dan terasi. (Litbang KLHK/222)