Mentan BEKERJA di Jawa Timur

Rabu, 23 Mei 2018, 15:53 WIB

Mentan BEKERJA di Jawa Timur , Selasa (22/05) | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) total penduduk miskin Indonesia di desa tahun 2017 mencapai 16,31 juta orang. Angka ini turun dibanding tahun 2016 yang berjumlah 17,10 juta orang. Salah satu faktor penurunan angka kemiskinan tersebut tak lain adalah adanya program kemiskinan berbasis pertanian. Sehingga daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi meningkat. Melalui Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA), Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian optimis kemiskinan bisa dientaskan.

Program BEKERJA merupakan upaya Kementan untuk mengentaskan kemiskinan di tanah air berbasis pertanian dengan tiga tahapan, jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada tahun 2018 saat ini Kementan menargetkan program BEKERJA dapat dilaksanakan di 10 provinsi, 776 desa dan 200.000 Rumah Tangga Miskin (RTM).

Kini Mentan Amran menyentuh Provinsi Jawa Timur. Terdapat tiga kabupaten yang menjadi lokasi peluncuran Program BEKERJA yaitu Bondowoso, Jember dan Lumajang. Data Kemensos dan BKKBN, di Jember terdapat 295.291 RTM, Bondowoso 152.348 RTM dan Lumajang 132.696 RTM.Program pengentasan kemiskinan ini bersinergi dengan Kemensos, BUMN, Kemendes, BKKBN dan pemerintah daerah.

“Kita sinergi atas perintah Presiden. Ini adalah solusi permanen untuk saudara kita yang miskin di desa supaya pendapatannya naik, tidak lagi miskin. Kita siapkan bantuan untuk 1.000 desa dari 100 kabupaten dan 10 provinsi,” demikian tegas Amran pada Peluncuran Program BEKERJA di Sukogidri, Kecamatan Ledok Ombo, Jember, Rabu (23/5/2018).

Amran mengungkapkan bantuan dalam Program BEKERJA komoditasnya diarahkan berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing daerah yang menghasilkan nilai ekonomis tinggi. Sasarannya difokuskan pada satu wilayah penduduk miskin yang dikelompokkan dalam 3 klaster. Setiap klaster, penduduk miskin berjumlah 5 hingga 10 ribu. Solusi jangka pendek dan menengahnya melalui bantuan sayur-sayuran dan bibit ayam petelur berumur dua bulan beserta kandang dan pakan.

“Untuk ayam, bantuan yang diberikan 50 ekor per rumah tangga prasejahtera. Saat usia enam bulan menghasilkan 50 butir per hari dengan masa produktif dua tahun. Sehingga pendapatan Rp 2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan,” ungkap Amran.

Sementara solusi jangka panjangnya melalui bantuan tanaman perkebunan sesuai dengan kondisi agro klimat masing-masing daerah. Misal, Bondowoso yang dikenal sebagai Republik Kopi, bantuan diberikan bibit kopi sebanyak 500 ribu pohon.

“Kita kejar agar kopi Indonesia menjadi nomor satu di dunia, sehingga tidak ada lagi rakyat miskin di Bondowoso. Ada 12.900 rumah tangga miskin di Bondowoso. Jadi nanti dengan ternak ayam dan berkembangnya industri kopi, pendapatan masyarakat naik, tidak ada lagi yang miskin,” ujarnya.
Untuk Jember, lanjut Amran, target lokasi Program BEKERJA akan menjangkau pada 21.941 RTM. Selain bantuan ayam dan kambing, pohon mangga dan paket aneka sayuran, sedangkan untuk perkebunan berupa bibit kopi dan pupuk serta pengembangan pekarangan.

“Dengan bantuan ini, Jember harus lepas dari kemiskinan. Pesan Bapak Presiden Jokowi, bantuan jangan disalahgunakan. Jadi mari kita bersama-sama melepaskan rakyat dari kemiskinan,” ucapnya.

Bupati Jember, Hj. Faidah mengungkapkan masyarakat Jember sangat senang menerima bantuan Kementan berupa ternak dan sayuran. Pasalnya, berbagai bantuan sangat cocok dengan aktivitas perekonomian masyarakat petani.
“Saya yakin Program Bekerja sangat tepat dan efektif. Program ini tidak sekedar memberi bantuan, tapi disertai pendampingan. Dengan bantuan ini akan dihasilkan telur 11.800 kg per tahun,”

Hal senada dari Bupati Bondowoso, Amin Said Husni mengatakan hadirnya Program BEKERJA sangat tepat mengentaskan masyarakat miskin di Bondowoso. Ia menilai program ini mampu melakukan akselerasi penurunan angka kemiskinan.

“Kami optimis berbagai bantuan pada program pengentasan kemiskinan ini pasti bisa melakukan akserasi pembangunan pertanian di pedesaan, sehingga pendapatan petani makin meningkat dan angka kemiskinan terus ditekan,” ungkapnya. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/222)