Permintaan Telur dan Ayam Potong Anjlok

Senin, 28 Mei 2018, 16:12 WIB

Penjual ayam potong.

AGRONET--Kenaikan harga telur dan daging  ayam potong sangat berpengaruh pada permintaan kedua komoditas tersebut.  Bahkan penurunan permintaan itu cukup drastis.

“Dalam Ramadhan ini, permintaan telur dan daging ayam potong turun sekitar 47 persen,” kata Ketua Ikatan Pedagang Tradisional Indonesia, Abdullah Mansuri, Senin (28/5), di Jakarta. Ia memperkirakan konsumen banyak yang beralih belanja tempe/tahu atau ikan.

Menurut Abdullah, penurunan permintaan dagin ayam potong dan telur itu karena harga bahan pokok tersebut yang melonjak drastis belakangan ini. Daging ayam segar dijual sekitar Rp35-40 ribu per ekor di pasar-pasar tradisional Jakarta. Sementara itu harga telur berkisar pada angka Rp28 ribu per kg.

“Bisa jadi menjelang Idul Fitri nanti harga kedua komoditas itu akan naik lagi. Biasanya kecenderungannya begitu,” ungkap Abdullah.

Ia menambahkan, saat ini permintaan daging ayam dan telur belum terlalu tinggi. Namun kenyataannya, harga sudah lebih dulu melambung. Ia meminta pemerintah agar memberi perhatian supaya kenaikan harga tidak terlalu tinggi.

Ketika melakukan kunjungan ke Pasar Desa Adat Pecatu di Bali, akhir pekan lalu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengakui adanya gejolak harga untuk komoditas daging ayam segar dan telur. Ia menyatakan, hal tersebut terjadi karena suplainya berkurang.

Untuk itu, mendag telah mengumpulkan perusahaan penyedia daging ayam dan telur agar menyuplai kedua komoditas itu ke pasar-pasar rakyat di seluruh daerah. Ia menjelaskan, harga ayam di Pasar Desa Adat Pecatu yang semula Rp 38 ribu per kilogram kini mulai turun di kisaran harga Rp 35-36 ribu per kg setelah ada tambahan suplai.

Mendag menginginkan harga ayam bisa mencapai Rp 33 ribu per kg. “Ini sesuai patokan yang telah ditentukan pemerintah untuk wilayah Bali," kata dia.

Mendag menegaskan, berdasarkan pantuan Badan Pusat Statistik, secara umum harga bahan pokok di pasar mengalami tren penurunan. Komoditas beras misalnya, ia menyebut Perum Bulog juga terus melakukan operasi pasar sebagai upaya menurunkan harga.

"Hal itu membuat harga beras juga akan terus bisa diturunkan hingga mencapai Rp8.950. Itu sesuai keputusan dalam Rapat koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," paparnya. (442)