SMIPY: Penuhi Kebutuhan Sayur Masyarakat Kota

Senin, 02 Juli 2018, 14:45 WIB

SMIPY | Sumber Foto:Humas IPB

AGRONET - Berdasarkan ketentuan WHO (World Health Organization) dan Kementerian Kesehatan, manusia harus mengkonsumsi sayur setidaknya 250 gram per hari atau setara dengan dua setengah porsi. Bagaimana menghitung satu porsi sayur? Contoh sederhananya, satu porsi sayur sama saja seperti satu gelas belimbing sayur yang sudah dimasak dan ditiriskan airnya. Anda dapat membaginya menjadi tiga kali waktu makan. Misalnya, di pagi hari Anda mengonsumsi setengah porsi sayur, siang makan satu porsi, dan malam hari menghabiskan satu porsi sisanya.

Selain dengan cara langsung membeli di swalayan. Saat ini masyarakat kota juga bisa menanam sendiri kebutuhan sayurnya di halaman rumah. Selain bisa menyalurkan hobi berkebun, dengan menanam sayur di halaman rumah, Anda juga bisa memenuhi keseimbangan gizi dari sayur. 

Berkaitan dengan berkebun masyarakat kota yang tentu harus dilakukan di lahan sempit, sebuah inovasi telah dilahirkan oleh mahasiswa IPB untuk para masyarakat kota yang gemar berkebun.  Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM), tiga mahasiwa IPB (Institut Petanian Bogor) menawarkan solusi inovatif dengan merancang alat bernama SMIPY, yakni Smart Mini Plant Factory berbasis internet of things sebagai pendukung urban farming.

Tim SMIPY IPB terdiri dari Mu’minah Mustaqimah, Ahmad Safrizal, dan Bung Daka Putera. Tim yang dibimbing oleh Dr. Slamet Widodo S.TP, M.Sc ini, merancang sebuah mesin yang berfungsi sebagai media untuk menanam dimana di dalam SMIPY, segala aspek lingkungannya sudah terjaga secara otomatis.

SMIPY adalah sebuah alat yang diperuntukkan untuk masyarakat perkotaan yang kekurangan lahan untuk menanam dan kekurangan waktu untuk menjaga atau merawat tanamannya. Dilengkapi dengan internet of things, alat ini dapat terhubung ke internet yang akan memudahkan pengguna untuk mengontrol tanaman dari mana saja.
“Perbedaan SMIPY dengan hidroponik pada umumnya adalah sistemnya yang bisa rotasi tanam. Jadi di setiap rak itu, pengaturan nutrisinya berbeda-beda yang memungkinkan pengguna menanam komoditas yang berbeda atau komoditas pangan dengan sistem panen bergilir,” kata Mu’minah Mustaqimah.

Alat ini juga berperan memutus pasok sayuran yang dikirim ke kota tanpa jaminan kesegaran dan tambahan biaya transportasi. Selain itu, alat yang memang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran pribadi keluarga dengan sistem panen bergilir ini memungkinkan untuk dikembangkan dalam skala usaha besar.

“Alat ini memang ditujukan untuk keluarga masyarakat perkotaan, dengan sistem panen bergilir dan berkelanjutan. Berkelanjutan di sini karena akan terjadi karena sistem rotasi yang nutrisi di setiap raknya dapat kita atur sehingga waktu panennya tidak sama. Alat ini juga memungkinkan untuk dikembangkan dalam skala pertanian besar, karena tiap-tiap rak juga bisa disamakan nutrisinya sehingga waktu panennya bisa sama,” tambah Mu’minah.

Harapan ke depannya, alat ini dapat mengedukasi masyarakat bahwa teknologi pertanian sudah cukup canggih untuk memfasilitasi orang-orang kota yang sibuk untuk bisa bertani. Dan alat ini diharapkan dapat menyuplai kebutuhan sayur-sayuran dan pangan yang sehat.(IPB/Zul/222)

BERITA TERKAIT