Atasi Gagal Panen di Sulsel, Mentan Beri Bantuan Pupuk 574 Ton

Selasa, 10 Juli 2018, 09:38 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman langsung turun ke lapangan meninjau banjir di Sulsel | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET – Banjir melanda tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan. Akibatnya petani harus menghadapi gagal panen atau puso. Luasnya cukup membuat miris. Total gagal panen mencapai 11.480 hektare. Di Kabupaten Wajo seluas 7.591 hektare, di Kabupaten Soppeng 2.969 hektare, dan di Bone seluas 920 hektare padi gagal panen. Mengetahui hal ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman langsung turun ke lapangan meninjau banjir dan petani yang mengalami gagal panen atau puso tersebut.

Dalam kunjungannya di Kabupaten Wajo, Mentan sekaligus memberikan bantuan secara gratis berupa benih, pupuk, asuransi pertanian dan alat mesin pertanian seperti pompa air dan eksavator kepada petani di Wajo, Senin (09/07/2018. Kunjungan akan dilanjutkan ke Kabupaten Soppeng, Selasa (10/07/2018). Khusus pupuk, total bantuan untuk 11.480 ha yakni 574 ton. Nilai bantuan pupuk ini mencapai Rp 2,7 miliar.

“Bapak presiden sudah perintahkan langsung untuk ke lapangan dan beri bantuan pupuk dan benih gratis kepada seluruh masyarakat yang kena banjir di tiga kabupaten ini tanpa terkecuali,” ungkap Amran.

Amran mengatakan bahwa pemerintah sangat fokus menyelesaikan permasalahan petani yang terkena banjir ini.
Untuk mengoptimalkan penyaluran bantuan secara cepat dan tepat sasaran, Amran meminta bupati setempat bersama dengan dinas pertanian mengerahkan brigadenya agar bantuan alat mesin pertanian, benih, dan pupuk cepat sampai ke petani. Pengerahan bantuan pun dibantu dan diawasi pihak kepolisian dan TNI.

“Hari ini kita bagikan pupuk 280 ton, harus dibagi hari ini juga. Kita tidak boleh menunggu sampai besok. Kami minta dinas agar selama pengerahan bantuan untuk terus memonitor bantuan agar sampai cepat dan tepat,” ujarnya.
“Kami pun minta Kapolres dan Dandim untuk serius mengawasi bantuan. Tidak boleh ada yang main-main, apalagi menyakiti. Ini ruang rakyat kecil jangan sakiti mereka. Kalau nanti sakiti petani, akan berhadapaan langsung dengan saya,” pinta Amran.

Fitriani, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulsel mengatakan, banjir di Kabupaten Wajo diakibatkan oleh luapan air dari danau tempe. Banjir mulai terjadi pada minggu lalu akibat hujan sehingga aliran sungai dari hulu bermuara di danau tempe.

“Total puso di Wajo 7.591 ha. Dari total tersebut yang bisa ditanami padi seluas 6.658 ha dengan kebutuhan benih padi 166,46 ton dan sisanya untuk ditanami jagung 933 ha. Sementara di Kecamatan Belawa, luas pusonya mencapai 3.785 ha dengan kebutuhan benih padi 94,6 ton,” katanya.

Fitriani menyebutkan banjir kali ini terparah sepanjang 10 tahun terakhir. Di daerah sini setiap tahun memang terjadi banjir, tapi dampak lahan sawah yang terendam hanya mencapai 300 ha dan tidak membuat masyarakat terisolasi.

“Banjir saat ini tidak hanya berdampak pada tanaman saja, tapi juga membuat masyarakat terisolasi,” sebutnya. (222)

 

BERITA TERKAIT