Terbukti! Alsintan Hemat Biaya Olah Lahan Cabai Hingga 90 Persen

Senin, 20 Agustus 2018, 11:50 WIB

Penggunaan alsintan oleh petani di Tegalrejo, Magelang. | Sumber Foto:Ditjen Hortikultura

AGRONET—Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kementerian Pertanian (Kementan) telah membagikan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke seluruh pelosok negeri.

Selama empat tahun kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, tercatat Kementan telah menggelontorkan lebih dari 300 ribu alat dan mesin pertanian (alsintan) beragam jenis ke seluruh pelosok tanah air. Kebijakan tersebut guna menggenjot produksi pangan pokok, termasuk diantaranya aneka cabai dan bawang melalui efisiensi biaya produksi.

Menurut pengakuan Widodo, petani cabai di daerah Tegalrejo, Magelang, bantuan alsintan dari Kementan sangat terasa manfaatnya. Pengolahan lahan semakin cepat, dan juga menekan biaya pengolahan lahan hingga 90%.

“Biasanya kalau dengan nyangkul, kami harus keluarkan biaya 1 juta tiap 1.000 meter persegi lahan. Dengan kombinasi handtraktor dan kultivator, kami cukup keluar 4 liter solar dan ongkos operator 50 ribu per 1.000 meter persegi,” ungkap Widodo di Magelang, Senin (20/8/2018).

Widodo menambahkan jika menggunakan buruh cangkul, biaya pengolahan lahan cabai yang dikeluarkan sebesar Rp 10 juta per hektare. Namun, dengan menggunakan Alsintan, biaya turun drastis yakni hanya Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per hektare.

“Dari perbandingan ini, terlihat dengan jelas biaya pengolahan lahan menggunakan alsintan jauh lebih efisien. Efektif. Hemat waktu. Jadi, kebijakan Menteri Amran sangat tepat dalam memajukan pertanian,” sebutnya.

Hal senada diungkapkan Susiono, petani bawang merah di Desa Pasir Mijen Demak, penggunaan cultivator sangat meringankan beban biaya produksi, terutama saat pembuatan atau pengolahan bedengan. Saat upah buruh cangkul makin mahal, keberadaan alsintan seperti cultivator benar-benar terasa membantu petani, terutama saat pembuatan bedengan.

“Sangking mahalnya upah buruh cangkul, kadang penghasilan mereka malah lebih gede daripada petaninya sendiri,” akuinya.

"Selain kultivator, petani bawang di sini juga butuh instalasi sprinkle untuk penyiraman sekaligus mengusir hama bawang merah,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Wijayanti, menuturkan pihaknya akan terus memfasilitasi kebutuhan alsintan budidaya dan pascapanen bagi petani hortikultura di daerahnya. Pasalnya, petani di Magelang sangat terbantu dengan makin banyaknya bantuan alsintan seperti handtractor, kultivator, sprinkle hingga motor roda tiga.

“Kami juga dorong penggunaan teknologi seperti ozoniser untuk menyimpan cabai, mesin pengolah pasta, dryer dan sebagainya,” tutur Wijayanti.

Direktur Usaha Karya Bersama (UKB) sekaligus Ketua Paguyuban 15 Bengkel di 7 Kabupaten, Hary Martono, mengatakan untuk mendukung revolusi mekanisasi pertanian yang berbasis kerakyatan, pihaknya siap melayani permintaan di seluruh indonesia. Produk yang bisa dihasilkan dan sekaligus tepat guna bagi petani di antaranya Kultivator, Grader, APPO, pengolahan pasca panen cabai, bawang merah serta tomat.

“Semua produk ini bisa kami desain sesuai dengan permintaan petani sehingga akan efisien yang nantinya bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” bebernya.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, menjelaskan kebijakan revolusi mekanisasi pertanian melalui penggunaan alsintan sangat membantu percepatan produksi hortikultura khususnya cabai dan bawang. Faktanya, kurun waktu 4 tahun terakhir ini produksi Cabai dan Bawang Merah terus meningkat setiap tahunnya melampaui kebutuhan nasional.

"Dengan alsintan, kita bisa atur pola tanam dalam skala luas secara lebih mudah dan cepat. Selain itu produk kita bisa lebih kompetitif,” bebernya.

Terkait efisiensi biaya, sambung Suwandi, misalnya pada budidaya cabai, penggunaan mekanisasi pertanian secara umum bisa menekan biaya tenaga kerja hingga 40%. Dengan begitu, titik impas atau Break Event Point (BEP) produksi cabai jauh lebih murah.

“BEP produksi cabai dari Rp 10.200 menjadi hanya sekitar Rp 5.300 per kg. Petani untung, biaya kecil, produksi dan kualitas cabainya malah semakin naik,” tandasnya. (222)