Mengenal Metode KSA dalam Menghitung Produksi Beras Nasional

Rabu, 24 Oktober 2018, 08:27 WIB

Hamparan sawah di Jawa Barat. | Sumber Foto:Kementan

AGRONET -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Badan Informasi Geospasial (BIG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional  (Lapan), dan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama-sama terlibat dalam penghitungan produksi beras nasional. Sebagai tindak lanjut kegiatan telah dikembangkan metode kerangka sampel area (KSA).

Sekretaris Utama BPPT, Wimpie AN Aspar, menjelaskan seseuai arahan presiden dalam rapat terbatas kebijakan pangan, BPPT telah mengembangkan teknologi kerangka sampel area (KSA).  KSA dapat memberikan data produktivitas pertanian yang sangat akurat dengan pengambilan data yang sesuai dengan titik koordinat.

Menurut dia, tahun lalu seluruh Pulau Jawa sudah dilakukan pengambilan data melalui metode KSA. Pada tahun 2018 ini akan diupayakan untuk derah di luar Pulau Jawa.

“Kerangka sampel area atau KSA bukan metode remote sensing, tetapi adalah data yang diperoleh dari citra satelit, data dari pemetaan radar. Kemudian dilakukan ground check ke lapangan, sehingga kita mengetahui data koordinat yang ada di lokasi tersebut dan langsung difoto. Selanjutnya akan dimasukkan ke dalam sistem android,” ujarnya.

Metode KSA ini, imbuhnya, sudah diakui perkumpulan ahli statistik Indonesia dan sudah dimanfaatkan oleh BPS. “Semoga dengan diterapkannya metode KSA ini semua dapat menjadi satu data yang valid dan akurat untuk dapat digunakan dimana-mana, baik untuk pengukuran maupun untuk produksi lahan baku,” ujarnya.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza, menjelaskan penerapan metode KSA pada pendataan statistik produksi pertanian khususnya padi merupakan kerja sama antara BPPT dengan BPS.  "Inovasi KSA ini merupakan bukti bahwa teknologi berperan penting dalam menunjang akurasi data statistik, untuk mengetahui produksi padi nasional, yang selanjutnya dikonversi menjadi produksi gabah kering giling (GKG) dan beras," urainya.

Dia menuturkan penerapan teknologi KSA ini  berbeda dengan metode yang selama ini digunakan. KSA bukan hanya citra satelit saja, tetapi juga menggunakan mobile apps berbasis Android yang mengunci koordinat lahan sawah sehingga lebih akurat lagi.

"Metode KSA ini digunakan untuk mengukur luas panen padi, mulai dari persiapan lahan, fase vegetatif awal, hingga panen sehingga data produksi padi dapat diperoleh secara akurat.  BPPT bekerja sama dengan BPS sudah menguji teknologi ini secara nasional," ujarnya. (KBRN/591)