Rantai Pasok Jagung Perlu Disederhanakan

Sabtu, 03 November 2018, 21:05 WIB

Sekjen Kementan, Syukur Iwantoro, (tengah) bersama Dirjen Tanaman Pangan, Sumardjo Gatot Irianto, (kanan), dan Kepala BPPSDMP Kementan, Momon Rusmono, (kiri) memberikan keterangan kepada media terkait produktivitas jagung dalam negeri di Gedung A Kement | Sumber Foto:AGRONET/ Hamdan Zalik

AGRONET -- Kondisi harga jagung di beberapa lokasi sentra industri pakan saat ini meningkat. Hal itu bukan karena produksi dan pasokan jagung dari petani dalam negeri bermasalah. Sebaliknya, produksi jagung justru surplus dan para petani tetap menjadi prioritas utama untuk dilindungi.  

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro, dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Gedung A Kementan, Jl. RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (3/11). Menurutnya, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya harga jagung di suatu lokasi, seperti karena sebaran wilayah, waktu, dan lokasi produksi yang bervariasi.

“Peningkatan harga karena pabrikan pakan ternak dan konsumen yang terfokus pada lokasi tertentu saja. Misalnya Medan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Menurut pria lulusan S3 agribisnis di Inggris itu, kendala yang terjadi karena beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung. Untuk itu perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah. 

Saat ini tercatat ada 93 pabrik pakan di Indonesia, tersebar di Sumatera Utara 11 unit, Sumatera Barat 1, Lampung 5, Banten 16, Jawa Barat 11, DKI Jakarta 6, Jawa Tengah 12, Jawa Timur 21 unit, Kalimantan Barat (Kalbar) 1, Kalimantan Selatan (Kalsel) 2, dan Sulawesi Selatan 7 unit. Beberapa pabrik pakan seperti, Banten, DKI Jakarta, Kalbar, dan Kalsel tidak berada di sentra produksi jagung.

Terkait distribusi jagung, kata Syukur, perlu dilakukan penyederhanaan rantai pasok. Alur perdagangan jagung saat ini masih panjang dan menyebabkan harga cenderung tinggi. Jagung dari petani biasanya dijual ke pedagang pengumpul, selanjutnya dijual lagi ke pedagang besar, dan dari pedagang besar baru dipasarkan ke industri.

Dari sisi biaya angkut transportasi jagung, dia merinci, terdapat perbedaaan biaya angkut jagung tujuan penjualan pasar domestik dan ekspor. Seperti, biaya tranportasi Tanjung Priok, Jakarta ke Tanjung Pandan, Belitung lebih mahal dari biaya transportasi Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang, Malaysia.

Untuk transportasi dari Tanjung Priok ke Pelabuhan Tanjung Pandan, tiket untuk mobil angkut dengan kapasitas  14 ton sebesar Rp33 juta. Biaya ini belum termasuk biaya solar mobil dan lainnya.

Sementara Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang, Malaysia dengan kapasitas 24-27 ton hanya membutuhkan biaya sekitar Rp26 juta. Biaya tersebut tersebut sudah termasuk dengan pengurusan semua dokumen.

Terkait harga jagung di lapangan, berdasarkan data Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), pada Bulan Oktober 2018 harga jagung hanya sekitar Rp3.691 per kilogram. Tiga bulan yang lalu harga jagung sempat turun di Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara hingga Rp2.887 per kilogram. (591)