Kebijakan Pertanian Direspon Positif Pelaku dan Dunia Usaha

Senin, 05 November 2018, 13:53 WIB

Presiden Jokowi bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Desa Trayu, Boyolali, Jateng (29/10). | Sumber Foto: Setkab RI

AGRONET -- Berbagai program strategis Kementerian Pertanian (Kementan) dalam empat tahun terakhir menghasilkan prestasi reformasi birokrasi dan capaian makro pertanian. Hal ini mendapat sambutan positif dari para petani dan kalangan dunia usaha.

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi menilai selama empat tahun terakhir, di bawah pimpinan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, berhasil surplus beras hingga 2,8 juta ton. “Banyak program strategis dinilai berhasil. Ada program perbaikan irigasi, bantuan alat pertanian, pupuk, benih, asuransi bagi petani dan peternak,” kata Gandhi dalam keterangannya, Senin (5/11).

Data BPS dengan metode KSA diperoleh surplus 2,85 juta ton beras. Data stok beras di Bulog saat ini 2,4 juta ton. “Artinya, beras surplus dan cukup aman. Ini berkat program-program Kementan direspon positif oleh petani,” ujar pria pengamat pertanian itu.

Dia menambahkan berbagai prestasi Kementan juga dapat dilihat dari kinerja ekspor yang mampu mendongkrak perekonomian nasional. Kebijakan mendorong ekspor dengan berbagai kemudahan regulasi dan pelayanan jemput bola mendapat respon positif dari dunia usaha.

Menurut data BPS, kata dia, ekspor pertanian 2017 sebesar Rp441 triliun, naik 24 persen dibandingkan 2016 sebesar Rp385 triliun. Bidang pertanian menurunkan inflasi bahan makanan pada 2017 sebesar 1,26 persen, turun 88,9 persen dibandingkan 2013 sebesar 11,35 persen.

Gandi merinci data dari BKPM, sejak pencabutan 291 regulasi peraturan menteri pertanian yang dinilai kurang efektif, nilai investasi 2017 menjadi Rp45,9 triliun naik, 14 persen per tahun dibandingkan 2013 yang hanya sebesar Rp29,3 triliun.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pertanian 2017 sesuai data BPS sebesar Rp1.344 triliun, dibandingkan 2013 sebesar Rp995 triliun.  “Data BPS menunjukkan kemiskinan di pedesaan pada Maret 2018 sebesar 15,81 juta jiwa, menurun 10,88 persen dibandingkan Maret 2013 sebesar 17,74 juta jiwa. (591)