Ada Anomali Harga Beras, Ini Langkah Bulog

Kamis, 08 November 2018, 12:51 WIB

Dirut Perum Bulog, Budi Waseso, dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat sidak ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) pada Kamis (8/11) pagi. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Dirut Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas), menyatakan siap memenuhi permintaan pengelola Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) menambah stok beras medium untuk mengendalikan harga. Saat ini stok beras Bulog mencapai 2,7 juta ton.

"Stok kita sangat banyak dan kita operasi pasar setiap hari. Saya justru berharap tiap hari bisa diserap 15 ribu ton untuk stabilisasi harga. Ternyata memang serapannya kecil. Kita cek di lapangan hari ini stok beras begitu banyak," ujarnya di PIBC Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (8/11).

Pada kesemptan itu Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan kenaikan harga beras medium belakangan ini di tengah kondisi stok beras yang cukup adalahsebuah anomali.  Berdasarkan pantauannya ketersediaan beras mencukupi dan terkendali.

Buwas menambahkan program perubahan pola tanam Kementan membuat musim panen menjadi lebih cepat, sehingga lebih menjamin ketersediaan beras. "Mulai Januari atau Februari sudah mulai ada panen. Ini saya sampaikan supaya masyarakat tidak usah takut, ragu, dan khawatir kalau beras itu kurang," tegasnya.

Satgas Pangan Awasi Spesifikasi Beras

Mengenai anomali harga beras medium yang naik saat pasokan beras mencukupi, Ketua Satgas Pangan Pusat, Irjen Pol Setyo Wasisto, menyebutkan bahwa ada yang merubah spesifikasi beras dari medium menjadi premium. "Ini tugas saya sebagai satgas pangan untuk melakukan pengawasan. Kita akan cek di lapangan dan melakukan uji laboratorium atas kualitas beras yang beredar," ujarnya.

Menurutnya, ini penting dilakukan agar masyarakat membeli beras sesuai dengan kriterianya baik medium ataupun premium. Di samping itu juga untuk menjaga agar tidak ada konsumen yang dirugikan.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat dalam 3 tahun terakhir Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga pangan sehingga angka inflasi pangan menurun secara signifikan. Inflasi pangan tahun 2010 cukup tinggi 10 persen. Dalam 2-3 tahun terakhir inflasi berhasil ditekan, terakhir menjadi 1,29 persen.

“Bahkan 3 tahun berturut-turut harga pangan stabil. Lebaran 2 tahun terakhir juga sangat stabil, Oktober kemarin bahkan pangan deflasi," jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Trisno Nugroho.

Komoditas pangan yang menyumbang penurunan inflasi di antaranya beras, daging ayam ras, dan telur. Ia memastikan pangan tidak ada masalah di tahun-tahun ini. "Kami juga memberi proyeksi terkendali sampai akhir tahun ini," pungkasnya. (591)