NTT Siapkan Ekspor Bawang Merah Organik ke Timor Leste

Jumat, 08 September 2017, 21:32 WIB

Petani NTT siap ekspor bawang merah

AGRONET - Melalui Program Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung Kedelai (Pajale), Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab), dan Penguatan Lumbung Pangan Perbatasan Berorientasi Ekspor (PLBE), Kementerian Pertanian  (Kementan) terus memaksimalkan potensi pertanian di daerah perbatasan. Salah satu di antaranya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani, menerangkan, Kementan kini sedang berupaya menggenjot produksi bawang merah di NTT guna memenuhi kebutuhan ekspor ke Timor Leste, setelah sukses meningkatkan luas tambah tanam padi dan luas tambah tanam jagung pada periode Oktober 2016 sampai Maret 2017 yang masih lanjut untuk menuju swasembadanya.

Daerah di NTT yang menjadi lokasi penanaman bawang merah, yakni Kabupaten Malaka dan Belu. Di Malaka, telah dilakukan panen raya tepatnya di desa Fafoe. Sedangkan, di Belu, yaitu di Desa Kabuna, Kecamatan Kalukuk Mesak, dilakukan panen perdana bawang merah jenis tuk tuk pada Kamis (7/9/2017) Hasil panen tersebut atas pendampingan teknologi dan inovasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dengan rerata produksi hasil ubinan mencapai 13.28 ton/ha.

"Menurut Direktur STO Ditjen Hortikultura, bawang merah di Malaka yang dikunjunginya beberapa hari lalu, berkualitas sangat baik dan layak ekspor selain bernas, warna cerah merona serta dibudidayakan secara organik. Produksi bawang merah di Malaka dan Belu belum menggunakan pupuk anorganik," demikian ungkap Ani yang juga Penanggung Jawab Program Upsus  Wilayah NTT di Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Ani menyebutkan, sekitar 200 ton bawang merah hasil panen raya para petani di Kabupaten Malaka, sejak pekan pertama Agustus, rencananya sebagian bakal diekspor ke Timor Leste. Hal ini sekaligus menegaskan, bahwa NTT yang selama ini dikenali identik dengan kering dan hanya ada  jagung, sekarang ini dengan terobosan program Upsus Kementan kemudian bisa ditanami komoditas lain secara baik termasuk bawang merah dan bahkan bunga krisan. 

"Sudah mulai banyak sawah beririgasi terhampar dalam kawasan. Bahkan, ada yang satu kawasan bertaut sampai 4.000 hektare yaitu di Lembor, Kabupaten Manggarai Barat," sebut dia. 
Ani menambahkan, capaian tersebut membuktikan, NTT juga bisa menghasilkan komoditas bernilai tambah melalui sentuhan program yang propetani sekaligus menjadi etalase bagi negara tetangga.

Untuk diketahui, PLBE diprogramkan di sejumlah kabupaten, yaitu Belu, Malaka, Kupang dan Timor Tengah Utara. Bawang merah organik jenis tuk tuk menjadi salah satu komoditas yang banyak ditanam di kabupaten perbatasan mengingat banyak pula ditemukan di Pasar Taebesi Timor Leste karena diminati masyarakat setempat.

"Ke depan, bawang putih juga mungkin akan ditumbuhkan di NTT mendukung ketersediaannya untuk berkontribusi menuju swasembada bawang putih nasional di 2019," tandas Ani. (Humas Kementan/020/018)

BERITA TERKAIT