Alsintan Tingkatkan Produksi Pertanian

Minggu, 09 Desember 2018, 18:54 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, meninjau alsintan. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Teknologi dan mekanisasi alat mesin pertanian (Alsintan) sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Ini terbukti dengan semakin meningkatnya produksi tanaman pangan di Indonesia akhir-akhir ini.

Hal itu disampaikan Direkrur Alat dan Mesin Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah, di Jakarta, Minggu (9/12).  Ditambahkannya, dengan Alsintan biaya operasional pertanian dapat dihemat sekitar 35 hingga 48 persen dari total biaya produksi. Alsintan juga dapat menekan penyusutan hasil panen sebesar 10 persen.

"Kalau tanpa Alsintan, butuh waktu berhari-hari bagi petani untuk membajak satu hektare sawah. Kini dengan mesin hanya butuh waktu 2 atau 3 jam saja. Dulu menanam padi hanya 1 kali, kini bisa 3 kali setahun," ujarnya.

Terkait anggaran pengadaan Alsintan, Andi Nur Alamsyah, merinci pada tahun 2018, Kementan telah menganggarkan Rp2,81 triliun untuk pengadaan 70.839 unit Alsintan, dengan fokus pada produksi subsektor padi, jagung, dan kedelai. Hingga November 2018 sudah terealisasi sekitar 98 persen dari anggaran dan target, atau sekitar Rp2,75 triliun untuk pengadaan 69.196 unit Alsintan, dan sudah diserahkan kepada 69.196 kelompok tani dengan luas lahan sekitar 500 ha. Dari sisa anggaran yang ada, direncanakan untuk pengadaan sekitar 1.697 unit Alsintan sesuai target akhir tahun ini.

Dari sisi capaian produksi, ujar Andi Nur Alamsyah, penggunaan mesin pertanian dalam lima tahun terakhir telah berhasil meningkatkan  produksi komoditas tanaman pangan utama, seperti padi, jagung dan kedelai. Setiap tahun rata-rata produksi padi naik hingga 4,07 persen, jagung 12,5 persen, dan kedelai 8,79 persen.

Selain itu, dengan modernisasi teknologi pertanian juga menambah minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Dengan mekanisasi pertanian telah mengubah pandangan masyarakat mengenai bertani. “Dulu petani dianggap miskin, kumuh. Sekarang petani sejahtera dengan alat yang modern. Petani bisa mengolah tanah, menanam, dan panen dengan pakaian yang rapih. Ini mengubah cara pandang (mindset)," pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan data BPS, perkembangan ekspor beras khusus dan beras premium melonjak pada periode 2017-2018 mencapai 3.433 ton. Angka itu meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan pada 2014 yang hanya sekitar 130 ton. Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menunjukkan, hingga September lalu, volume ekspor beras kategori premium dan khusus sudah mencapai 3.069 ton.

Pada tahun 2015, Indonesia masih mengimpor jagung sebesar 3,5 juta ton. Tahun 2016 Indonesia mengimpor hanya 1,3 juta ton.  "Sesuai arahan Menteri Pertanian yang membatasi pemberian rekomendasi impor jagung sejak tahun 2016, maka pada tahun 2017 Indonesia sudah tidak melakukan impor jagung sama sekali," katanya.

Kebijakan Kementan yang membatasi pemberian rekomendasi impor jagung  membuat para petani menjadi bergairah lagi untuk menanam jagung karena harganya cukup baik. Hasilnya, tahun 2018 Indonesia telah mampu mengekspor jagung sebesar 380.000 ton. (591)