Kementan Fokus Kembangkan Wisata Agro Apel

Minggu, 09 Desember 2018, 20:56 WIB

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementan, Suwandi. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian tengah fokus mengembangkan komoditas apel di Kota Batu. Pengembangan ini guna mendorong Kota Batu, Jawa Timur, sebagai tempat wisata apel, sehingga petani apel terus mendapatkan nilai tambah.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementan, Suwandi, mengatakan apel Kota Batu menjadi sentra andalan nasional, menjadi daya tarik wisata. Kesejukan dan keindahan panorama pegunungan Kota Batu dengan ketinggian 1.000 hingga 1600 meter dpl dengan berbagai tanaman hias, sayuran, dan buah menjadi tujuan menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Sejak era 1980-an, Kota Batu populer dijuluki Kota Apel. Ini karena populasi buah yang besar. Pertama kali ditanam oleh Ghert, warga Belanda di Pujon, Batu. Sesuai dengan data BPS, produksi apel nasional 2017 sebesar 319 ribu ton.

"Wisatawan disuguhi wisata petik dan makan apel. Membawa oleh-oleh apel segar maupun olahan kripik, juice, sari buah, dan lainnya," ujar Suwandi, saat berkunjung ke Kota Batu, Minggu (9/12). Dia mengunjungi salah satu gabungan kelompol tani yang membudidayakan apel.

Suwandi mengungkapkan secara nasional kawasan sentra utama apel terdapat Kota Batu dan Pasuruan. Kini sudah berkembang di Bantaeng, Kendal, dan Lombok Timur. Varietas yang berkembang, yaitu manalagi, anna, dan rome beauty. Masing masing punya cita rasa berbeda, bentuk, ukuran, dan tekstur khas.

"Konsumen biasa menyebut apel hijau untuk manalagi dan apel semburat merah untuk jenis apel anna. Apel Manalagi aroma wangi, bentuk bulat, kulit buah hijau muda kekuningan, daging buah manis, tekstur liat dengan sedikit kandungan air, dan rasa buah manis," ujarnya. 

Menurut Suwandi, apel rome beauty bisa panen 30 hingga 40 kg per pohon dengan bentuk agak bulat, warna kulit buah hijau kemerahan, daging buah keras, bertekstur halus, dan aroma buah yang kuat. Sementara apel anna agak unik, rasa sedikit lebih asam. Namun, jika dibiarkan 3 sampai 4 hari setelah dipetik, terasa manis dan aroma tajam. Ciri bentuk buah memanjang, kulit buah tipis dengan warna kuning dan semburatan warna merah, daging buah padat cenderung masir, dan kandungan air dalam buah cukup tinggi.

Luki Budiarti, pengelola Gapoktan Mitra Arjuna, mengatakan biaya produksi apel sekitar Rp5.000 per kg dan harga jual normal Rp8.000-Rp12.000 per kg. Petani menikmati marjin yang lumayan.

Apel Batu memasok ke Jawa dan luar Jawa. Wisatawan asing juga tertarik apel Batu. "Pasokan benih, teknik pemupukan organik dan pengendalian hama penyakit ramah lingkungan dan kita berupaya dibuat sendiri dari bahan baku sekitar," katanya.

Luki mengakui pada bulan tertentu Desember-Januari harga turun akibat panen raya buah mangga dan lainnya, sehingga permintaan apel menurun. Dengan kondisi itu, pihaknya mengatasi dengan cara perbaikan mutu, mulai dari benih unggul, pasca panen, penyimpanan, dan distribusi sehingga awet tidak mudah rusak sampai ke tujuan. "Untuk produk apel grade bawah diolah menjadi kripik, sari buah, jenang, dan dodol sehingga sudah tumbuh industri olahan," pungkasnya. (591)