Kementan Siapkan Peta Potensi Pengembangan Kawasan Pertanian Strategis

Rabu, 26 Desember 2018, 11:55 WIB

Kepala Biro Perencanaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian (Kementan), Kasdi Subagyono. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

AGRONET -- Kementerian Pertanian optimis pembangunan pertanian berbasis kawasan dapat diwujudkan. Pasalnya, Kementan telah menerbitkan Permentan No. 18 tahun 2018 tentang pedoman pengembangan kawasan berbasis korporasi dengan konsep mendorong aspek pemberdayaan petani dalam suatu kelembagaan berskala ekonomi.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, juga selalu mengarahkan agar pembangunan pertanian berdasarkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif berbasis kawasan. Dengan begitu, pelaksanaan, pengelolaan, pengawasan dan evaluasinya efektif dan efisien serta hasilnya masif dan mampu mendorong industri berbasis pertanian.

Kepala Biro Perencanaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian (Kementan), Kasdi Subagyono, di Jakarta, kemarin (23/12) menjelaskan dengan  pendekatan pengembangan komoditas pertanian strategis, turut memberi kontribusi dalam peningkatan produksi pangan dan pertanian. Dia merinci, peningkatan ekspor 29,7 persen, pengendalian inflasi lebih dari 88 persen dari semula 10,57 persen menjadi 1,26 persen, peningkatan PDB pertanian 47,2 persen, investasi naik 110,2 persen, memberikan nilai tambah ekonomi tinggi, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Ditambahkannya, pertanian di kawasan perbatasan, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga ditargetkan agar bisa diekspor. Jika ini berjalan, masyarakat petani di perbatasan taraf hidupnya akan lebih sejahtera.  “Artinya ini membuka peluang bagi petani dan masyarakat dalam melakukan bisnis hulu sampai hilir pada sektor pertanian yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dari komoditas pertanian," jelasnya.

Lebih jauh Kasdi menerangkan, pola pengembangan kawasan ini selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang menekankan pentingnya aspek kewilayahan atau spasial dalam pelaksanaan pembangunan pertanian. Karenana itu, pihaknya telah menyiapkan peta kawasan komoditas strategis pada skala tinjau 1:250.000 dan skala semi detail 1:50.000, sebagai basis perencanaan pembangunan pertanian ke depan.

Aspek spasial menjadi prioritas mengingat kegiatan pembangunan pertanian harus dilaksanakan di lokasi yang jelas, sehingga dapat diupayakan keterpaduan program pembangunan lintas sektor. Bahkan lintas pemangku kepentingan, termasuk swasta dan masyarakat yang pada gilirannya akan memberikan dampak lebih signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Kasdi mengungkapkan sejak tahun 2015, Biro Perencanaan dan Badan Litbang Pertanian telah menyusun berbagai peta kawasan komoditas strategis pada skala 1:250.000. Peta ini menggambarkan potensi wilayah yang dapat dikembangkan sebagai suatu kawasan di tingkat provinsi dan peta skala 1:50.000 yang memberikan informasi lebih detail mengenai potensi peningkatan produktivitas dan perluasan areal kawasan di tingkat kabupaten. Hingga tahun 2018, sudah banyak peta kawasan pertanian yang telah diselesaikan.

“Pertama, atlas peta potensi pengembangan kawasan padi, jagung, kedelai dan ubi kayu, skala 1:250.000 seluruh provinsi, dan Skala 1:50.000 di 71 kabupaten sentra. Kedua, atlas peta potensi pengembangan kawasan perkebunan skala 1:250.000 seluruh provinsi dan skala 1:50.000 di 16 kabupaten sentra. Ketiga, atlas peta potensi pengembangan kawasan sapi potong skala 1:250.000 seluruh provinsi dan skala 1:50.000 di 28 kabupaten sentra. Keempat, atlas peta potensi pengembangan kawasan cabai dan bawang merah skala 1:250.000 seluruh provinsi dan skala 1:50.000 di 16 kabupaten sentra untuk komoditas cabai, bawang merah, dan bawang putih.

“Keseluruhan peta tersebut telah diunggah dan dapat diakses oleh berbagai pihak melalui website SIKP (Sistem Informasi Kawasan Pertanian), dan bersifat dinamis, sehingga dapat terus diperbarui dan di-overlay dengan berbagai peta tematik lainnya sesuai kebutuhan perencanaan,” tuturnya.

Dia menegaskan keberadaan peta-peta kawasan tersebut juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan pihak swasta yang ingin membangun bisnis komoditas strategis, karena informasi yang diberikan sangat komprehensif terkait keberhasilan komoditas pertanian yang dibudidayakan. “Yakni mencakup lokasi, karakteristik lahan, potensi peningkatan produktivitas, perluasan areal, rekomendasi aplikasi teknologi budi daya, penanganan panen, pasca panen, dan penataan kelembagaan petani,” pungkasnya. (591)