Demi Petani Sejahtera, Kementan Galakkan Pembentukan Korporasi

Selasa, 19 September 2017, 21:45 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman pada Rapat Koordinasi Perbenihan/Perbibitan di Bengkulu

AGRONET - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman minta agar Bengkulu fokus kepada pengembangan tanaman perkebunan sawit, karet dan kopi dengan  skala ekonomi agar pendapatan petani semakin tinggi.

Permintaan itu disampaikan Mentan pada Rapat Koordinasi Perbenihan/Perbibitan di Balai Raya Semarak, Bengkulu, Senin (18/9)."Fokus pada tiga komoditas akan memudahkan ahlinya memonitor dan mengawasi perkembangan tanaman tersebut", kata Menteri Amran di hadapan para bupati dan Kepala Dinas Pertanian se-Wilayah Bengkulu.

Menurut Mentan, dulu Kementan fokus pada padi, jagung dan kedelai (Pajale), walau hanya kedelai yang produksinya rendah. “Sekarang, Indonesia telah berswasembada beras. Jagung tidak impor lagi dan bawang merah  kita sudah ekspor ke Thailand,” katanya.

“Indonesia sudah dua tahun ini tidak lagi mengenal musim paceklik. Hingga kini pangan kita aman, stok beras 1.7 juta ton ada di Bulog,” ujar Mentan.

Sebagai solusi untuk meningkatkan pendapatan petani, Menteri Pertanian menyarankan agar dibuat koperasi yang bentuknya dikorporasikan dari beberapa koperasi petani. "Caranya adalah koperasi dikorporasikan. Ini dibuat perusahaan 20 persen, kemudian kerja sama, bisa 3 pabrik", ujar Amran.

Dengan demikian, petani dapat mengelola usaha taninya dengan baik dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri. Sebab, dengan bentuk korporasi akan memudahkan berhubungan dengan bank dalam penambahan modal. "Rakyat harus menikmati, kita layani, dan setiap jeritan rakyat, kita harus hadir di tengah mereka, jangan biarkan mereka jalan sendiri", sambungnya.

Mentan juga meminta para Kepala Dinas Pertanian yang hadir agar terus membina petani untuk meningkatkan produksinya. Komoditas kopi Indonesia saat ini berada di urutan nomor 4 setelah Brazil, Kolombia, dan Vietnam. Potensi kopi di Indonesia sangat mungkin untuk merajai dunia. " Vietnam produksinya 3 ton, kita 0,6 ton. Kalau naik 1 ton saja, kita masuk peringkat 2 dunia. alau kita naik 1,5 ton, jadi 2 ton, kita nomor 1 dunia. Kopi kita merajai dunia",ujar Amran dengan yakin. 

Pada kesempatan yang sama, Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menyampaikan bahwa saat ini Bengkulu yang terdiri dari 20 ribu meter persegi, 53 persennya merupakan kawasan produksi dan saat ini sedang digiatkan program intensifikasi pertanian untuk komoditas sawit dan karet.
 
“Peremajaan dilakukan karena mutu yang dipergunakan oleh masyarakat 60 persen dari kebun itu produktivitasnya rendah, sehingga diperlukan program replanting dan ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat Bengkulu. Ini tidak lain karena masyarakat saat membangun dengan bibit asal kebun kelapa sawit itu,” jelas Rohidin.

Dalam hal ini pemerintah daerah menyambut baik program Kementerian Pertanian untuk melakukan peremajaan perkebunan, khususnya perkebunan rakyat. "Kami yakin betul, kalau ini dilakukan, lahannya sangat subur. Rata-rata lokasi perkebunan itu dekat akses jalan, sehingga biaya transportasinya rendah", ujar Rohidin. Pihak pemda pun menyarankan agar petani menggunakan benih berkualitas.

Selain kelapa sawit, Bengkulu juga memiliki komoditas karet yang menjadi fokus. Kebun karet 90 persen adalah milik rakyat. Dalam waktu dekat akan mendirikan pabrik pengolahan karet. Ditambah lagi ada kopi yang menjadi komoditas unggulan. "Kopi juga untuk Bengkulu ini merupakan provinsi ketiga terbesar penghasil kopi. Maka, saya kira pengadaan bibit sawit, karet, kopi yang betul tersertifikasi", tambah Rohidin. (Biro Humas dan Informasi Publik, Kementan/018)