Industri Beras Nasional Lagi Naik Daun

Minggu, 08 Oktober 2017, 22:24 WIB

Kebijakan HET emmbuat harga beras menjadi stabil | Sumber Foto:Wikimedia

AGRONET - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mengeluarkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras. Kebijakan ini tidak hanya memberi dampak positif bagi industri perberasan nasional, tapi juga membuat harga beras stabil dan konsumen dapat menikmati harga yang lebih murah.

Kepala Pusat dan Sistem Informasi, Kementerian Pertanian, Suwandi menuturkan, setelah pemberlakuan HET, harga beras premium di ritel dan pasar modern wilayah Jakarta dan sekitarnya saat ini turun mencapai 50 persen. Harga beras yang semula Rp 22.000 hingga Rp 36.000 per kg, turun menjadi Rp 12.800 per kg.

”Sebagai pembanding, harga beras supermarket di Vietnam pada bulan September 2017 beras varietas Nang-Xuan Rp 15.185 per kg, Lai sua Rp 15.318 per kg, Tran chau Rp 16.916 per kg, Bac Tham Nam Dinh Rp 18.914 per kg, dan Dac San Thai Duong Rp 16.250 per kg, untuk nilai nilai kurs Rp 13.320 per USD,” ungkap Suwandi, yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik di Jakarta, Jumat (6/10).

Berdasarkan penelusuran Tim Kementan pada 1 Oktober, di beberapa supermarket di My Tho City, Provinsi Tien Giang, Vietnam, harga beras berkisar 11.400 hingga 24.000 Namdong. Harga tersebut setara dengan Rp 6.758 hingga 14.227 per kg. ”Dengan fakta ini, terlihat harga beras di Vietnam tidak jauh berbeda dengan Indonesia,” jelas Suwandi.

Stok beras Bulog saat ini mencapai 1,53 juta ton. Suwandi menilai stok tersebut aman untuk memenuhi kebutuhan beras hingga tujuh bulan ke depan yaitu hingga April 2018. Pada Februari-April 2018 akan panen raya padi. Sejak 2016, Indonesia sudah swasembada beras karena konsumsi beras sudah dipenuhi dari produksi dalam negeri.

”Indonesia sejak Januari 2016 hingga awal Oktober 2017 tidak mengeluarkan rekomendasi impor maupun izin impor beras medium,” tutur Suwandi. Lebih lanjut Suwandi menegaskan bahwa berdasarkan data BPS Januari hingga Agustus 2017, Indonesia melakukan impor beras sebesar 191 ribu ton. Ini bukan impor beras medium, tetapi beras pecah 100% (menir) sebesar 188 ribu ton dan sisanya berupa benih dan beras khusus.

”Beras khusus yang tidak diproduksi di dalam negeri seperti: Thai Hom Mali, Thai Jasmine Rice, Parboiled Rice, Basmati, dibutuhkan untuk restoran asing yang ada di Indonesia. Ekspor-impor jenis beras khusus ini wajar dalam perdagangan dunia karena tidak diproduksi di dalam negeri. Indonesia juga sudah ekspor beras merah, beras hitam, beras organik dan lainnya,” ujar Suwandi.

Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan komoditas pertanian Januari hingga Agustus 2017 surplus USD 10,98 miliar. Surplus ini diperoleh dari ekspor sebesar USD 22,18 miliar dikurangi impor sebesar USD 11,20 miliar. Surplus neraca perdagangan ini naik 101 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2016 surplus USD 5,46 miliar. Kontribusi terbesar surplus dari ekspor sawit dan karet, serta sebagian berasal dari penurunan impor pangan dan ada kenaikan ekspor pangan. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)

Caption