Jambi Berpotensi Jadi Lumbung Patin Nasional

Senin, 30 Oktober 2017, 23:08 WIB

Ketua komisi IV DPR RI, Edi Prabowo saat meninjau sentral kawasan budidaya patin di Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi | Sumber Foto:Humas DJPB

AGRONET – Provinsi Jambi dinilai memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya patin nasional. Dengan potensi pengembangan budidaya ikan air tawar yang besar, Provinsi Jambi dapat didorong menjadi lumbung ikan nasional, terutama komoditas patin.

Demikian disampaikan Ketua komisi IV DPR RI, Edi Prabowo saat meninjau sentral kawasan budidaya patin di Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, dalam rangkaian kunjungan kerja dalam rangka reses masa persidangan I tahun 2017-2018 di Jambi, Kamis (26/10). Turut serta dalam kunker tersebut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Wakil Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno.

Edi menegaskan, DPR sangat mendukung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terutama Ditjen Perikanan Budidaya yang konsisten menggenjot produksi perikanan budidaya nasional untuk menyuplai kebutuhan pangan nasional. ”Kami apresiasi perkembangan subsektor perikanan budidaya khususnya di Provinsi Jambi. Dukungan konkrit KKP telah memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha budidaya ikan guna memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Edi.

Edi menekankan, pemasaran hasil produksi patin perlu segera dilakukan tata niaga dengan memutus rantai distribusi pasar. Ia menyarankan Pemda turun tangan memfasilitasi terbentuknya kelembagaan koperasi disentral produksi patin yang bisa menjalin kemitraan langsung dengan industri pengolahan atau pasar modern, sehingga peluang pasar lebih terbuka luas.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyampaikan bahwa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri, KKP terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah. Menurutnya, strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik khas sesuai kondisi lokasi.

”Provinsi Jambi saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan patin nasional. Akan kita prioritaskan untuk kebutuhan domestik. Di hulu nanti akan kita genjot produksinya, sementara di sisi lain kita akan perbaiki sistem tata niaga dan hilirisasinya. Sehingga nilai tambah ekonomi patin dapat dirasakan masyarakat,” jelas Slamet.

Slamet juga mengungkapkan, kasus impor ilegal produk ikan patin/dori terbukti mengandung tripolyphosphate. Produk yang berasal dari Vietnam itu, dipastikan dapat menghilangkan kepercayaan konsumen terhadap produk patin Vietnam. Menurutnya, produk patin Vietnam akan turun drastis di pasar global. Tidak hanya itu, peluang ekspor fillet patin akan sangat terbuka lebar khususnya ke Amerika Serikat, seiring dikeluarkannya kebijakan negara Amerika Serikat untuk menghentikan impor patin dari Vietnam.

”Ini jadi peluang pasar buat produk patin lokal. Kita akan genjot produksi dan mendorong upaya diversifikasi produk seperti fillet/dori, sehingga bisa masuk ke pasar-pasar modern bahkan jika kebutuhan domestik terpenuhi kita bisa masuk pangsa pasar Amerika Serikat yang sebelumnya sekitar 90 persen dipasok dari Vietnam,” imbuhnya. Dalam kegiatan kunker juga dilakukan penyerahan berbagai bantuan langsung kepada pembudidaya untuk mendukung kegiatan usaha budidaya.

Dukungan tersebut antara lain: mesin pembuat pakan 2 unit; benih ikan 4,6 juta ekor; pakan mandiri 5 ton; sarana dan prasarana budidaya 12 paket; dan pengembangan minapadi seluas 10 hektar. (Humas DJPB/AFN/111)

 

BERITA TERKAIT