Dalam 3 Tahun, Produksi Padi, Jagung, dan Cabai Meningkat

Selasa, 02 Januari 2018, 16:54 WIB

Petani semakin sejahtera terlihat dari indikator kemiskinan di pedesaan Maret 2015 hingga Maret 2017 menurun 4,7%. | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET – Dalam tiga tahun, produksi padi, jagung, cabai, bawang merah terus meningkat. Peningkatan produksi 43 komoditas selama 2014 sampai 2016 memberikan nilai tambah Rp 318 triliun. Produksi yang meningkat mampu memberikan nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) Pertanian 2016 sebesar 3,25?n pada triwulan-II 2017 tumbuh 3,33% (y-o-y) dan 8,49 (q to q). Neraca perdagangan sektor pertanian Januari-November 2017 surplus USD 14,77 miliar lebih tinggi 56,3% dibandingkan periode 2016.  

Sejak 2016 sudah swasembada beras, cabai dan bawang merah serta 2017 swasembada jagung. Petani semakin sejahtera terlihat dari indikator kemiskinan di pedesaan Maret 2015 hingga Maret 2017 menurun 4,7%.

Swasembada Beras
Data BPS produksi padi pada ARAM-II 2017 sebesar 81,3 juta ton GKG naik dari sebelumnya 2016 sebesar 79,3 juta ton GKG dan 2015 sebesar 75,3 juta ton. Produksi 2017 naik 15,1% dibandingkan 2014. Produksi ini meningkatkan ketersediaan beras 45,5 ton sehingga surplus dibandingkan kebutuhan konsumsi sekitar 33 juta ton setiap tahunnya.

Surplus beras ini terkonfirmasi dengan data stok beras di Bulog November 2017 sebesar 1,16 juta ton cukup aman hingga April 2018 dan pada akhir Januari 2018 memasuki panen raya. Beras melimpah terkonfirmasi dari data stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tahun 2017 tinggi 2-3 kali lipat dibandingkan stok tahun 2012-2014. Selanjutnya data PIBC pada tiga bulan terakhir Oktober sampai Desember 2017, di mana stok beras Oktober 2017 sebanyak 53.196 ton lebih tinggi 28% dibandingkan periode sama 2016; November 2017 sebanyak 43.676 ton lebih tinggi 16%; dan Desember 2017 sebanyak 36.701 ton lebih tinggi 3,45?ri periode sama tahun 2016.

Kunci sukses swasembada beras ini berkat terobosan baru dalam membangun pertanian yakni: (1) sukses meminimalisir dampak El-Nino 2015 dan La-Nina 2016 sehingga produksi padi meningkat 5,2% saat El-Nino, (2) mengatasi paceklik musiman selama puluhan tahun diatasi dengan cara menanam padi sekitar 1 juta hektar per bulan Juli–September, hampir dua kali lipat dari luas tanam tahun-tahun sebelumnya, (3) membangun infrastruktur besar-besaran dan mekanisasi pertanian, (4) mengatur tata niaga pangan dengan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dan premium serta mengendalikan impor beras.

Hasil capaian ini terbukti pada saat Ramadhan dan Idul Fitri 2017 pasokan beras cukup dan harga stabil.  Kondisi ini tetap berlanjut sampai saat ini serta dipertahankan terus hingga masa mendatang. Kebijakan dan program ini turut melindungi dan menyejahterakan petani, konsumen menikmati harga lebih murah dan pedagang tetap eksis dengan keuntungan wajar. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)