Awal Tahun 2018, Awal Suram Perdagangan Kelapa Sawit

Rabu, 03 Januari 2018, 20:26 WIB

Indonesia masih menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi target mandatori biodiesel dalam negeri. | Sumber Foto:KBRN

AGRONET - Di awal 2018, Perdagangan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit terjadi penurunan harga. Ini disebabkan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) V tidak melakukan penjualan Crude Palm Oil (CPO). Padahal selama ini, harga jual PTPN V cukup berpengaruh terhadap pergerakan harga TBS.

Berdasarkan rapat penetapan harga TBS Provisni Riau untuk periode 3 sampai 9 Januari, Rabu (3/1) di Pekanbaru, berkesimpulan bahwa di awal tahun 2018 masih mengalami penurunan pada setiap kelompok umur. Terbesar terjadi pada kelompok umur 10–20 tahun yang mengalami penurunan sebesar Rp 11,64/kg atau mencapai 0,63?ri harga pekan lalu.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Ferry HC, walaupun mengalami penurunan namun harga TBS periode saat ini menjadi Rp 1.825/kg masih di atas harga ambang batas petani swadaya sebesar Rp 1.700/kg.

"Kami mengingatkan agar petani lebih berhemat dalam ongkos produksi perkebunan kelapa sawit, karena penurunan harga terus terjadi dari sebelumnya di atas Rp 2.000 lebih/kg," jelasnya. Secara nasional, produksi CPO Indonesia diperkirakan akan melambat karena kebijakan peremajaan perkebunan (replanting) kelapa sawit bagi petani kecil yang digagas oleh pemerintah.

Selain itu, Indonesia masih menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi target mandatori biodiesel dalam negeri dengan kadar 20%(B-20). Lain itu, adanya kebijakan yang dibuat pemerintah mengenai moratorium izin pembukaan lahan perkebunan baru yang akan memperlambat pertumbuhan perkebunan kelapa sawit dan produksi. (KBRN/111)