Strategi Kementan Stabilkan Harga Cabai dan Bawang

Selasa, 01 Januari 2019, 10:09 WIB

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, meninjau kebun cabai. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Pada momen tahun baru dan Natal tahun ini, komoditas cabai dan bawang terpantau stabil.  Ini sesuai denga harapan pemerintah untuk mengamankan pasokan dan harga pangan strategis.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, menjelaskan faktor kunci keberhasilan menjaga stabilitas pasokan adalah antisipasi katersediaan sejak 3 hingga 4 bulan sebelumnya. Untuk cabai dan bawang merah Kementan sudah jauh-jauh hari menyiapkan tambah tanam untuk persiapan hari-hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan tahun baru.

“Untuk bawang merah 2-3 bulan sebelumnya sudah bisa dirancang penambahan tanamnya. Untuk cabai 4-5 bulan sebelumnya sudah ditanam,” kata Suwandi di Jakarta, Senin (31/12).

Selain penjadwalan produksi, sambung Suwandi, Kementan saat ini menerapkan 10 langkah untuk menjamin stabilisasi pasokan dan harga. Langkah itu, seperti ekstensifikasi kawasan di luar Jawa, intensifkan teknologi pada sentra di Jawa, peningkatan kapasitas petani di luar Jawa , dan penggunaan benih biji untuk bawang merah (TSS) sehingga efisien biaya hingga 65 persen.

Menurutnya, ini adalah hasil kerja tim pemerintah bersama stakeholder terkait, Kemendag, Bulog, satgas pangan, dinas-dinas terkait, para pedagang, petani, dan lain-lain. “Langkah selanjutnya, penajaman manajemen dengan petani champion, mengatur pola tanam, dan pembentukan pasar lelang. Strategi lain, hilirisasi produk, teknologi penyimpanan,  dan perluasan ekspor,” bebernya.

Suwandi merinci, pasokan cabai besar pada periode Desember 2018 mencapai 105.915 ton dengan perkiraan kebutuhan 97.519 ton. Bulan Januari 2019 pasokan 73.872 ton dengan perkiraan kebutuhan 51.596 ton. Pasokan ke pasar Jabodetabek mencapai 40 ton/hari untuk cabai merah keriting dan 50 ton/hari untuk cabai rawit merah. Cabai dipasok dari sentra Cianjur, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Bandung, Temanggung, Magelang, Wonosobo, Banjarnegara, Blitar, Kediri, dan Banyuwangi.

Sementara itu, pasokan bawang merah periode Desember 2018 mencapai 92.840 ribu ton, kebutuhan 78.451 ton. Bulan Januari pasokan diprediksi meningkat 135.966 ton dengan kebutuhan 77.825 ton. Untuk Jabodetabek kebutuhan rata-rata Desember 2018 sebanyak 7.267 ton dan Januari 2019 sebanyak 6.937 ton. Pasokan bawang merah berasal dari Brebes, Kendal, Demak, Pati, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Garut, Bojonegoro, Probolinggo, Nganjuk, dan Solok.

Lebih jauh Suwandi mengatakan pemantauan harga di tingkat petani rata-rata di kisaran Rp16.411 per kilogram untuk bawang merah, cabai merah keriting Rp18.434, dan cabai rawit Rp21.319. Harga tersebut tidak berbeda jauh dengan akhir tahun lalu, di mana selama Desember 2017 harga rata-rata di tingkat petani untuk bawang merah Rp12.922, cabai merah keriting Rp23.132, dan cabai rawit Rp17.166.

Dia menambahkan, harga per kilogram cabai dan bawang di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta periode 1 sampai 31 Desember 2018 terpantau stabil jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rerata harga cabai besar Rp24.161, hampir sama dengan periode yang sama tahun 2017 lalu Rp24.137.

Kemudian, harga cabai rawit Rp23.935 per kg lebih tinggi dari tahun lalu Rp21.224. Harga bawang merah sepanjang Desember Rp19.339, sementara tahun lalu Rp 12.517. Bawang Putih bertengger stabil di harga Rp12.581, hampir sama dengan tahun lalu Rp12.327.

"Kenaikan bawang merah sifatnya sementara karena Januari nanti akan disusul panen raya. Petani bawang merah menikmati harga baik setelah sebelumnya jatuh," jelasnya.

Begitu juga dengan harga di tingkat retail pasar DKI Jakarta terpantau stabil rendah, yaitu bawang merah Rp29.683 per kg, cabai merah keriting Rp32.529, dan untuk cabai rawit Rp37.112. Harga ke tiga komoditas ini memang sedikit lebih tinggi dari tahun lalu, di mana harga bawang merah Rp17.820 per kg, cabai merah keriting Rp27.107 per kg, dan cabai rawit Rp22.806.

"Artinya pasokan cabai dan bawang merah, baik secara nasional maupun lingkup Jabodetabek sangat mencukupi. Pemerintah berkewajiban menjaga agar harga di konsumen tidak terlalu tinggi dan di sisi lain para petani pahlawan pangan kita juga mendapat keuntungan yang wajar,” tukas Suwandi. (591)