Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia)

Luas Lahan Kunci untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Jumat, 11 Januari 2019, 16:22 WIB

Siswono Yudo Husodo (tengah) dalam Bincang Asik Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat (11/1). | Sumber Foto: AGRONET

AGRONET -- Kementerian Pertanian sudah melakukan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya tersebut dapat dilihat dalam empat tahun terakhir, dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Pemerhati pertanian dan sekaligus politisi senior, Siswono Yudo Husodo, dalam acara Bincang Asik Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat (11/1), memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian yang telah membuat kebijakan pro petani. Menurutnya, sesuai data yang disampaikan kesejahteraan petani terus meningkat.

Meningkatnya kesejahteraan petani dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai tukar petani (NTP) pada Desember 2018 naik sebesar 0,04 persen menjadi 103,16 jika dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) nasional Desember 2018 sebesar 112,21 atau naik 0,26 persen dibandingkan NTUP bulan sebelumnya.

Namun demikian, Siswono tidak menampik realitas di lapangan bahwa masih ada petani yang belum sejahtera. Menurutnya, mayoritas masyarakat miskin di Indonesia adalah petani.

Mantan menteri transmigrasi itu menilai, kesejahteraan petani belum meningkat karena permasalahan kurangnya lahan pertanian. Dengan keterbatasan lahan dan semakin tergerus oleh sektor lain, kepemilikan lahan oleh petani semakin kecil. Sehingga usaha untuk membuat petani menjadi sejahtera sulit tercapai.

“Data sensus 2013 menunjukkan rata-rata rata luas lahan petani hanya 0,32 hektare. Luas lahan ini sangat kecil untuk membuat petani menjadi kaya, untuk menjadi sejahtera," ujar Siswono.

Untuk itu, dia mencermati agar kesejahteraan petani membaik maka perlu menambah luas lahan pertanian. Tantanganya, kata dia, untuk membuka lahan baru pertanian, tidak memungkinkan dilakukan di Pulau Jawa, karena semakin berkembangnya industri. Maka yang memungkinkan adalah daerah di luar Jawa.

"Peluang untuk perluasan lahan pertanian hanya ada di luar Pulau Jawa. Saya sangat menghargai usaha Kementan yang memanfaatkan rawa lebak. Potensinya di Indonesia ada 29 juta ha, baru dimanfaatkan 1 juta ha. Jadi potensinya sangat luar biasa,” ungkapnya. (591)