Kementan Pantau Pemanfaatan Alsintan di Sumsel

Sabtu, 09 Pebruari 2019, 15:14 WIB

Direktur Alsintan, Andi Nur Alam Syah, melakukan kunjungan kerja pemantauan optimalisasi pemanfaatan Alsintan di Sumsel. | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya agar penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Seperti pemanfaatan Alsintan, khususnya excavator yang diberikan untuk optimalisasi lahan rawa lebak dan pasang surut menjadi lahan sawah produktif di Sumatera Selatan.

Demikian diungkapkan Direktur Alsintan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan, Andi Nur Alam Syah, saat melakukan kunjungan kerja pemantauan optimalisasi pemanfaatan excavator di Sumsel, Sabtu (9/2).

Dia mengatakan Kementan telah menyalurkan bantuan excavator sebanyak 69 unit di Sumsel. Hasilnya, berdasarkan pantauan, bantuan tersebut bekerja optimal untuk pengerukan saluran irigasi yang mengalami pendangkalan, pembuatan jalan usaha tani, dan optimasi lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut.

"Pemantauan ini sesuai arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Alsintan dan excavator harus bekerja optimal sehingga lahan rawa menjadi lahan sawah produktif. Dengan demikian, produksi pangan khususnya beras nantinya kita berdaulat dan kesejahteraan petani meningkat. Bahkan dari lahan rawa kita bisa mencukupi pangan dunia," ujar Nur Alam.

Pada kesempatan itu, Kepala Desa Talang Rejo, Kecamatan Muara Talang, Banyuasin, Sumsel, Hendrik Kuswoyo, membeberkan pemanfaatan excavator. Menurutnya, dengan adanya excavator dapat memberikan hasil dan nilai tambah yang begitu besar bagi petani itu sendiri.

Hendrik menyebutkan dari 1 unit excavator dapat mengerjakan long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 m. Ini dapat mengairi sawah seluas 1.800 hektare dengan indeks pertanaman (IP) 200, yakni menanam padi 2 kali setahun. "Produktivitas padi yang tadinya 8,5 ton menjadi 13 ton per hektare untuk dua musim tanam. Jadi ada selisih 5 ton per hektare," bebernya.

"Sebanyak 5 ton gabah per hektare tersebut, nilainya mencapai Rp20 juta. Dengan demikian, dari total lahan 1.800 hektare, menghasilkan tambahan pendapatan bagi petani mencapai Rp 36 miliar. "Tambahan pendapatan ini untuk dua musim tanam," tambahnya.

Dia menjelaskan dalam pengerjaan optimalisasi lahan rawa menjadi lahan sawah produktif ini, pemerintah desa memanfaatkan dana desa untuk biaya BBM dan operator. Total dana desa mencapai Rp800 juta. Untuk membuat long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 m hanya Rp270 juta. "Dengan adanya bantuan excavator, pengerjaan ini bisa dilakukan hanya butuh waktu 2 bulan saja. Kalau tidak ada excavator bisa 5 tahun," jelasnya.

Kemudian, sambung Hendrik, jika tidak ada excavator, pengerjaan long storage tersebut juga membutuhkan dana Rp900 juta untuk sewa alat dan bahan bakar minyak Rp160 juta. Belum lagi biaya operator, per meternya Rp3 juta sehingga totalnya biaya operator untuk long storage sepanjang 20 km itu sebanyak Rp60 juta. "Jadi, jika tanpa bantuan excavator ini, total biaya yang dibutuhkan untuk sewa excavator dan biaya operasional untuk pembuatan long storage sepanjang 20 km dan lebar 2,5 meter sekitar Rp3,5 miliar," pungkasnya. (591)